Monwnews.com, Dalam Kajian Filsafat Teologi di perspektif teologi salah satu entitas agama , ungkapan tsb dikaitkan dengan peringatan spiritual agar tetap rendah hati meski naik status, seperti kisah Simeon yang tua dan sederhana bertemu Urusan Suci di Bait Gusti Allahnya tanpa arogansi.
Agamawan dari desa pelosok ( kere materi kaya adab ) yang jadi pemimpin kota sering dikritik sebagai kere munggah bale jika terlena harta, gadget, dan atau status, lupa on going conversion dan atau atas kesetiaan iman.
Hal Ini menguji keberanian batiniah dalam naik bale tapi tetap lurus/tafs , bukan jadi gumedhe ( sok hebat ), sejalan dengan tema dialog teologi-filsafat tentang wahyu dan serta kerendahan pengelolaan Rhasa ataupun dihati.
Makna Positif vs Negatif dimana secara negatif, hal ini sindiran untuk kaum terlahir bergenetika resesif yang selalu menyalahgunakan panggung demi kepentingan pribadi ( aji mumpung ), akhirnya wirang ( memalukan ).
Positifnya, menjadi tetap tidak gampang kagetan maupun gampang terheran-heran mamun tetap trus menggatang cita menikmatinya kesengsaraan atas nama manusia sahaja ( bukan istilah njawani ‘hanya berhenti sebagai seonggok wong-wongan’ ) maupun trus tersenyum, semangat dengan siapapun darimanapun berhak naik maupun menurun dan serta harus bersuara, asal tetap cerdas tangkas dan serta tahu waktu KU dikerendahan pengelolaan hati serta dalam kecerdasan emosi
Dalam disipilin filsafat teologi, hal ini cambuk atas disiplin bernama adab moral agar derajad duniawi maupun keseimbangan surgawi tetap bersedekah senyuman ngilmu, dan serta tak lupakan panggilan ilah.
#salamsatujiwa
#salamnusantaratersenyum
🏃🏽♂️🏃♀️🙃🫣🤗🇮🇩🇮🇩🇮🇩












