Monwnews.com, Dalam sejarah pergerakan bangsa Indonesia, nama Sarinah bukanlah sekadar nama seorang pengasuh Bung Karno di masa kecil. Bagi Soekarno, Sarinah adalah simbol dari sebuah kesadaran. Sarinah juga menjadi inspirasi utama bagi Soekarno untuk menulis sebuah buku fenomenal berjudul “Sarinah” pada tahun 1947. Buku ini bukan hanya sekadar catatan sejarah, melainkan sebuah peta jalan bagi pergerakan perempuan yang seharusnya.

Dalam peringatan Hari Kartini tahun 2026 ini, sangatlah relevan bagi kita untuk menengok kembali pemikiran-pemikiran yang pernah dituangkan Soekarno tersebut. Kita tidak bisa lagi merayakan hari perempuan ini sekadar dengan seremonial berpakaian tradisional atau perlombaan kecantikan. Kita perlu bertanya, sudah sampai di mana gerakan perempuan Indonesia. Dan apa yang harus kita lakukan untuk menjawab tantangan zaman sekarang.
Dalam bukunya, Soekarno dengan sangat teliti membedah pergerakan perempuan ke dalam tiga tingkatan. Pemahaman ini sangat penting untuk melihat apakah gerakan perempuan saat ini sudah maju atau justru masih terjebak di tempat.
Tingkatan pertama adalah gerakan yang masih berkutat pada domestikasi. Ini adalah tahap di mana perempuan hanya diajarkan untuk menjadi pendamping pria yang baik seperti memasak, merawat anak, dan menjaga estetika rumah tangga. Soekarno menilai ini sebagai langkah awal yang belum menyentuh inti masalah. Gerakan semacam ini, meskipun memberikan keterampilan, tetap tidak membebaskan perempuan dari cengkeraman sistem patriarki yang memposisikan mereka sebagai warga kelas dua.
Tingkatan kedua adalah gerakan emansipasi yang menuntut persamaan hak. Di sini, perempuan menuntut akses pendidikan, hak pilih dalam pemilu, dan kesempatan kerja yang setara. Ini adalah gerakan yang progresif pada masanya. Namun, Soekarno memberikan catatan kritis bahwa gerakan ini sering kali berwatak liberal atau borjuis. Mengapa hal ini terjadi, karena yang menikmati hasilnya sering kali hanyalah perempuan dari kalangan kelas atas yang memiliki akses dan modal. Bagi rakyat jelata atau perempuan pekerja, sekadar memiliki hak pilih atau hak bekerja tidaklah cukup untuk mengubah nasib mereka selama sistem ekonomi yang menghisap masih bercokol.
Tingkatan ketiga, yang dianggap Soekarno sebagai penyempurnaan, adalah gerakan perempuan sosialis. Ini bukan sekadar tentang perempuan yang bekerja, melainkan tentang mengubah struktur sosial yang menindas baik laki-laki maupun perempuan. Di tingkatan ini, perjuangan perempuan menyatu dengan perjuangan rakyat untuk menghapuskan kapitalisme dan membangun keadilan sosial. Perempuan dipahami sebagai bagian tak terpisahkan dari produksi masyarakat. Semakin perempuan terlibat dalam proses produksi dan politik, semakin penting posisi mereka dalam mengubah arah sejarah.
Memasuki tahun 2026, tantangan yang dihadapi perempuan Indonesia semakin kompleks. Digitalisasi, kesenjangan ekonomi yang melebar, serta krisis iklim memberikan dampak yang tidak seimbang bagi perempuan. Jika kita hanya merayakan Hari Kartini dengan seremoni formal, kita justru sedang melanggengkan apa yang dikritik Soekarno sebagai gerakan tingkat pertama.
Hari Kartini 2026 harus menjadi momen evaluasi total. Kita perlu memaknai kembali sosok Kartini bukan hanya sebagai perempuan yang menulis surat-surat cantik, tetapi sebagai sosok yang gelisah melihat ketidakadilan. Kartini 2026 adalah tentang keberanian perempuan untuk terlibat dalam politik kebijakan, bukan sekadar politik praktis elektoral.
Perempuan di tahun 2026 harus sadar bahwa hak-hak mereka seperti upah yang adil, perlindungan dari kekerasan, dan jaminan sosial sangat bergantung pada kebijakan negara. Oleh karena itu, merayakan Hari Kartini hari ini berarti memperkuat posisi tawar perempuan dalam struktur ekonomi dan politik. Kita harus beranjak dari sekadar menuntut “persamaan hak” menuju “kedaulatan rakyat” yang di dalamnya perempuan memegang peran sentral.
Salah satu kunci utama agar gerakan perempuan tidak stagnan adalah pendidikan politik yang konsisten. Inilah yang menjadi urgensi adanya kursus-kursus politik bagi kader perempuan. Banyak perempuan terjun ke organisasi atau partai politik tanpa dibekali pemahaman ideologis yang kuat, sehingga mereka hanya menjadi pelengkap atau alat untuk mendulang suara.
Kursus politik bagi perempuan bukan sekadar mengajarkan retorika pidato atau cara memenangkan suara. Lebih dari itu, kursus ini harus menjadi ruang persemaian kesadaran kritis. Kader perempuan perlu diajarkan untuk menganalisis relasi produksi, memahami bagaimana kebijakan ekonomi mempengaruhi dapur rumah tangga, dan bagaimana sistem hukum seringkali tidak berpihak pada kaum rentan.
Dengan pemahaman politik yang matang, perempuan akan mampu melihat bahwa masalah yang mereka hadapi seperti harga pangan yang mahal, sulitnya mendapatkan pendidikan bagi anak, atau ancaman penggusuran bukanlah nasib yang harus diterima begitu saja. Semua itu adalah hasil dari sistem. Dan sistem, tentu saja, bisa diubah.
Kursus-kursus ini juga bertujuan untuk membangun solidaritas. Soekarno benar ketika mengutip Lenin, “Jikalau tidak dengan mereka (perempuan), kemenangan tidak mungkin kita capai.” Perjuangan perempuan adalah perjuangan seluruh bangsa. Tanpa keterlibatan aktif dan sadar dari kaum perempuan, revolusi sosial yang bertujuan untuk kesejahteraan rakyat tidak akan pernah sampai pada tujuan akhirnya.
Sebagai refleksi kita bersama, mari kita renungkan kembali posisi kita hari ini. Apakah kita masih berada di tingkat pertama yang sibuk dengan urusan domestik. Ataukah kita sudah berada di tingkat kedua yang menuntut kesetaraan namun lupa pada struktur yang menindas. Atau, apakah kita siap melangkah ke tingkat ketiga yaitu berjuang bersama-sama, laki-laki dan perempuan, untuk membongkar sistem yang penuh dengan ketidak adilan dan melestarikan struktur penindasan rakyat.
Hari Kartini 2026 bukanlah tentang mengenang masa lalu, melainkan tentang membangun masa depan. Kita membutuhkan lebih banyak “Sarinah-Sarinah” baru yang tidak hanya cerdas dan cakap, tetapi juga memiliki keteguhan prinsip untuk membela mereka yang lemah.
Mari kita jadikan momen ini sebagai titik balik untuk memperkuat pendidikan politik bagi perempuan di setiap sudut desa hingga kota. Dengan pengetahuan, keberanian, dan solidaritas yang kuat, perempuan Indonesia akan menjadi kekuatan penentu dalam setiap perubahan besar bangsa. Sebab, seperti yang selalu diingatkan oleh sejarah, tidak ada masyarakat yang bisa maju dan beradab jika perempuan di dalamnya masih terbelenggu dalam ketidakadilan sistemik.
Perempuan bukan hanya tiang negara, melainkan juga penggerak sejarah. Selamat mempwringati Hari Kartini tahun 2026 dengan semangat perubahan yang nyata, sistematis, dan berpihak pada rakyat banyak. Mari bergerak, mari belajar, dan mari berjuang.












