Umum  

Pandangan Mata, Cermin Hati: Refleksi Sufistik tentang Kepemimpinan yang Lahir dari Batin

Oleh: H. Tri Prakoso - Perkumpulan Pendoa Nusantara

Monwnews.com, Di era yang sibuk menata citra, ada kebijaksanaan kuno yang berbicara lirih: apa yang tampak di matamu sesungguhnya adalah kabar dari hatimu. Enam bait syair tanpa nama yang ditelaah oleh para ahli tasawuf ini membawa kita pada perjalanan reflektif tentang integritas—sebuah kompas kehidupan yang relevan di tengah krisis kepemimpinan modern.

H. Tri Prakoso - Perkumpulan Pendoa Nusantara
H. Tri Prakoso – Perkumpulan Pendoa Nusantara

Suatu ketika, di sebuah majelis kecil di sudut kota, seorang guru tua bertanya kepada murid-muridnya: “Tahukah kalian, mengapa sebagian orang ketika menatap kita, hati ini terasa sejuk, sementara tatapan sebagian yang lain membuat kita ingin segera berpaling?”

Para murid terdiam. Sang guru melanjutkan, “Karena mata tidak pernah berbohong. Ia adalah juru bicara hati yang paling jujur.”

Pertanyaan sederhana itu menyimpan kedalaman yang barangkali jarang kita renungkan di tengah kesibukan zaman. Kita terbiasa menilai orang dari apa yang mereka katakan, dari jabatan yang mereka sandang, dari pencitraan yang mereka bangun di media sosial. Tetapi ada satu hal yang sering lolos dari perhatian: sorot mata. Caranya menatap, caranya berkedip, caranya meredup atau berbinar—semuanya bertutur tentang apa yang bersemayam di dalam dada.

Dalam tradisi tasawuf, hubungan antara mata dan hati ini bukanlah sekadar metafora puitis. Ia adalah ilmu yang dipelajari dengan sungguh-sungguh oleh para pencari Tuhan. Mereka menyebutnya firasat—kemampuan membaca tanda-tanda batin dari penampakan lahir. Dan inti dari firasat itu sederhana: mata adalah jendela hati. Jika hati bersih, mata akan memancarkan kesejukan. Jika hati keruh, mata akan memancarkan kegelapan.

Sebuah syair yang beredar di kalangan pencinta tasawuf kontemporer menangkap kebenaran abadi ini dalam bait-bait yang sederhana namun menusuk. Syair ini, yang oleh para peneliti ditelaah dengan merujuk pada kitab-kitab klasik seperti Jami’ul Ushul fil Auliya’ karya Maulana Ahmad Diyauddin al-Kamasykhanawi dan Hilyatul Auliya’ wa Thabaqatul Ashfiya’ karya Abu Nu’aim al-Ashfahani, berbicara tentang sesuatu yang sangat relevan dengan kehidupan kita hari ini: bahwa kepemimpinan sejati, keadilan, dan kemaslahatan bukanlah sekadar soal sistem atau retorika, melainkan tentang hati yang terawat dan memancarkan cahayanya ke seluruh anggota tubuh.

Mari kita selami enam bait syair ini satu demi satu, bukan sebagai teks kuno yang berdebu, melainkan sebagai kompas kehidupan yang hidup dan berbicara kepada kita di tengah kebisingan abad ke-21.

Ketika Mata Berbicara tentang Hati

Bait pertama syair itu berbunyi:

”Kesejukan dan kedamaian akan nampak jelas pada Pandangan Matamu, apabila pandanganmu menyentuh Rasa kasih dihatimu.”

Ada pengalaman universal yang mungkin pernah kita rasakan. Anda bertemu dengan seseorang untuk pertama kalinya—mungkin di acara keluarga, mungkin di ruang rapat, mungkin di kendaraan umum. Ia belum berbicara sepatah kata pun. Tetapi begitu mata Anda bertemu dengan matanya, sesuatu terjadi. Ada ketenangan yang aneh. Ada perasaan aman yang tidak bisa dijelaskan. Anda merasa nyaman, meskipun tidak tahu persis mengapa. Itulah yang dimaksud oleh bait ini: kesejukan dan kedamaian yang memancar dari pandangan mata.

Mengapa ini bisa terjadi? Para sufi menjelaskannya dengan konsep bashirah—mata hati. Manusia sesungguhnya memiliki dua mata: mata kepala yang melihat warna dan bentuk, serta mata hati yang melihat hakikat. Keduanya saling terhubung. Imam al-Ghazali dalam magnum opus-nya, Ihya’ Ulumuddin, menulis bahwa hati memiliki “pancaran” yang merembes ke seluruh tubuh. Ketika hati dipenuhi oleh mahabbah—cinta yang bersumber dari kedekatan dengan Tuhan—maka seluruh anggota tubuh, termasuk mata, akan memancarkan nur (cahaya). Sebaliknya, ketika hati kotor, pancaran itu meredup dan berubah menjadi kegelapan.

Kitab Hilyatul Auliya’, ensiklopedia kehidupan para wali yang ditulis oleh sejarawan dan ahli hadis Abu Nu’aim al-Ashfahani pada abad ke-5 Hijriyah, merekam banyak kesaksian tentang fenomena ini. Para tabi’in dan wali generasi awal Islam sering digambarkan memiliki wajah dan tatapan yang begitu teduh sehingga siapa pun yang memandang mereka langsung diingatkan kepada Allah. Mereka tidak perlu berkhotbah panjang-panjang; wajah mereka adalah ceramah yang hidup. Salah seorang saksi mata menuturkan tentang seorang wali, “Aku belum pernah melihat orang yang lebih sejuk pandangan matanya. Setiap kali aku menatapnya, hilang semua kegelisahanku.”

Apa rahasia di balik sorot mata yang sejuk itu? Bait pertama syair ini memberikan jawabannya: “apabila pandanganmu menyentuh Rasa kasih dihatimu.” Kasih dalam perspektif tasawuf bukan sekadar emosi sentimental. Ia adalah limpahan dari rahmah—kasih sayang Ilahi yang memenuhi hati seorang hamba sehingga ia memandang seluruh makhluk dengan cinta yang sama. Hati yang kosong dari dendam, iri, dan kebencian akan memproyeksikan pandangan yang teduh. Seperti telaga jernih yang memantulkan langit biru tanpa distorsi, demikianlah hati yang bersih memantulkan cahaya Ilahi melalui sorot matanya.

Namun syair ini tidak berhenti pada potret yang indah. Ia langsung menyambung dengan peringatan yang menggetarkan pada bait kedua:

”Apabila pandanganmu menyentuh Rasa Iri dengki dan dendam dihatimu maka kebencian dan kelicikan akan nampak jelas pada pandangan matamu.”

Jika bait pertama adalah taman, bait kedua adalah cermin yang tidak bisa kita hindari. Ia memaksa kita untuk jujur: adakah hasad, dendam, dan iri yang bersembunyi di dalam hati? Dan jika ada, sadarkah kita bahwa racun itu tidak akan bisa disembunyikan selamanya?

Dalam psikologi tasawuf, hasad atau iri dengki adalah penyakit hati yang paling merusak. Rasulullah Saw. memperingatkan dengan bahasa yang sangat keras: “Jauhilah hasad, karena hasad memakan kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar.” (HR. Abu Dawud). Mengapa hasad diibaratkan api? Karena ia membakar dari dalam: membakar ketenangan, membakar kewarasan, membakar persaudaraan. Orang yang hasad tidak akan pernah menikmati hidupnya sendiri karena ia selalu sibuk membandingkan dan menghitung apa yang dimiliki orang lain. Hidupnya adalah siksaan yang tak berujung.

Yang lebih mengerikan, hasad dan dendam tidak bisa dikurung dalam hati. Ia akan mencari jalan keluar. Salah satu pintu keluarnya adalah mata. Sorot mata orang yang pendendam memiliki karakteristik yang khas: tajam, dingin, menusuk, dan kadang-kadang disertai senyum yang tidak sampai ke mata—apa yang oleh para ahli firasat disebut sebagai “senyum palsu”, senyum yang hanya gerakan bibir sementara mata tetap membeku.

Hilyatul Auliya’ mencatat nasihat berharga dari para salaf tentang bahaya menyimpan dendam dan iri di hati. Seorang tabi’in agung bernama Muhammad bin Sirin berkata, “Aku tidak pernah iri kepada siapa pun atas perkara dunia. Jika ia di surga, bagaimana aku iri kepada ahli surga? Jika ia di neraka, bagaimana aku iri kepada ahli neraka?” Logikanya sederhana tetapi dalam: iri tidak pernah menguntungkan siapa pun. Ia hanya merusak hati si pencemburu, sementara orang yang dicemburui baik-baik saja.

Di zaman media sosial, penyakit hasad ini menemukan habitat yang paling subur. Kita setiap hari disuguhi “highlight reel” kehidupan orang lain: liburan mewah, pencapaian karier, kehidupan keluarga yang tampak sempurna. Dan tanpa sadar, hati mulai berbisik: “Mengapa dia, bukan aku?” Bisikan itu, jika tidak segera dibersihkan, akan mengendap menjadi hasad. Dan pada saatnya nanti, ia akan terpancar—mungkin bukan dalam bentuk kebencian yang terang-terangan, tetapi dalam bentuk komentar sinis, cibiran halus, atau sekadar tatapan yang kehilangan kehangatannya.

Tangan: Kekuasaan yang Bisa Berubah Menjadi Rupa Setan

Bait ketiga syair ini memasuki wilayah yang sangat relevan dengan kehidupan sosial dan politik kita:

”Tanganmu adalah lambang kekuasaan dan perlindungan ALLAH yang ada dalam hatimu dan sudah menjadi keharusan kita semua untuk Menjaga hati dari Kesyirikan yang selalu menawarkan sebuah perlindungan.”

Tangan dalam Al-Qur’an sering digunakan sebagai simbol kekuasaan (qudrah) dan perlindungan (himayah). Ketika Al-Qur’an menyebut “Tangan Allah di atas tangan-tangan mereka” (QS. Al-Fath: 10), para mufasir menjelaskan bahwa itu adalah metafora tentang kekuasaan dan pertolongan Allah yang melampaui segala kekuatan manusia. Tangan manusialah yang bekerja, berjuang, dan melindungi, tetapi kekuatan sejati di baliknya adalah milik Allah.

Bait ini mengajarkan tauhid praktis: bahwa tangan yang kau gunakan untuk bekerja, untuk mencari nafkah, untuk melindungi keluargamu, pada hakikatnya adalah “lambang kekuasaan dan perlindungan Allah yang ada dalam hatimu.” Artinya, hati yang bertauhid melihat tangannya bukan sebagai sumber daya yang independen. Ia sadar bahwa kemampuannya memegang, membangun, dan melindungi adalah titipan yang akan dimintai pertanggungjawaban.

Di sinilah kita sampai pada peringatan yang sangat serius: “menjaga hati dari Kesyirikan yang selalu menawarkan sebuah perlindungan.”

Apa yang dimaksud dengan kesyirikan yang menawarkan perlindungan? Dalam studi tasawuf, ini dikenal sebagai syirik khafi—syirik yang tersembunyi, yang lebih halus dari semut hitam di atas batu hitam di malam yang gelap. Bentuknya bisa sangat samar. Ketika seseorang bergantung sepenuhnya kepada tabungannya dan merasa aman karena saldo rekeningnya besar, di situ ada syirik khafi. Ketika seseorang merasa terlindungi karena memiliki koneksi dengan pejabat tinggi, di situ ada syirik khafi. Ketika seseorang menyandarkan hidupnya kepada jimat, azimat, atau “orang pintar”, di situ ada syirik yang lebih nyata.

Bukan berarti menabung atau membangun koneksi itu dilarang. Yang menjadi masalah adalah ketika hati bergantung kepada hal-hal itu, merasa bahwa perlindungan sejati datang darinya, bukan dari Allah. Jami’ul Ushul fil Auliya’, kitab yang mengupas sifat-sifat para wali dan tangga spiritual mereka, menempatkan tauhid sebagai fondasi kewalian yang paling dasar. Tanpa tauhid yang murni, semua amal saleh bagaikan bangunan tanpa fondasi. Para wali, menurut al-Kamasykhanawi, adalah manusia-manusia yang paling keras melawan syirik khafi dalam diri mereka. Mereka bukan hanya takut menyembah berhala, tetapi juga takut “menyembah” tabungan, “menyembah” jabatan, “menyembah” popularitas.

Di zaman yang serba materialistik ini, “perlindungan palsu” itu muncul dalam berbagai bentuk: asuransi, investasi, koneksi politik, pencitraan, kekuasaan. Semua halal dan bahkan dianjurkan selama tidak menjadi tempat bergantungnya hati. Tetapi ketika hati mulai berbisik, “Aku aman karena aku punya ini,” tanpa menyadari bahwa Allah-lah yang memberi dan bisa mencabut kapan saja, di situlah bahaya mengintai.

Tangan yang lahir dari hati yang syirik—yang mengandalkan selain Allah—akan berubah fungsi. Ia tidak lagi menjadi lambang perlindungan, melainkan menjadi alat keserakahan. Inilah tangan-tangan koruptor yang mengambil yang bukan haknya. Tangan-tangan pemimpin zalim yang menandatangani kebijakan yang menyengsarakan rakyat. Tangan-tangan pengusaha yang mengeksploitasi buruh. Semua bermula dari hati yang telah bergeser tauhidnya.

Kaki: Belajar Berdiri dengan Tawakal

Bait keempat syair ini melanjutkan refleksi tentang anggota tubuh:

”Kakimu Adalah lambang kekuatan dan kemandirian jiwamu, berserah dirilah pada Allah untuk mengembangkan ketenangan dan kesabaran dalam jiwamu, semoga tercipta kemandirian dalam dirimu, dan dengan kemandirianmu adalah sama dengan menegakkan keadilan pada dirimu.”

Kaki dalam simbolisme sufi melambangkan istiqamah—keteguhan berdiri di jalan yang lurus. Ia juga melambangkan kekuatan dan kemandirian: kemampuan untuk melangkah tanpa harus dipapah, kemampuan untuk berdiri tegak meskipun badai menerjang. Seorang salik yang sejati adalah pribadi yang mandiri, bukan beban bagi orang lain.

Tetapi ada paradoks yang indah di sini. Perhatikan bagaimana syair ini menyusun logikanya: berserah dirilah pada Allah untuk mengembangkan ketenangan dan kesabaran dalam jiwamu, semoga tercipta kemandirian dalam dirimu. Secara awam, “berserah diri” dan “kemandirian” tampak bertentangan. Bukankah berserah diri berarti pasrah dan tidak berusaha? Bukankah kemandirian berarti mengandalkan diri sendiri?

Tasawuf menyelesaikan paradoks ini dengan elegan: berserah diri kepada Allah—yang disebut tawakal—adalah justru pintu menuju kemandirian sejati. Mengapa? Karena orang yang bertawakal hanya menggantungkan hatinya kepada Allah. Ia tidak butuh menjilat, tidak butuh merendahkan diri di depan penguasa, tidak takut kehilangan popularitas. Ia merdeka. Sedangkan orang yang tidak bertawakal, hatinya tersebar ke seribu arah: takut kepada atasan, cemas kehilangan jabatan, gelisah tentang masa depan, sibuk mengambil hati sana-sini. Hidupnya adalah penjara yang dibangun oleh dirinya sendiri.

Imam al-Qusyairi dalam ar-Risalah al-Qusyairiyyah menjelaskan tawakal sebagai “melemparkan diri dalam kehambaan dan menyerahkan segala urusan kepada Rububiyyah Allah.” Ini bukan berarti tidak berusaha. Orang yang bertawakal tetap bekerja keras—tetapi hatinya tidak diikat oleh hasil. Ia berusaha maksimal, lalu memasrahkan hasilnya kepada Allah. Jika berhasil, ia bersyukur dan tidak sombong. Jika gagal, ia ridha dan tidak putus asa. Inilah yang melahirkan ketenangan dan kesabaran jiwa, dua fondasi kemandirian yang kokoh.

Puncak dari bait ini terletak pada kalimat terakhir: “dengan kemandirianmu adalah sama dengan menegakkan keadilan pada dirimu.” Apa artinya menegakkan keadilan pada diri sendiri? Dalam psikologi sufi, diri manusia terdiri dari tiga kekuatan: akal, syahwat (keinginan), dan amarah. Adil pada diri sendiri berarti menempatkan akal sebagai pemimpin yang mengendalikan syahwat dan amarah, bukan sebaliknya. Orang yang dikuasai oleh syahwat adalah orang yang zalim terhadap dirinya sendiri, karena ia memperbudak akalnya di bawah keinginannya. Orang yang dikuasai oleh amarah adalah orang yang zalim terhadap dirinya sendiri, karena ia membiarkan emosi buta yang merusak.

Adil pada diri sendiri adalah kedaulatan akal dan hati nurani atas seluruh potensi diri. Hanya orang yang adil pada dirinya sendiri yang bisa adil kepada orang lain. Pemimpin yang zalim kepada rakyatnya sesungguhnya telah lebih dulu zalim kepada dirinya sendiri: ia membiarkan syahwat kekuasaan mengalahkan akal sehatnya, dan membiarkan amarah serta ketamakan mengambil alih kendali.

Kepemimpinan: Antara Amanah dan Rupa Setan

Bait kelima dan keenam adalah inti dari syair ini, yang membawa seluruh refleksi personal ke arena publik:

”Ingatlah engkau adalah pemimpin di muka bumi, menjaga keutuhan itulah yang harus dilakukan, menegakkan keadilan dan memberi pengayoman supaya tercipta kemaslahatan, janganlah menciptakan kerusakan-kerusakan yang akan membawa kemudlorotan.”

Dan bait penutupnya, yang paling keras dan paling menggetarkan:

”Kekuasaan dan kekuatan yang ada padamu itu adalah Amanah dari Tuhanmu, jangan sampai kekuatan dan kekuasaan yang ada padamu, engkau jadikan rupa syaitan yang selalu menghidupkan kedloliman.”

Panggilan ini bergema dari ujung sejarah: manusia adalah khalifah, wakil Allah di muka bumi. Dalam Al-Qur’an, ketika Allah hendak menciptakan Adam, Dia berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” (QS. Al-Baqarah: 30). Para malaikat bertanya—bukan untuk membantah, melainkan untuk memahami—mengapa Allah menciptakan makhluk yang akan membuat kerusakan dan menumpahkan darah. Allah menjawab dengan firman yang penuh wibawa: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”

Manusia adalah makhluk paradoks. Ia bisa menjadi lebih mulia dari malaikat, tetapi juga bisa lebih hina dari binatang. Kuncinya adalah bagaimana ia mengelola amanah yang dipundaknya. Amanah itu adalah akal, hati nurani, dan kemampuan untuk memilih—hal-hal yang tidak diberikan kepada makhluk lain.

Bait kelima menguraikan isi amanah itu dengan sangat konkret: menjaga keutuhan, menegakkan keadilan, memberi pengayoman, menciptakan kemaslahatan, dan mencegah kerusakan. Ini bukan hanya tugas para pemimpin formal—presiden, menteri, atau kepala daerah. Setiap manusia adalah pemimpin, sebagaimana sabda Rasulullah Saw.: “Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.” (HR. Bukhari dan Muslim). Seorang suami adalah pemimpin dalam rumah tangganya. Seorang ibu adalah pemimpin bagi anak-anaknya. Seorang guru adalah pemimpin di kelasnya. Bahkan seorang individu adalah pemimpin bagi dirinya sendiri.

Menjaga keutuhan berarti memelihara persatuan, tidak memecah-belah, tidak menebar kebencian yang merobek jalinan sosial. Menegakkan keadilan berarti memberikan hak kepada yang berhak, tanpa memandang suku, agama, atau status sosial. Memberi pengayoman berarti menjadi pelindung bagi yang lemah, bukan menjadi predator yang memangsa mereka. Menciptakan kemaslahatan berarti setiap kebijakan dan tindakan harus bermuara pada kebaikan bersama, bukan kepentingan pribadi atau golongan. Dan mencegah kerusakan berarti menolak semua bentuk ifsad—perusakan lingkungan, perusakan moral, perusakan tatanan sosial.

Namun bait keenam menyodorkan peringatan yang sangat serius dan meresahkan: kekuasaan dan kekuatan bisa berubah menjadi “rupa syaitan yang menghidupkan kedloliman.”

Ini bukan bahasa kiasan yang berlebihan. Sejarah manusia adalah saksi betapa seringnya kekuasaan berubah menjadi monster yang mengerikan. Firaun, Namrud, Hitler, Pol Pot—mereka semua memulai dengan kekuasaan yang sah, tetapi mengakhirinya dengan genosida dan tirani. Apa yang terjadi? Apa yang mengubah seorang pemimpin menjadi “rupa setan”?

Para sufi menjelaskan: hubb al-jah, cinta kedudukan, dan hubb al-riyasah, cinta kekuasaan. Kedua penyakit hati ini disebut oleh Imam al-Ghazali sebagai penyakit yang paling sulit disembuhkan, lebih sulit daripada cinta harta. Mengapa? Karena cinta kekuasaan menyentuh ego manusia yang paling dalam: kebutuhan untuk diakui, dihormati, ditakuti, dan ditaati. Ketika seorang pemimpin mulai menikmati semua itu, ia akan mempertahankannya dengan segala cara. Kritik dianggap ancaman. Oposisi dianggap musuh. Media yang berbeda suara dianggap pengkhianat. Perlahan-lahan, kekuasaan yang tadinya adalah amanah berubah menjadi alat penindasan.

Dan semuanya bermula dari hati. Bait ketiga sudah memperingatkan: “menjaga hati dari kesyirikan yang selalu menawarkan sebuah perlindungan.” Hati yang tidak terjaga akan menganggap kekuasaan sebagai sumber perlindungan. “Selama aku berkuasa, aku aman.” Itulah kesyirikan. Dan dari hati yang syirik itulah lahir “rupa syaitan” yang menghidupkan kezaliman.

Sebaliknya, hati yang bertauhid—yang menyadari bahwa kekuasaan adalah titipan dan bahwa Allah bisa mencabutnya kapan saja—akan melahirkan pemimpin yang rendah hati, adil, dan berorientasi pada pelayanan. Dalam Hilyatul Auliya’, kita menemukan potret pemimpin semacam ini dalam diri Umar bin Abdul Aziz, khalifah kelima yang saleh. Ketika diangkat menjadi khalifah, ia justru menangis. Ia pulang ke rumah dan berkata kepada istrinya, “Aku telah dipikuli amanah yang sangat berat. Lepaskan aku dari beban ini.” Ia menjual aset-aset pribadinya dan menyerahkannya ke baitul mal. Ia memimpin hanya dua setengah tahun, tetapi dalam waktu singkat itu, keadilan dan kemakmuran begitu melimpah sehingga para petugas zakat kesulitan mencari orang miskin yang layak menerima zakat.

Apa beda Umar bin Abdul Aziz dengan para penguasa zalim sepanjang sejarah? Bedanya bukan pada sistem, bukan pada era, bukan pada sumber daya. Bedanya adalah pada hati. Hatinya terjaga, sehingga kekuasaan di tangannya tetap menjadi amanah, tidak berubah menjadi rupa setan.

Refleksi: Dari Mata ke Mata, Dari Hati ke Hati

Enam bait syair ini, secara menakjubkan, membentuk sebuah peta perjalanan yang utuh. Ia dimulai dari mata—organ yang paling kasat mata dan paling mudah dinilai orang lain. Dari mata, ia masuk ke hati—tempat bersemayamnya cinta atau kebencian, kasih atau hasad. Dari hati, ia menjalar ke tangan—organ kekuasaan dan perlindungan yang bisa menjadi alat kebaikan atau keserakahan. Dari tangan, ia melangkah ke kaki—lambang kemandirian dan keteguhan yang hanya bisa dicapai melalui tawakal kepada Allah. Dari kaki, ia naik ke kesadaran kepemimpinan—bahwa setiap manusia adalah pemimpin yang harus menjaga keutuhan, menegakkan keadilan, dan menolak kerusakan. Dan akhirnya, ia sampai pada peringatan paling keras: jangan biarkan amanah itu berubah menjadi rupa setan yang menghidupkan kezaliman.

Syair ini mengajarkan integritas dalam arti yang paling fundamental. Integritas bukan sekadar kejujuran dalam laporan keuangan atau konsistensi antara ucapan dan tindakan. Integritas adalah keutuhan antara lahir dan batin—antara apa yang tampak di mata, tangan, dan kaki, dengan apa yang tersembunyi di dalam hati.

Dunia modern seringkali memisahkan keduanya. Kita diajarkan untuk mengelola penampilan, mengelola citra, mengelola personal branding. Media sosial adalah panggung raksasa tempat setiap orang bisa memerankan karakter yang ia inginkan, terlepas dari kenyataan batinnya. Orang yang hatinya penuh amarah bisa tampil dengan kata-kata bijak. Orang yang tangannya korup bisa memasang foto bersama anak yatim. Orang yang hatinya hasad bisa menulis komentar pujian yang manis. Tetapi mata? Mata tidak bisa berbohong. Suatu saat, kepalsuan itu akan terpancar, dan orang yang peka akan menangkapnya.

Di sinilah syair ini menjadi sangat relevan sebagai kompas kehidupan. Ia memanggil kita untuk berhenti mengelola pencitraan dan mulai mengelola hati. Karena sehebat apa pun Anda mengelola pencitraan, apa yang ada di hati akan tetap mencari jalannya sendiri untuk tampil ke permukaan. Jika hati bersih dari hasad dan dendam, pandangan mata akan teduh tanpa usaha. Jika hati bertauhid, tangan akan adil tanpa dibuat-buat. Jika hati merdeka, kaki akan tegak tanpa dipaksakan. Jika hati penuh rahmah, kepemimpinan akan membawa maslahat tanpa pencitraan.

Barangkali, di tengah krisis kepemimpinan yang kita saksikan hari ini—ketika begitu banyak pemimpin yang gagal, begitu banyak yang berubah menjadi “rupa setan”—pesan paling mendasar dari syair ini adalah: perbaiki dulu hatimu. Segala macam pelatihan kepemimpinan, seminar motivasi, dan kursus manajemen tidak akan berarti apa-apa jika hati masih dipenuhi oleh cinta dunia dan kesyirikan yang tersembunyi. Kepemimpinan sejati bukanlah keterampilan yang bisa dipelajari dalam tiga hari seminar. Ia adalah buah dari perjalanan panjang membersihkan hati, menundukkan syahwat dan amarah, dan menyandarkan seluruh hidup kepada Allah.

Begitu pula bagi kita yang bukan pemimpin formal. Dalam skala kita masing-masing—sebagai orang tua, sebagai pasangan, sebagai profesional, sebagai anggota masyarakat—prinsip yang sama berlaku. Apakah pandangan mata kita sudah memancarkan kesejukan ataukah justru ketajaman yang menusuk? Apakah tangan kita sudah menjadi lambang perlindungan ataukah alat keserakahan? Apakah kaki kita sudah mandiri karena bertawakal ataukah masih gemetar karena bergantung kepada makhluk? Apakah kekuasaan kecil yang kita miliki—atas anak, atas bawahan, atas aset—kita jaga sebagai amanah atau mulai berubah menjadi rupa setan kecil yang menindas?

Pertanyaan-pertanyaan ini tidak ada habisnya, dan jawabannya hanya bisa ditemukan dalam keheningan, ketika kita berhenti berbicara dan mulai mendengarkan hati sendiri. Semoga Allah selalu memberi tuntunan, sebagaimana ditutup oleh syair ini.

Wallahu a’lam bi ash-shawab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *