Wahabisme, Perang Dingin, dan Mesin Hipokrisi Barat

Oleh: Kus Bachrul SH. - Alumni Fakultas Hukum Universitas Jember, Ksatria Merah Jambu Foundation

Monwnews.com, Ketika Mohammed bin Salman mengakui bahwa ekspor Wahabisme Saudi dulu didorong kepentingan sekutu Barat untuk membendung Soviet, satu mitos lama runtuh: bahwa ekstremisme selalu lahir dari “Islam” semata, bukan dari laboratorium geopolitik global.

H. Kus Bachrul - Pendoa Nusantara
H. Kus Bachrul – Pendoa Nusantara

Ada ironi yang terlalu lama dibiarkan hidup dalam politik global. Barat gemar berbicara tentang “ekstremisme Islam” seolah ia turun dari langit, tumbuh dari kitab, dan meledak dari gurun tanpa sejarah. Seolah-olah ia lahir murni dari teologi, bukan dari uang, perang, patronase, operasi intelijen, rezim-rezim sekutu, dan kebutuhan strategis imperium. Seolah dunia Islam adalah pabrik musuh yang berdiri sendiri, tanpa insinyur, tanpa sponsor, tanpa arsitek global.

Karena itu, pengakuan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman—bahwa investasi Saudi dalam masjid dan madrasah luar negeri berakar pada Perang Dingin, ketika sekutu meminta Riyadh memakai sumber dayanya untuk mencegah penetrasi Soviet di negara-negara Muslim—harus dibaca sebagai sesuatu yang lebih besar dari sekadar klarifikasi sejarah. Itu adalah celah kecil yang membuka ruang pandang besar: ekstremisme modern bukan hanya cerita tentang doktrin, melainkan juga cerita tentang negara, kepentingan, dan proyek geopolitik global. Pengakuan itu memang bukan seluruh kebenaran, tetapi cukup untuk menelanjangi satu kemunafikan besar. 

Bila ditarik ke perdebatan sebelumnya tentang pernyataan Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth yang menyapu “Sunni atau Syiah” ke horizon musuh yang sama, maka gambarnya makin terang. Hegseth menunjukkan wajah mutakhir dari politik Barat: dunia Islam kembali dibaca sebagai spektrum ancaman yang bisa diratakan. Sementara MBS, sadar atau tidak, membuka salah satu akar sejarahnya: sebagian medan ideologis yang kini disebut “musuh Islamis” itu dulu justru diperluas dengan restu, kebutuhan, dan kepentingan blok Barat sendiri. Dalam bahasa lebih lugas: Barat sedang memerangi sebagian bayangan yang dulu ikut ia pelihara. 

Masalahnya, pengakuan MBS tidak boleh diterima secara polos. Seperti banyak pemimpin yang sedang mendandani negaranya untuk proyek “rebranding”, ia mengakui secukupnya dan menyangkal secukupnya. Ia benar ketika mengatakan bahwa penyebaran paham keagamaan keras Saudi tak bisa dipisahkan dari konteks anti-Soviet. Tetapi ia juga sedang menggeser pusat tanggung jawab: seolah kerajaan hanya menjalankan permintaan sekutu, lalu generasi Saudi hari ini tinggal menanggung warisan buruk dari masa lalu. Ini narasi yang setengah jujur. Sebab Saudi bukan sekadar alat. Saudi juga aktor yang punya kepentingan ideologis, simbolik, dan geopolitik sendiri. 

Itulah mengapa isu ini penting. Kita sedang membicarakan bukan sekadar “siapa salah”, melainkan bagaimana dunia modern memproduksi musuh. Dan produksi musuh itu jarang berlangsung secara jujur. Ia selalu dibungkus moralitas, lalu digerakkan oleh kepentingan.

Agama Sebagai Senjata Cadangan Imperium

Sejarah Perang Dingin menunjukkan bahwa Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya tidak pernah terlalu konsisten soal demokrasi, pluralisme, atau moderasi, selama musuh utamanya masih bisa dipukul. Dalam lanskap itu, agama tidak selalu dipandang sebagai ancaman. Pada fase tertentu, ia justru dipakai sebagai benteng. Islam yang anti-komunis, anti-kiri, anti-sekuler, dan anti-Soviet dianggap berguna. Saudi, dengan uang minyak, status penjaga dua kota suci, dan jaringan dakwah yang bisa dibangun lintas negara, menjadi mitra ideal untuk proyek semacam ini.

Di sinilah ucapan MBS masuk akal secara historis. Riyadh memang menemukan fungsi geopolitiknya yang besar ketika agama dijadikan instrumen membendung komunisme di dunia Muslim. Masjid, madrasah, beasiswa, buku, guru, jaringan ulama, dan lembaga dakwah bukan sekadar proyek keagamaan; mereka adalah infrastruktur pengaruh. Begitu dana mengalir, pengaruh juga mengalir. Begitu ajaran tertentu dipaketkan sebagai ortodoksi, varian Islam lain pelan-pelan didorong ke tepi. Proyek anti-Soviet lalu berjumpa dengan proyek penyeragaman keagamaan. Dan seperti biasa, yang lahir bukan sekadar “pertahanan ideologis”, melainkan ekosistem baru yang jauh lebih sulit dikendalikan. 

Inilah kecacatan klasik kebijakan luar negeri imperium: ia mengira bisa meminjam kekuatan sosial tanpa memikul konsekuensi jangka panjangnya. Negara besar selalu merasa bisa menggunakan ideologi tertentu secara terbatas—sampai ideologi itu tumbuh akar sendiri, membangun kader sendiri, membentuk bahasa sendiri, dan akhirnya bergerak melampaui kepentingan sponsor awalnya.

Perang Dingin mengajari kita satu hal pahit: ketika agama dipersenjatai untuk menghantam komunisme, yang tercipta bukan sekadar benteng antikiri. Yang tercipta adalah pasar ideologi yang kemudian hidup jauh melampaui umur proyek geopolitik awalnya. Ketika Soviet runtuh, jaringan, mentalitas, pendanaan, dan bentuk keberagamaan yang sudah terlanjur disebar itu tidak ikut mati. Ia mencari musuh baru, medan baru, dan ekspresi baru.

Saudi Bukan Hanya Korban Tekanan, tetapi Pemain Besar

Menerima ucapan MBS mentah-mentah sama kelirunya dengan menolaknya total. Yang benar adalah melihatnya sebagai partial truth—kebenaran parsial yang juga berfungsi sebagai alat politik. Ya, Barat punya andil besar. Ya, konteks anti-Soviet itu nyata. Tetapi Saudi bukan sekadar kurir yang mengantar paket ideologi atas pesanan Washington. Saudi adalah negara yang secara historis dibangun di atas aliansi monarki dan doktrin keagamaan yang justru memberi legitimasi kuat bagi ekspor corak Islam puritan itu.

MBS hari ini sedang menjual citra Saudi baru: lebih modern, lebih ramah investasi, lebih kompatibel dengan dunia bisnis, lebih jauh dari stigma sponsor ekstremisme. Karena itu, ia berkepentingan menyederhanakan masa lalu. Ia perlu berkata, kurang lebih: itu dulu, itu karena Perang Dingin, itu karena sekutu, dan kini kami sedang memperbaiki semuanya. Tapi sejarah tidak semurah itu.

Saudi selama puluhan tahun bukan hanya membiayai penyebaran dakwah; ia juga mendapat keuntungan dari penyebaran itu. Pengaruh moralnya tumbuh. Otoritas simboliknya meluas. Jejaring alumninya berkembang. Tafsir yang dekat dengan preferensi kerajaannya memperoleh pijakan di banyak negara. Dalam banyak konteks, Saudi bukan sedang “membantu Barat”, melainkan sekaligus memperluas jangkauan kekuasaannya sendiri. Carnegie mencatat bahwa di bawah MBS, Saudi kini memang sedang mengurangi dukungan terhadap Salafisme keras di luar negeri dan menggantinya dengan pola soft power baru. Fakta ini penting justru karena menunjukkan bahwa ekspor ideologi dulu memang nyata, dan kini sedang direstrukturisasi, bukan karena tak pernah ada, melainkan karena tak lagi cocok dengan kebutuhan Saudi baru. Jadi, ketika MBS mengakui sejarah itu, kita patut mendengarnya. Tetapi kita tak perlu memberinya sertifikat tidak bersalah.

Dari Wahabisme ke Salafisme Global: Mesin yang Sudah Terlanjur Jalan

Salah satu kekeliruan publik adalah membayangkan penyebaran Wahabisme atau Salafisme sebagai garis lurus: Saudi mendanai, lalu terorisme muncul. Kenyataannya lebih rumit. Tidak semua Salafi adalah jihadis. Tidak semua jaringan keagamaan yang mendapat pengaruh Saudi otomatis berubah menjadi kelompok teror. Namun itu tidak berarti pengaruhnya netral. Yang terjadi lebih halus sekaligus lebih luas: Saudi membantu membangun lingkungan keagamaan yang tekstualis, puritan, keras terhadap tradisi lokal, curiga terhadap pluralitas praktik Islam, dan dalam beberapa konteks menyediakan tanah subur bagi radikalisasi lanjutan.

Kajian ISEAS tentang Indonesia menegaskan bahwa pendanaan Saudi berperan penting dalam mempopulerkan Wahabisme dan Salafisme, termasuk melalui lulusan LIPIA yang kemudian menjadi pendidik, pengkhotbah, pembuat kebijakan, dan tokoh publik. Fulcrum juga menekankan bahwa pengaruh Saudi di Indonesia tak bisa dipahami hanya sebagai transfer uang, melainkan juga transfer otoritas, jaringan, dan legitimasi religius. 

Itu berarti dampaknya bukan selalu ledakan bom. Kadang dampaknya adalah perubahan selera keagamaan, perubahan otoritas lokal, delegitimasi tradisi lama, dan penguatan gaya Islam yang lebih seragam serta lebih transnasional. Dalam politik jangka panjang, perubahan seperti ini bisa jauh lebih menentukan ketimbang kekerasan sesaat. Sebab ia masuk ke ruang kelas, rumah ibadah, keluarga, organisasi, dan bahasa sehari-hari.

Di titik ini, kita memahami satu hal: ideologi yang sudah disebar selama puluhan tahun tidak bisa dicabut dengan satu wawancara, satu reformasi istana, atau satu brosur “Islam moderat”. Ia sudah punya kehidupan sosial sendiri. Ia sudah punya murid, penerbit, ustaz, kampus, kanal, donatur, dan audiens. Saudi boleh mengubah kebijakan negara. Tetapi social afterlife dari proyek lama itu tetap berjalan di banyak tempat.

Aljazair: Ketika Ideologi Impor Bertemu Luka Negara

Pertanyaan tentang dampak pengakuan MBS bagi masa depan arus Salafi, khususnya di Aljazair, sangat menarik karena Aljazair adalah laboratorium pahit. Negara itu memperlihatkan bagaimana ideologi transnasional tidak pernah bekerja sendirian. Ia baru meledak ketika bertemu krisis lokal: represi politik, pembatalan pemilu, perang saudara, kemarahan sosial, dan runtuhnya ruang mediasi.

Studi tentang Salafisme di Aljazair menunjukkan adanya beberapa arus: Salafi dakwah yang cenderung quietist, Salafi politik, dan Salafi jihadi. Arus dakwah banyak terinspirasi Wahabisme Saudi, termasuk melalui pelajar yang belajar di Saudi lalu pulang membawa corak tersebut. Tetapi jihadi salafisme di Aljazair tumbuh bukan semata karena pengaruh Saudi; ia membesar karena negara mengunci saluran politik dan konflik bersenjata mengubah bahasa agama menjadi bahasa perang. Dengan kata lain, ideologi impor menyediakan kosa kata, tetapi kekerasan domestik menyediakan bahan bakarnya.

Inilah pelajaran yang sering hilang dalam debat dangkal. Tidak ada satu sebab tunggal. Saudi penting, tapi bukan segalanya. Barat penting, tapi bukan segalanya. Negara lokal, elite lokal, represi lokal, dan kondisi sosial lokal juga menentukan. Kalau tidak, kita akan jatuh pada teori konspirasi murah yang menggampangkan segalanya. Kajian tentang Aljazair justru menunjukkan bagaimana jaringan inspirasi Saudi bisa bermetamorfosis berbeda-beda tergantung konteks lokal. 

Namun tetap, pengakuan MBS punya efek simbolik. Ia melemahkan klaim bahwa ekspor dakwah Saudi dulu sepenuhnya murni keagamaan. Ia menegaskan bahwa sejak awal ada dimensi strategi negara dan kepentingan blok. Bagi banyak masyarakat yang dulu menanggung ongkos perang sipil dan radikalisasi, pengakuan seperti ini adalah pengingat pahit bahwa nasib mereka pernah dijadikan petak catur dalam permainan yang lebih besar.

Hipokrisi Barat: Memelihara, Lalu Mengutuk

Inilah bagian yang paling tak nyaman tetapi paling penting. Barat hari ini gemar memarahi “Islamisme”, “radikalisme”, atau “terorisme” seolah semuanya lahir dari kebencian murni terhadap kebebasan. Namun pengakuan MBS mengganggu narasi itu. Ia mengingatkan bahwa negara-negara Barat, terutama Amerika Serikat, pernah memandang ekspor corak Islam keras sebagai instrumen yang berguna. Bukan karena mereka percaya pada kemurnian akidah, tentu saja, melainkan karena mereka punya musuh yang lebih besar: komunisme dan pengaruh Soviet.

Kemunafikan itu kini tampak gamblang. Di satu masa, Islam yang keras berguna sebagai benteng. Di masa lain, produk-produk dari pengerasan itu dijadikan alasan untuk perang tanpa akhir. Lalu hari ini, ketika tokoh seperti Hegseth bicara tentang “musuh Islamis, Sunni atau Syiah”, Barat seolah lupa bahwa sebagian medan ideologis itu dulu ikut ia bantu tumbuhkan. 

Tentu saja sejarah tidak sesederhana “Amerika menciptakan semuanya.” Itu juga simplifikasi. Tetapi menolak simplifikasi tidak berarti menghapus tanggung jawab. Yang benar adalah mengakui bahwa ekstremisme modern tumbuh dalam interaksi antara doktrin, negara, represi, perang proksi, pendanaan, dan rivalitas global. Barat tidak sendirian menciptakannya, tetapi juga tidak boleh berpura-pura tak punya peran apa-apa.

Imperium memang punya bakat buruk: ia senang memelihara monster selama monster itu menggigit musuhnya. Masalah baru muncul ketika monster itu mulai menggigit siapa saja.

Saudi Baru: Moderasi atau Rebranding Kekuasaan?

MBS hari ini ingin Saudi dibaca sebagai negara masa depan: kota pintar, konser, investasi, diversifikasi ekonomi, turisme, dan Islam yang lebih terkendali. Itu bukan perkembangan kecil. Tapi kita juga tak boleh naif. Pergeseran dari ekspor Salafisme ke soft power yang lebih modern bukan semata pertobatan ideologis. Ia juga restrukturisasi instrumen pengaruh.

Carnegie menunjukkan bahwa Saudi kini mengganti sebagian pengaruh agama konservatifnya dengan pengaruh ekonomi dan politik yang lebih pragmatis. Ini berarti Saudi tidak berhenti ingin memimpin; ia hanya mengganti bahasa kepemimpinannya. Dulu memakai masjid, madrasah, dan teks. Kini memakai investasi, event global, diplomasi bisnis, dan nasionalisme Saudi yang lebih terkonsolidasi. 

Dengan kata lain, yang berubah bukan hilangnya kehendak berkuasa, melainkan model operasinya. Di bawah MBS, Saudi ingin tetap menjadi poros penting dunia Muslim dan mitra penting Barat, tetapi tanpa terus membawa beban reputasi sebagai pemasok bahan bakar ideologis bagi ekstremisme. Itu agenda yang rasional dari sudut kekuasaan. Tetapi rasionalitas kekuasaan tidak sama dengan penebusan sejarah.

Pelajaran untuk Indonesia: Jangan Lihat Radikalisme Sebagai Cuaca

Bagi Indonesia, isu ini terlalu penting untuk diperlakukan sebagai gosip Timur Tengah. Sejarah penyebaran Wahabisme dan Salafisme memperlihatkan bahwa arus ideologis global bisa masuk melalui jalur pendidikan, beasiswa, literatur, lembaga dakwah, dan jaringan sosial. Ia bukan badai alam. Ia proyek sosial dan politik. Karena itu, menghadapinya tidak cukup dengan polisi, larangan administratif, atau retorika persatuan yang manis.

Pelajaran pertama: radikalisme tidak pernah murni teologis. Ia punya ekonomi politik. Ia punya sponsor, infrastruktur, dan ekologi sosial. Pelajaran kedua: jangan mudah menerima narasi Barat yang memisahkan dirinya dari sejarah lahirnya problem ini. Pelajaran ketiga: jangan pula jatuh ke jebakan romantik bahwa semua yang anti-Barat otomatis baik. Kedua kubu sama-sama bisa memanipulasi agama untuk kepentingan kekuasaan.

Indonesia memerlukan benteng intelektual yang lebih kuat: penguatan tradisi Islam yang berakar pada sejarah lokal, keberanian akademik membongkar jejaring pendanaan ideologis, dan kejujuran publik untuk mengakui bahwa perang gagasan tidak kalah penting dibanding perang keamanan. Kalau tidak, kita akan terus sibuk memadamkan api sambil membiarkan pipa gasnya tetap terbuka.

Yang Diakui MBS Sebenarnya Bukan Masa Lalu, tetapi Cara Dunia Bekerja

Pada akhirnya, nilai paling penting dari pengakuan MBS bukan terletak pada detail historisnya saja. Nilainya terletak pada kenyataan bahwa ia menunjukkan cara dunia modern bekerja: ideologi, agama, dan konflik jarang berdiri murni. Mereka dirakit, diarahkan, dipelihara, lalu dipasarkan ulang sesuai kebutuhan zaman.

Hari ini, ketika Barat kembali keras menyebut dunia Islam sebagai spektrum ancaman, kita perlu mengingat bahwa banyak garis retak itu dulu dibuat lebih lebar oleh negara-negara yang kini paling lantang bicara tentang keamanan global. Dan ketika Saudi kini ingin tampil sebagai pembaharu, kita perlu mengingat bahwa reformasi hari ini tidak menghapus keuntungan yang pernah dipetik dari penyebaran masa lalu.

Jadi, pertanyaan besarnya bukan sekadar “benarkah MBS mengatakan itu?” Pertanyaannya adalah: mengapa pengakuan seperti itu baru dianggap mengejutkan sekarang? Barangkali karena dunia terlalu lama menyukai dongeng yang sederhana: Barat sebagai pembela peradaban, Saudi sebagai sekutu stabil, dan ekstremisme sebagai penyakit yang lahir dari tubuh Islam semata. Pengakuan MBS merusak dongeng itu.

Dan mungkin memang sudah waktunya dongeng itu dibubarkan. Sebab selama kita terus melihat ekstremisme hanya sebagai masalah akidah, kita akan gagal melihat pabriknya. Selama kita terus mengira perang global hanya soal nilai, kita akan gagal melihat logistik kepentingannya. Dan selama negara-negara besar masih bisa mempersenjatai ideologi hari ini lalu mengutuknya besok, dunia akan terus berputar dalam siklus kemunafikan yang sama: menciptakan api, memotret asapnya, lalu menjual diri sebagai pemadam kebakaran.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *