Kasihan Nusron Wahid

Oleh: HM. Zahrul Azhar As'ad

Zahrul Azhar Asumta alias Gus Hans

Monwnews.com, Sungguh malang nasib Nusron Wahid. Di tengah cuaca politik yang terik, namanya mendadak menjadi bahan gunjingan yang paling renyah dikunyah publik. Bagaimana tidak kasihan? Sebagai seorang ksatria politik yang rekam jejaknya membentang panjang—mulai dari ruang rapat parlemen, panggung retorika Gerakan Pemuda Ansor, hingga kursi empuk Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala BPN—ia kini harus rela berbagi panggung dengan narasi yang jauh dari kata teduh.

Saya yang sedang berada di Negeri Tirai Bambu pun dibuat benar-benar terkejut mendengar sirkus politik ini. Jarak ribuan kilometer antara Beijing dan Jakarta rupanya terlalu pendek untuk membendung hebohnya kabar “gempa politik” dari tanah air. Siapa yang menyangka bahwa di saat saya sedang mengagumi kemajuan teknologi di Tiongkok, gawai saya justru bergetar hebat oleh notifikasi berita dari dalam negeri yang mengabarkan sang menteri masuk dalam radar “penjemputan” Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terkait OTT pengurusan HGB di Bogor senilai Rp106,3 miliar.

Tentu saja, kasihan sekali Nusron Wahid jika para penegak hukum yang terhormat tidak mengusut tuntas kasus ini sampai ke akar-akarnya. Jika perkara ini dibiarkan menggantung atau diselesaikan dengan metode “damai itu indah” tanpa transparansi total, nama baiknya akan selamanya tersandera oleh kabut prasangka rakyat jelata yang sudah telanjur gemar melakukan peradilan opini bahkan sebelum palu hakim sempat diketukkan.Ironi ini kian berlipat ganda ketika spekulasi liar kini bergeser menuding bahwa aliran dana fantastis tersebut digelontorkan secara rahasia untuk “menyuntik” para ketua Pengurus Cabang (PCNU) demi memengaruhi suara di Muktamar ke-35 NU Jombang. Sungguh sebuah skenario politik fiksi tingkat tinggi dari para penggosip. Mengaitkan urusan menjadi makelar tanah dengan operasi senyap memengaruhi suara pemilih Rais Aam jelas merupakan lompatan logika yang luar biasa dipaksakan, seolah-olah semua hal di negeri ini bisa disambung-sambungkan asalkan ada uangnya.

Maka dari itu, jika diperlukan demi terangnya panggung keadilan, aparat penegak hukum silakan saja memanggil dan menginterogasi para Ketua PCNU maupun Rais Syuriyah PCNU yang diindikasikan telah ikut mencicipi kucuran dana tersebut. Justru langkah hukum yang agresif ini menjadi hiburan yang dinanti agar semuanya menjadi terang benderang. Biarkan para pengurus daerah dimintai keterangan di ruang sterilisasi hukum, bukan untuk memperpanjang daftar tersangka, melainkan cara paling legal membuktikan secara hitam di atas putih siapa saja yang tangannya benar-benar tersengat oleh aliran dana panas ini.

Lebih lanjut, penderitaan politik sang menteri kian rumit karena banyak orang awam kurang piknik sejarah mengira ia adalah bagian dari trah darah biru Keluarga Wahid Hasyim dari Tebuireng, Jombang. Padahal, Pria asli Kudus ini tidak ada hubungan darah sama sekali dengan KH. Wahid Hasyim, Gus Dur, maupun Gus Sholah. Namun lucunya, selama ini Nusron tampaknya sangat menikmati kekeliruan publik tersebut karena menumpang nama besar dinasti Tebuireng di panggung politik tentu memberikan efek magis dan karisma kultural gratisan; meski sekarang apesnya, begitu diterpa isu korupsi, nama besar Tebuireng justru ikut terseret ke dalam kubangan lumpur akibat kesalahpahaman yang telanjur dipelihara dengan rapi.

Pada akhir kata, kita memang harus menaruh rasa kasihan yang mendalam pada Nusron Wahid di tengah pusaran sandiwara politik tanah air ini. Dari kejauhan di Negeri Tirai Bambu, Saya hanya bisa menonton sambil ngemil kuaci yg tidak mengandung minyak babi, berharap agar institusi hukum bekerja membuktikan secara tuntas siapa yang benar-benar bersih dan siapa yang sekadar lihai bersilat lidah. Publik juga akan tahu apakah para penggosip lah yg lihai membuat issue yg bombastis atau kelihaian nusron wahid yg memang melebih bom nagasaki. Hingga hari pembuktian itu tiba, tuduhan-tuduhan tanpa dasar ini hanyalah riak kecil yang mencoba mengaburkan kerja keras seorang menteri yang (infonya) sedang sangat sibuk menata bumi pertiwi.

XIamen Fujian China , 19 Spetember 2026

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *