27 Rajab: Makna Isra’ Mi‘raj dan Jalan Sunyi Manusia Modern

Tri Prakoso, SH.,MHP. (Aktivis Pro Demokrasi 98 Gusdur dan Alumni GMNI Jember)
Tri Prakoso, SH.,MHP. (Aktivis Pro Demokrasi 98 Gusdur dan Alumni GMNI Jember)

Oleh : Tri Prakoso, SH.,MHP. (Aktivis Pro Demokrasi 98 Gusdur dan Alumni GMNI Jember)

Monwnews.com, Surabaya – Setiap tanggal 27 Rajab, umat Islam memperingati peristiwa Isra’ Mi‘raj Nabi Muhammad SAW. Namun, sering kali peringatan ini berhenti sebagai ritual seremonial: ceramah, spanduk, dan pengulangan kisah yang sama dari tahun ke tahun. Padahal, bagi tradisi spiritual Islam khususnya tasawuf, Isra’ Mi‘raj bukan sekadar peristiwa historis melainkan peta perjalanan batin manusia yang relevan lintas zaman, termasuk bagi manusia modern yang hidup dalam dunia bising, cepat, dan penuh kecemasan.

Isra’ Mi‘raj adalah kisah tentang perjalanan ruh, bukan semata perjalanan tubuh. Ia adalah cerita tentang manusia yang dipanggil naik, justru ketika hidupnya berada di titik paling gelap.

Dari Luka Dunia ke Panggilan Langit

Isra’ Mi‘raj terjadi setelah Nabi Muhammad SAW mengalami masa paling berat dalam hidupnya: wafatnya Khadijah dan Abu Thalib, penolakan di Thaif, serta tekanan sosial dan psikologis yang luar biasa. Dalam bahasa manusia modern, ini adalah fase burnout eksistensial ketika dunia terasa runtuh, dan makna hidup dipertanyakan.

Namun, justru dari titik inilah perjalanan besar dimulai. Malam Isra’ Mi‘raj bukan malam perayaan, melainkan malam sunyi. Bukan malam kemenangan politik, melainkan malam pemanggilan ruhani.

Dalam perspektif ini, 27 Rajab mengajarkan satu hal penting: pendakian ruhani sering kali dimulai dari kejatuhan terdalam manusia.

Isra’: Perjalanan Horizontal Kesadaran

Isra’, perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, sering dipahami sebagai perjalanan geografis. Namun, para sufi melihatnya sebagai perjalanan kesadaran.

Masjidil Haram melambangkan pusat diri tempat manusia terikat pada rutinitas, identitas sosial, dan beban dunia. Masjidil Aqsa, yang berarti “yang paling jauh”, justru melambangkan titik terdalam kesadaran manusia, tempat sunyi di mana ego mulai melemah.

Dalam bahasa tasawuf, Isra’ adalah proses melepaskan keterikatan: jabatan, status, ambisi, dan citra diri. Ini adalah perjalanan horizontal bukan ke luar, tetapi menyusuri ruang batin.

Manusia modern sangat jarang melakukan Isra’ semacam ini. Kita berpindah tempat dengan cepat, tetapi tidak pernah benar-benar berpindah maqam batin.

Mi‘raj: Pendakian Vertikal Ruh

Jika Isra’ adalah pelepasan, maka Mi‘raj adalah pendakian. Nabi Muhammad SAW naik menembus tujuh lapisan langit hingga Sidratul Muntaha. Dalam tradisi tasawuf, langit-langit ini bukan peta kosmologi, melainkan tahapan penyucian jiwa.

Setiap lapisan adalah simbol:

• penjinakan nafsu,

• pemurnian niat,

• pelepasan ego,

• hingga penyerahan total kepada Tuhan.

Mi‘raj bukan tentang “melihat Tuhan”, melainkan lenyapnya keakuan manusia di hadapan Yang Maha Ada. Inilah yang oleh para sufi disebut fana’ bukan hilang secara fisik, tetapi luluhnya ego.

Dalam dunia modern yang memuja “aku” profil, pencapaian, eksistensi digital pesan Mi‘raj terasa semakin relevan dan semakin asing.

Shalat sebagai Mi‘raj Harian

Salah satu inti Isra’ Mi‘raj adalah perintah shalat. Namun, dalam tasawuf, shalat bukan sekadar kewajiban ritual, melainkan alat pendakian ruhani.

Imam Al-Ghazali menyebut shalat sebagai mi‘raj al-mu’min mi‘rajnya orang beriman. Artinya, setiap manusia diberi kesempatan untuk “naik”, bukan setahun sekali, tetapi lima kali sehari.

Masalahnya bukan pada shalatnya, melainkan pada kehadiran jiwa di dalamnya. Banyak manusia shalat dengan tubuhnya, tetapi ruhnya tertinggal di dunia: di kantor, pasar, layar gawai, atau pikiran yang tak pernah diam.

27 Rajab seharusnya menjadi momen refleksi: apakah shalat kita masih menjadi tangga, atau sudah berubah menjadi rutinitas kosong?

Isra’ Mi‘raj dan Jalan Para Wali

Dalam literatur tasawuf klasik, seperti Jāmi‘ al-Uṣūl fī al-Awliyā’ karya Syaikh Dhiya’uddin al-Kamasykhanawi, dijelaskan bahwa para wali mengalami mi‘raj ruhani bukan dengan tubuh, tetapi dengan hati.

Para wali tidak naik ke langit, tetapi langit seakan turun ke dalam batin mereka. Mereka tidak meninggalkan dunia, tetapi dunia kehilangan cengkeramannya atas mereka.

Inilah sebabnya mengapa dalam banyak tradisi Islam Nusantara, Isra’ Mi‘raj dirayakan dengan syair, tembang, dan dzikir. Syair bukan hiasan budaya, melainkan bahasa hati cara menyampaikan pengalaman ruhani yang tak sanggup diucapkan oleh logika.

Manusia Modern dan Krisis Makna

Krisis terbesar manusia hari ini bukan krisis ekonomi atau teknologi, melainkan krisis makna. Kita hidup lebih cepat, lebih terkoneksi, tetapi semakin terpisah dari diri sendiri.

Isra’ Mi‘raj menawarkan arah yang berlawanan dari arus zaman:

• melambat di tengah kecepatan,

• diam di tengah kebisingan,

• menunduk di tengah budaya pamer.

Ia mengajarkan bahwa kemajuan sejati bukan hanya naik secara material, tetapi naik secara ruhani.

27 Rajab sebagai Peringatan, Bukan Perayaan

Jika Isra’ Mi‘raj hanya dirayakan sebagai peristiwa masa lalu, ia akan kehilangan daya transformasinya. Namun, jika dipahami sebagai panggilan personal, ia menjadi sangat aktual.

Setiap manusia memiliki Masjidil Haram dan Masjidil Aqsa dalam dirinya. Setiap manusia memiliki malam gelap dan peluang pendakian. Dan setiap manusia diberi tangga yang sama: kesadaran, keikhlasan, dan shalat yang hidup.

27 Rajab bukan tentang Nabi yang “pernah naik”, tetapi tentang manusia yang dipanggil untuk naik keluar dari ego, dari keterikatan, dan dari kebisingan dunia menuju pusat dirinya sendiri.

Penutup: Naiklah, Meski Perlahan

Isra’ Mi‘raj mengajarkan satu pesan sederhana namun radikal: jalan menuju Tuhan selalu terbuka, tetapi hanya bisa dilalui oleh mereka yang berani berhenti sejenak, menata batin, dan mendengarkan panggilan sunyi di dalam dirinya.

Di tengah dunia yang terus menyuruh kita berlari, 27 Rajab mengajak kita berhenti. Di tengah budaya yang memuja pencapaian lahir, Isra’ Mi‘raj mengingatkan pentingnya pendakian batin.

Karena pada akhirnya, yang naik bukanlah tubuh, melainkan kesadaran. Dan yang sampai bukanlah raga, melainkan hati. (Rha/Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *