monwnews.com – Malang,- “Tesno batok moto mlorok wus rak gelem ndelok , kuping mbudeg, cangkeme mbideg / memalingkan muka padahal mata melihat, telinga tak mau mendengar, mulut tertutup”_
Menggambarkan kondisi riil berkembang dimasyarakat dimana orang-orang yang seharusnya sudah memiliki kemampuan dan posisi berkedudukan tinggi untuk melihat dan mengatasi permasalahan, namun justru enggan atau tidak mau melihat dan bahkan mendengar serta menanganinya sungguh sungguh.
1. Adanya sikap acuh tak acuh, kurangnya kepedulian, dan minimnya tanggung jawab dari pihak-pihak yang seharusnya memiliki kapasitas dan kewenangan untuk mengatasi permasalahan.
2. Terdapat indikasi adanya kepentingan-kepentingan tertentu yang membuat mereka enggan untuk bertindak secara objektif dan demi kepentingan Rakyat menengah bawah.
3. Kurangnya integritas, moralitas, dan visi yang jelas untuk memajukan bangsa dan negara, sehingga mereka lebih mementingkan kepentingan pribadi atau kelompok elite semata.
4. Dibutuhkan adanya kesadaran, kejujuran, keberanian, dan komitmen yang kuat dari pihak-pihak yang berwenang untuk mau melihat, mengakui, dan menangani permasalahan secara sungguh-sungguh.
Tentang kondisi pendidikan , kesehatan, pranatan kepastian hukum dan pengelolaan sumber daya alam di Indonesia saat ini.
1. Memang terdapat indikasi adanya upaya-upaya untuk memanfaatkan kondisi pendidikan yang rendah demi kepentingan politik jangka pendek, seperti melalui program-program bantuan sosial. Hal ini perlu mendapat perhatian dan pengawasan yang lebih baik dari berbagai pihak kampus, birokrasi dan masyarakat pemerhati hal tsb.
2. Pengelolaan sumber daya alam yang tidak transparan dan cenderung menguntungkan pihak-pihak tertentu merupakan masalah serius yang harus dibenahi. Rakyat Indonesia seharusnya dapat menikmati kekayaan alam yang melimpah negaranya secara adil dan proporsional.
3. Menyinggung mengenai “logika cara berpikir sehat jiwa sukma raga dan menghindari miskin iman taqwa”. Hal ini menyiratkan perlunya penguatan nilai-nilai moral, etika, dan spiritualitas di kalangan elite maupun masyarakat luas.
4. Saya pribadi setuju bahwa slogan “Indonesia Emas” hanya menjadi jargon belaka jika tidak diikuti dengan perbaikan yang menyeluruh, baik dari segi substansi, esensi, maupun kebudayan berkeadaban tsb.
5.Bahwasannya pandangan hidup berbangsa dan bernegara sudah bersifat final yaitu Pancasila.
Harus terus menerus dilaksanakan murni dan konsekuen serta dilakukan sinergi bersama-sama baik masyarakat terdidik yang peduli dan kritis solutif , eksekutif, legeslatif, yudikatif , dan serta lingkungan kampus agar tidak boleh terjadi lagi konflik akibat berbeda keyakinan dan agama.
Sehingga capian cita luhur kemerdekaan 1945 segera yang terarah terukur berkelanjutan sehingga terwujud kerukunan, kebhinekaan, kemakmuran kesejahteran bagi seluruh Rakyat Indonesia yang mana mengingat usia sudah memasuki 80 tahun.
Medio ,Sabtu 02 Agustus 2025
Oleh : Gaguk Inaker
Ketua Dewan Pendiri
Indonesia Bekerja/INAKER












