Sotasoma Dan Serta Pararaton Diantara Negara Kertagama *NYA

Oleh : Gaguk - Ketua Dewan Pendiri Perkumpulan Indonesia Bekerja / INAKER.

KRMH. Gagoek Kapoet Triana, S.H. (penulis)

Monwnews.com, Dalam jangkauan Analisis gubahan mahakarya Sutasoma, Pararaton, dan Negarakertagama merupakan dan atau sebagai landasan ideal negara matahari/katulistiwa menunjukkan fondasi filosofis Majapahit yang kaya.

https://www.instagram.com/p/DS1J4jRErJk/?img_index=1
https://www.instagram.com/p/DS1J4jRErJk/?img_index=1

Ketiga maha karya ini membentuk triad sastra Jawa yang mendasari konsep negara bersatu di garis khatulistiwa, dengan analisis empiris pada dimensi ontologis ( hakikat wujud ), epistemologis ( pengetahuan ), dan aksiologis ( tataran nilai ).

Dasar Ontologis Kakawin Sutasoma oleh Empu Tantular mengemukakan ontologi persatuan esensial lintas agama melalui Bhinnêka Tunggal Ika di mana keragaman Hindu-Buddha menyatu dalam satu realitas jagat.

Pararaton memperkuatnya dengan kontinuitas dinasti Singhasari-Majapahit, Raja sebagai dewaraja abadi di poros matahari.

Negarakertagama melengkapi dengan kosmologi Mandala Majapahit berpusat dikhatulistiwa, menyatukan wilayah dalam totalitas harmonis di bawah Hayam Wuruk.

Dimensi Epistemologis Sutasoma menyajikan pengetahuan melalui gnosis empati jiwa pengorbanan Sutasoma menghasilkan hikmah universal melebihi doktrin.

Pararaton menggunakan kronik historis empiris, validasi kekuasaan via garis nabi dan sumpah Palapa yang terverifikasi.

Negarakertagama mensintesis pengetahuan ritual-puitis, memetakan negara bawahan sebagai bukti bukti ( kemakmuran bersama ) berbasis pengalaman harmoni.

Nilai Aksiologis Ketiganya mengedepankan subhiksita ( kesejahteraan auspisial ) sebagai inti etika negara matahari, dengan Sutasoma mirip Pancasila melalui pengorbanan demi semua makhluk.

Pararaton menekankan dharma keadilan raja, menolak kekacauan demi persatuan berani.

Negarakertagama meninggikan nilai estetika-ilahi dalam pemerintahan, di mana toleransi dan wilayah luas memuliakan tatanan matahari sebagai kebaikan mutlak.

Gnosis Empati merujuk pada pengetahuan intuitif yang lahir dari kemampuan merasakan dan memahami penderitaan orang lain secara mendalam, seperti dalam Kakawin Sutasoma dimana pengorbanan Sutasoma menghasilkan hikmah universal.

Pengertian Inti Gnosis berasal dari Yunani gnosis yang berarti pengetahuan spiritual atau taraf ma’rifat, sedangkan empati adalah proses kognitif-afektif menempatkan diri pada posisi orang lain untuk memahami esensi perasaannya.

Dalam konteks Sutasoma, ini menjadi jalan epistemologis menuju kesatuan, di mana empati terhadap “Kanibal Jatâsura” mengubah nafsu menjadi pencerahan kepribadian kepemimpinan.

Aplikasi Filosofis secara empiris, gnosis empati melampaui doktrin agama, menghasilkan pengetahuan transenden yang menyatukan Hindu-Buddha dalam Bhinneka Tunggal Ika.

Hal ini mencakup aspek kognitif ( perspective taking ) dan afektif ( merasakan bersama ), membentuk dasar harmoni negara matahari Majapahit.

Relevansi Aksiologis dimana nilai utamanya adalah transformasi etis yaitu tumbuh empati sebagai pengorbanan diri menghasilkan subhiksita, kesejahteraan bersama yang ideal untuk negara matahari dikhatulistiwa.

Empati Kognitif dan Empati Afektif merupakan dua komponen utama empati yang bekerja secara berbeda dalam memahami orang lain.

Keduanya saling melengkapi untuk membentuk pemahaman holistik, terutama dalam konteks gnosis empati seperti pada Kakawin Sutasoma.

Empati Kognitif.
Empati kognitif melibatkan proses intelektual untuk memahami perspektif atau pikiran orang lain secara objektif, seperti menempatkan diri pada posisi mereka tanpa ikut merasakan emosinya.

Hal Ini bergantung pada kemampuan analisis dan perspektif-taking, berguna untuk navigasi sosial kompleks atau pengambilan keputusan rasional.

Dalam Sutasoma, ini terlihat saat pemahaman intelektual terhadap Nafsu Jatâsura sebelum transformasi.

Empati Afektif.
Empati Afektif berfokus pada respons emosional, di mana seseorang merasakan dan berbagi perasaan orang lain secara mendalam, seperti ikut sedih saat orang lain menderita.

Jenis ini lebih emosional, memicu kasih sayang dan perilaku altruistik melalui reaktivitas afektif.

Pada gnosis empati Sutasoma, ini menjadi puncak saat pengorbanan diri dan serta ikut meresapi penderitaan komunitas kecil maupun besar guna mencapai hikmah universal.

Adapun Hikmah Universal merujuk pada kebijaksanaan kepemimpinan yang mendalam bersifat lintas budaya, agama, dan zaman, sering dikaitkan dengan pemahaman ilahi atau pengetahuan tertinggi yang memandu tindakan bijak.

Dalam tradisi Islam, ini digambarkan sebagai barang hilang orang beriman yang harus diambil dari mana saja selama selaras syariat.

Cara mencapainya Hikmah Universal dapat diraih melalui perenungan perjalanan pengalaman hidup berjenjang dan serta bertahap-tahap dari luas cakrawala ilmu ( pengetahuan ) ke pengalaman, lalu direfleksikan mendalam diri pribadi .

Belajar ilmu secara terus-menerus sebagai fondasi, diikuti interaksi nyata untuk menguji pemahaman.

Merenungkan pengalaman hidup sebagai peta, mengubah pengetahuan menjadi tindakan moral yang melihat gambaran besar.

Mencapai kesadaran ilahiyyah melalui transfer ilmu dari ahlinya, mengandalkan indera dan introspeksi terus menerus hingga hayat dikandung badan.

Karakteristik Hikmah tsb dalam Pribadi Pemimpin harunya selalu berhikmah, bertindak jujur diri disituasi sulit, memberi dampak positif bagi orang lain, dan melihat cobaan sebagai peluang tumbuh.

Proses ini bersifat seumur hidup, seperti lingkaran belajar tanpa akhir, selaras dengan filsafat hikmah yang mengintegrasikan rasional, mistik, dan realisasi langsung.

Contoh dalam Kehidupan Dalam filsafat Islam, hikmah memadukan wujud ( keberadaan ) sebagai prinsip swabukti dengan ruh yang subur melalui objek berkehidupan sosial sehingga bernilai tinggi.

Hal demikian bersifat universal, seperti nilai kemanusiaan dalam ibadah haji laku bathiniyah dan atau puasa yang bathiniyah, bersedekah tidak ujub dan lainnya yang dapat melampaui dogma dan serta ritual.

“JANGAN CEPAT KAGETAN, JANGAN CEPAT KEHERANAN SAJA”

Mari kita kami kamu mereka yang berakal bernalar berfikir berilmu dan beriman tetap bersyukur, saling berbagi , saling berkumpul, silaturahmi dan serta saling menggotong dan serta meroyong, saking silang mencari solusi-solusi bersama-sama , tetap trus bersyukur , trus bergerak bergerak bergerak , berkehendak, bersinergi , bekerja giat keras cerdas tuntas terarah terukur bersama hingga segera terwujud keadilan sosial, kemakmuran bagi seluruh Rakyat Indonesia.
Dan serta jangan lupa bahagia sahaja.

#salamsatujiwa
#salamindOnesiabekerja
🏃🏽‍♂️🏃‍♀️🕺🏻💃🤝✊💪🥰
🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *