Indonesia di Tengah Panggung Realisme Global

Oleh : Ulika T. Putrawardana, SH.

Monwnews.com, Di dunia yang kembali percaya pada kekuatan daripada norma, diplomasi sering berubah seperti pertandingan catur di atas papan yang terbakar. Di tengah panasnya konflik Iran–AS–Israel, Indonesia mencoba memainkan bidaknya sendiri. Tetapi dalam politik internasional, bahkan bidak kecil pun bisa memicu skakmat—atau justru menjadi korban pertama.

Ulika T Putrawardana
Ulika T Putrawardana

Ada masa ketika politik internasional dipresentasikan seperti ruang sidang besar. Negara-negara duduk rapi, berbicara tentang hukum internasional, multilateralisme, dan perdamaian dunia. Tetapi dalam beberapa tahun terakhir, ruang sidang itu terasa semakin sunyi. Yang terdengar justru suara lain: deru mesin jet tempur, notifikasi sanksi ekonomi, dan retorika yang semakin tajam.

Perang yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel adalah salah satu contoh paling jelas dari perubahan itu. Konflik yang dahulu berada dalam wilayah “tekanan diplomatik” kini semakin mendekati konfrontasi terbuka. Dunia tampak kembali ke satu pelajaran lama dalam teori hubungan internasional: ketika kepercayaan runtuh, kekuatan menjadi bahasa utama.

Tulisan Philips Vermonte di halaman opini Kompas berjudul ”Indonesia di Tengah Perangkap Realisme Politik Internasional” mencoba membaca situasi itu melalui lensa klasik realisme. Ia mengutip Thucydides, mengingatkan pada dialog terkenal antara Athena dan Melos, dan menggarisbawahi satu kalimat yang sering dikutip dalam politik global: ”the strong do what they can, the weak suffer what they must.” Kalimat itu terdengar dingin. Tetapi ia menggambarkan dengan tepat suasana sistem internasional saat ini.

Dunia yang Kembali Percaya pada Otot

Dalam teori hubungan internasional, realisme adalah pandangan yang cukup pesimistis tentang sifat dunia. Ia berangkat dari asumsi sederhana: tidak ada pemerintah global yang bisa memaksa negara tunduk. Sistem internasional bersifat anarkis. Karena itu, setiap negara pada akhirnya harus menjaga dirinya sendiri. Jika tidak ada polisi global, maka keamanan bergantung pada kekuatan. Di sinilah politik kekuasaan menemukan panggungnya.

Konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel memperlihatkan dinamika itu secara terang. Iran membangun kemampuan deterrence untuk memastikan bahwa tekanan eksternal tidak mudah menjatuhkan negara itu. Amerika Serikat berusaha mempertahankan kredibilitasnya sebagai kekuatan global yang tidak bisa diabaikan. Israel beroperasi dalam logika keamanan eksistensial: ancaman harus dicegah sebelum menjadi nyata.

Dalam konfigurasi seperti ini, diplomasi sering berubah menjadi kalkulasi. Bukan lagi tentang siapa yang benar, melainkan siapa yang memiliki posisi lebih kuat.

Melian Dialogue dan Cermin Politik Modern

Vermonte mengingatkan pada episode klasik dalam sejarah Yunani kuno: Melian Dialogue. Dalam dialog itu, utusan Athena mengatakan kepada orang-orang Melos bahwa keadilan hanya berlaku jika kekuatan kedua pihak seimbang. Jika tidak, yang kuat akan melakukan apa yang mampu mereka lakukan, sementara yang lemah harus menerima nasibnya. Kutipan itu sering digunakan sebagai simbol realisme paling brutal dalam hubungan internasional. Namun ada ironi yang sering dilupakan. Athena, yang begitu percaya diri pada kekuatannya, akhirnya terjebak dalam perang berkepanjangan. Ekspansi militer yang terlalu luas menguras sumber daya dan legitimasi politiknya. Pada akhirnya, Athena mengalami kemunduran.

Pesan sejarah ini penting. Realisme tidak selalu berarti kemenangan bagi yang kuat. Ia juga bisa menjadi jebakan bagi mereka yang terlalu percaya diri pada kekuasaan.

Ketika Multilateralisme Melemah

Jika dunia hari ini terasa lebih keras, salah satu penyebabnya adalah melemahnya kepercayaan pada multilateralisme. Lembaga internasional seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa sering kali terjebak dalam kebuntuan politik. Veto, rivalitas kekuatan besar, dan kepentingan nasional membuat banyak resolusi berhenti sebagai dokumen diplomatik, bukan solusi nyata. Dalam situasi seperti ini, negara-negara kembali mengandalkan strategi unilateral atau aliansi terbatas. Itulah sebabnya konflik regional sering menjadi panggung bagi persaingan global. Timur Tengah bukan hanya soal politik kawasan, tetapi juga arena pertemuan kepentingan berbagai kekuatan dunia.

Indonesia di Antara Dua Dunia

Di tengah situasi itu, Indonesia berada pada posisi yang unik. Sebagai negara dengan tradisi politik luar negeri bebas aktif, Indonesia tidak terikat pada satu blok kekuatan. Sejak Konferensi Asia-Afrika 1955, Indonesia memposisikan dirinya sebagai jembatan antara berbagai kepentingan global.

Namun dunia yang semakin realis menempatkan Indonesia dalam dilema. Jika terlalu moralistik, Indonesia bisa terdengar seperti pembicara idealis yang tidak memiliki pengaruh nyata. Tetapi jika terlalu pragmatis, Indonesia berisiko kehilangan identitas diplomasi yang selama ini menjadi modal reputasinya.

Dalam tulisan Vermonte, dilema ini digambarkan sebagai “perangkap realisme.” Indonesia tidak bisa mengabaikan realitas kekuasaan global, tetapi juga tidak boleh sepenuhnya tunduk pada logika itu.

Middle Power di Dunia Multipolar

Dalam teori hubungan internasional modern, negara seperti Indonesia sering disebut middle power. Mereka bukan kekuatan besar, tetapi memiliki kapasitas diplomatik dan ekonomi yang cukup untuk memainkan peran penting dalam sistem internasional.

Peran middle power biasanya muncul dalam bentuk:

• mediator konflik
• pembangun koalisi
• penjaga norma internasional

Negara seperti Norwegia, Kanada, atau Qatar sering memainkan peran ini dalam berbagai konflik.

Indonesia memiliki potensi serupa. Dengan populasi besar, ekonomi yang berkembang, dan reputasi diplomatik yang relatif netral, Indonesia dapat menjadi ruang dialog bagi pihak-pihak yang sulit berbicara secara langsung. Namun potensi bukan berarti kepastian. Dalam politik internasional, mediator hanya efektif jika semua pihak merasa aman untuk berbicara.

Diplomasi sebagai Panggung Strategi

Di sinilah dinamika politik luar negeri Indonesia menjadi menarik. Dalam beberapa tahun terakhir, Presiden Prabowo Subianto terlihat aktif membangun hubungan dengan berbagai kekuatan global—dari China hingga Rusia, dari forum BRICS hingga hubungan strategis dengan Amerika Serikat.

Sebuah tulisan di blog London School of Economics berjudul ”From China and Russia to the Board of Peace: Prabowo’s Bid for Washington’s Attention” membaca langkah-langkah ini sebagai strategi positioning. Indonesia mencoba menunjukkan bahwa ia dapat berbicara dengan semua pihak. Dalam dunia yang semakin terpolarisasi, kemampuan berbicara dengan berbagai blok adalah aset diplomatik yang langka.

Artikel tersebut menafsirkan kebijakan luar negeri Prabowo sebagai upaya menarik perhatian Washington tanpa memutus hubungan dengan kekuatan lain. Dengan kata lain, Indonesia mencoba memainkan permainan keseimbangan. Ini bukan hal baru dalam diplomasi. Banyak negara menengah menggunakan strategi serupa untuk memperluas ruang manuver mereka. Namun permainan keseimbangan memerlukan ketelitian tinggi. Satu langkah yang terlalu condong dapat mengubah persepsi.

Realisme dan Ambisi Global

Jika membaca langkah-langkah ini melalui perspektif realisme, ada logika strategis yang cukup jelas.

Dalam sistem internasional yang semakin kompetitif, negara yang ingin meningkatkan pengaruhnya harus memperlihatkan relevansi global. Salah satu cara melakukannya adalah dengan terlibat dalam isu-isu strategis. Konflik Timur Tengah adalah salah satu isu tersebut. Namun ambisi global selalu datang dengan risiko.

Jika terlalu jauh melibatkan diri dalam konflik besar, negara bisa terseret dalam dinamika yang sulit dikendalikan. Tetapi jika terlalu berhati-hati, peluang untuk memainkan peran lebih besar juga hilang. Diplomasi sering kali seperti berjalan di atas tali.

Ketika Moral Bertemu Kepentingan

Indonesia sering berbicara tentang pentingnya perdamaian dan hukum internasional. Nilai-nilai ini bukan sekadar retorika. Bagi negara kepulauan seperti Indonesia, stabilitas global memiliki dampak langsung pada ekonomi dan keamanan nasional.

Jalur perdagangan laut, harga energi, dan stabilitas kawasan adalah faktor yang sangat memengaruhi kesejahteraan domestik. Karena itu, keterlibatan Indonesia dalam isu global tidak hanya bersifat moral, tetapi juga pragmatis. Dalam dunia yang semakin tidak pasti, menjaga stabilitas internasional adalah kepentingan nasional.

Risiko Menjadi Penengah

Namun menjadi mediator bukan pekerjaan ringan. Mediator harus memiliki kredibilitas di mata semua pihak. Ia harus mampu menawarkan ruang dialog tanpa dianggap berpihak. Ia juga harus siap menghadapi kemungkinan kegagalan.

Jika mediasi berhasil, reputasi negara mediator meningkat. Jika gagal, reputasi bisa justru menurun. Karena itu, banyak mediasi internasional dimulai melalui jalur diplomasi tertutup sebelum diumumkan secara publik.

Realisme Tanpa Fatalisme

Tulisan Vermonte sebenarnya tidak mengajak Indonesia menyerah pada logika realisme. Sebaliknya, ia mengingatkan bahwa memahami realisme justru penting agar Indonesia tidak terjebak dalam kepolosan diplomatik.

Realisme adalah deskripsi tentang bagaimana dunia sering bekerja. Tetapi ia bukan takdir yang harus diterima tanpa perlawanan.

Negara-negara masih dapat membangun aturan, membentuk koalisi, dan menciptakan mekanisme kerja sama untuk mengurangi risiko konflik. Dalam bahasa lain, memahami realisme justru membantu negara memperkuat multilateralisme secara lebih realistis.

Indonesia dan Arsitektur Perdamaian

Jika Indonesia ingin memainkan peran lebih besar di panggung global, langkah pertama adalah memperkuat fondasi domestik: ekonomi yang stabil, pertahanan yang kredibel, dan diplomasi yang konsisten.

Negara yang kuat di dalam negeri memiliki posisi tawar lebih baik di luar negeri. Selain itu, Indonesia perlu memperluas jejaring diplomatik dengan negara-negara yang memiliki pengalaman mediasi konflik. Koalisi mediator sering lebih efektif dibandingkan mediator tunggal.

Dalam konteks ini, peran Indonesia mungkin bukan sebagai penentu tunggal hasil konflik, tetapi sebagai bagian dari arsitektur perdamaian yang lebih luas.

Di Antara Api dan Diplomasi

Dunia hari ini tidak sepenuhnya damai, tetapi juga belum sepenuhnya kacau. Ia berada di antara dua kemungkinan.

Konflik Iran–AS–Israel menunjukkan bagaimana politik kekuasaan masih menjadi faktor dominan dalam hubungan internasional. Namun sejarah juga menunjukkan bahwa konflik tidak selalu berakhir dengan kekerasan yang tak terkendali.

Diplomasi, meskipun sering tampak lambat dan rapuh, tetap menjadi satu-satunya jalan untuk menghindari bencana yang lebih besar. Indonesia berada di tengah persimpangan itu.

Sebagai negara yang percaya pada perdamaian tetapi juga memahami realitas kekuasaan, Indonesia harus berjalan dengan dua kompas sekaligus: idealisme dan kalkulasi.

Dalam dunia yang semakin keras, mungkin itulah bentuk realisme yang paling bijak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *