GMNI Raden Wijaya UWKS dan FMIPA UNESA Surabaya Gelar Nobar & Diskusi Film “Pesta Babi”

GMNI Raden Wijaya UWKS bersama GMNI FMIPA UNESA menggelar nobar dan diskusi film dokumenter Pesta Babi di Surabaya.
GMNI Raden Wijaya UWKS bersama GMNI FMIPA UNESA menggelar nobar dan diskusi film dokumenter Pesta Babi di Surabaya.

Monwnews.com, Surabaya – GMNI Raden Wijaya UWKS bersama GMNI FMIPA UNESA sukses menyelenggarakan kegiatan nonton bareng dan diskusi film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita pada Rabu (13/5) pukul 17.00 WIB di sebuah kedai yang berlokasi di Jalan Gunung Sari No. 28, Surabaya. Kegiatan tersebut dihadiri sekitar 70 peserta dari berbagai kalangan mahasiswa dan organisasi kepemudaan.

Acara ini menghadirkan dua pemantik diskusi, yakni Haikal Sabil A selaku Gubernur BEM FISIP UWKS dan Rafi Nazhmi selaku Wakil Ketua BEM FEB UNESA. Diskusi berlangsung hangat dengan membahas isu kolonialisme modern, eksploitasi sumber daya alam, hingga dampak pembangunan terhadap masyarakat adat di Papua sebagaimana digambarkan dalam film dokumenter tersebut.

Peserta nobar dan diskusi film dokumenter Pesta Babi yang diselenggarakan GMNI Raden Wijaya UWKS dan GMNI FMIPA UNESA di Surabaya
Peserta nobar dan diskusi film dokumenter Pesta Babi yang diselenggarakan GMNI Raden Wijaya UWKS dan GMNI FMIPA UNESA di Surabaya

Dalam pemaparannya, Haikal Sabil menilai film Pesta Babi merupakan gambaran nyata mengenai bentuk baru perbudakan modern yang lahir akibat kemiskinan dan lemahnya perlindungan negara terhadap rakyatnya. Menurutnya, film tersebut memperlihatkan bagaimana manusia dapat kehilangan martabatnya dan dijadikan alat dalam sindikat penipuan digital lintas negara.

“Film Pesta Babi adalah sebuah potret brutal mengenai perbudakan modern yang lahir dari rahim kemiskinan dan kelalaian negara. Film ini mendeskripsikan betapa mudahnya manusia didehumanisasi menjadi sekadar alat peraup cuan dalam sindikat penipuan digital global,” ujar Haikal.

Ia juga menambahkan bahwa fenomena tersebut menjadi kritik keras terhadap pemerintah yang dinilai belum mampu menghadirkan kesejahteraan dan lapangan kerja yang layak bagi masyarakat. Akibatnya, banyak warga yang rentan menjadi korban eksploitasi di luar negeri karena tekanan ekonomi.

Sementara itu, Rafi Nazhmi menyoroti sisi lain dari film tersebut, terutama terkait dampak pembangunan dan deforestasi terhadap masyarakat adat di Papua. Menurutnya, film ini tidak hanya berbicara soal lingkungan, tetapi juga tentang hilangnya identitas dan rasa keadilan masyarakat adat akibat eksploitasi yang terus berlangsung.

“Film Pesta Babi menurutku bukan sekadar mengkritik pembangunan, tapi mengingatkan kalau setiap kebijakan pasti punya dampak ke manusia dan lingkungan. Dan sering kali, yang paling terdampak justru mereka yang suaranya paling jarang didengar,” ungkap Rafi.

Ia menambahkan bahwa hutan bagi masyarakat adat Papua bukan sekadar sumber ekonomi, melainkan bagian dari kehidupan dan identitas mereka. Karena itu, deforestasi yang terjadi tidak hanya menghilangkan pohon, tetapi juga menggerus hak hidup dan keadilan masyarakat adat di tanah Papua.

Melalui kegiatan nobar dan diskusi ini, GMNI Raden Wijaya UWKS dan GMNI FMIPA UNESA berharap mahasiswa semakin kritis dalam melihat berbagai bentuk kolonialisme modern yang masih terjadi hingga hari ini, sekaligus meningkatkan kepedulian terhadap isu kemanusiaan, lingkungan, dan keadilan sosial di Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *