Seni Menjilat Ketiak dan Panduan Sukses Budaya Ndolop di Peternakan Nilai

Penulis: Fajar Agung Dewantoro mahasiswa PENDIDIKAN SEJARAH FKIP UNEJ

Monwnews.com, Jangan salahkan pemerintah jikalau negara ini menjadi ladang bagi huru hara, jangan salahkan siapapun jikalau bangsa ini sudah tak kokoh berdiri, namun coba tanyakan kepada Pendidikan. Bagaimana proses pembelajaran yang harusnya menjadi tumpuan dalam berdikari berfikir, sekarang sudah menjadi tempat peternakan para penjilat nilai.

Terkadang kita terlalu jauh membicarakan bagaimana sebuah rezim dan program nya menjadi benalu dalam negara, jikalau budaya ndolop masih dipelihara oleh mereka para pendidik yang birahi akan pujian.

Secara objektivitas penilaian di tentukan dari bagaimana kapasitas berfikir setiap manusia, karena pada dasarnya proses pembelajaran adalah praktik pembebasan yang bertujuan untuk memanusiakan manusia (humanisasi). Dari proses humanisasi tersebut dapat di artikan jikalau Pendidikan merupakan alat pembebasan bagi setiap manusia yang mau merdeka dalam berfikir.

Namun, faktanya Pendidikan sudah tak menjadi lagi alat pembebasan bagi otak manusia lagi. Pendidikan sekarang nyatanya sudah menjadi wadah bagi manusia-manusia yang birahi akan angka berkumpul dan diternakkan.

Melalui kapitalisasi industri modern dan kebutuhan dunia kerja akan tenaga manusia, segala hal yang menjadi sebuah makna sekarang di kerdilkan melalui sebuah angka ataupun nilai. Dari sinilah bagaimana kita dapat melihat, yang harusnya Pendidikan menjadi proses mengasah otak malah menjadi alat penjinak otak melalui angka.

Dari sebuah pengkerdilan makna akan Pendidikan inilah, lahir manusia-manusia yang bukan hanya birahi terhadap sebuah angka namun juga menghamba pada nilai daripada sebuah ilmu. Secara tidak gamblang ini merupakan upaya, daripada bagaimana kapitalis mereduksi makna belajar dalam otak manusia untuk hanya dijadikan sebuat alat kepatuhan melalui angka. Kepatuhan ini adalah hasil utama daripada upaya pengkerdilan dan reduksi makna yang dilakukan oleh para kapitalis tadi.

Setelah hegemoni kepatuhan dapat di terapkan, maka dari sinilah manusia-manusia yang menghamba terhadap nilai tadi. Manusia-manusia ini bahkan rela jikalau mereka harus menjilat ketiak para pemilik ilmu, jikalau dalam Bahasa jawanya adalah ndolop.

Dari budaya ndolop inilah manusia-manusia yang patuh tadi mencari hidup dan penghidupan, melalui jilatan dan nafsu birahi pujian mereka terus menjilat keringat para pemilik ilmu walaupun itu serupa racun sekalipun rasanya. Disinilah bagaimana tragedi naas itu terjadi, Pendidikan yang harusnya menjadi alat pembebasan sekarang tereduksi maknanya menjadi alat untuk menebar sebuah kepatuhan.

Faktor di atas adalah salah satu sebab bagaimana budaya ndolop itu lahir dan terus di ternakan, dan itu sekarang menjadi budaya dalam Pendidikan bangsa ini.

Nasi belum seutuhnya menjadi bubur, mulair dari pengkerdilan makna, reduksi makna, hingga alat kepatuhan, itu semua merupakan faktor utama yang menjadi benalu dalam Pendidikan. Dari benalu ini Pendidikan menjadi faktor utama bagaimana kualitas otak digantikan maknanya menjadi hanya kuantitas nilai saja yang di utamakan.

Budaya ndolop lahir bukan hanya semata kebetulan saja namun terdapat banyak sekali proses yang terjadi di dalamnya, dan juga banyak sekali faktor-faktor yang apabila di bedah sudah mengakar menjadi benalu dalam pohon Pendidikan kita.

Bukan hanya berdampak bagi kualitas otak manusia sebuah bangsa, namun juga budaya ndolop ini turut mempengaruhi pengajar dalam dunia Pendidikan kita. Yang harusnya menjadi role utama dalam penyampai media belajar dan diskusi, sekarang hanya menjadi sebuah alat kedunguan yang birahi akan pujian.

Pengajar-pengajar ini adalah mereka yang sebenarnya lahir daripada budaya ndolop ini. Mereka terus terlenakan nafsu jilatan yang sungguh mengasyikkan itu, sampai melupakan jikalau mereka juga adalah alat produksi daripada kedunguan. Pengajar yang harusnya pencetak manusia yang otaknya merdeka dalam berfikir malah mencetak manusia yang patuh dan suka akan rasa keringat kedunguan mereka.

Namun sekali lagi, nasi belum seutuhnya menjadi bubur. Ada upaya-upaya penyadaran yang masih bisa dilakukan, mulai dari penegasan Kembali mengenai makna akan sebuah Pendidikan hingga suatu pembersihan secara radict untuk budaya ndolop ini.

Karena dari proses ndolop ini manusia-manusia patuh di lahirkan, manusia-manusia yang pintar menghamba turut di lahirkan, siapa yang senang jika bukan mereka yang berkuasa atas segalanya itu?, karena inilah tujuan mereka, hanya menjadikan manusa sebuah alat komoditi tenaga saja.

Dari sekaranglah penghapusan budaya ndolop harus dilakukan, bukan besok, ataupun lusa, namun detik ini Ketika kawan-kawan membaca tulisan ini. Karena sekali lagi, nasi belum seutuhnya menjadi bubur.

Oleh karenanya mari dan ayo, bersihkan mereka para penjilat dari dunia kampus dan juga mari tinggalkan pengajar yang hanya birahi terhadap pujian jilatan. Terkadang kita terlalu jauh membicarakan bagaimana sebuah bangsa hancur karena rezim dan program, namun kita melupakan benalu apa yang mengakar pada Pendidikan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *