Monwnews.com, Nama saya Olifia Efendi atau biasa dipanggil Olap. Saya berasal dari Lorban, Kalibaru, Banyuwangi, Jawa Timur. Melihat kondisi lingkungan sekitar, masih terdapat berbagai persoalan sosial yang cukup terasa, terutama dalam bidang pendidikan dan ekonomi masyarakat.
Sebagian anak muda di Kalibaru memilih bekerja sejak usia muda dibandingkan melanjutkan pendidikan karena kondisi ekonomi keluarga yang tidak selalu stabil.
Banyak masyarakat menggantungkan hidup pada sektor perkebunan, pertanian, maupun pekerjaan informal dengan penghasilan yang tidak menentu.
Akibatnya, pendidikan sering kali dianggap bukan kebutuhan utama, melainkan sesuatu yang sulit dijangkau oleh masyarakat kecil.
Keadaan tersebut menunjukkan bahwa masyarakat kecil masih membutuhkan perhatian serius agar memperoleh kesempatan hidup yang lebih layak.
Ketika akses pendidikan belum sepenuhnya merata dan kondisi ekonomi memaksa remaja meninggalkan sekolah lebih awal, maka ketimpangan sosial akan terus terjadi.
Padahal pendidikan menjadi salah satu jalan penting agar masyarakat mampu meningkatkan kualitas hidup dan keluar dari lingkaran kemiskinan.
Dalam kondisi seperti ini, masyarakat kecil sering kali hanya mampu bertahan hidup tanpa memiliki ruang besar untuk berkembang dan bersaing di tengah perkembangan zaman yang semakin modern.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Kabupaten Banyuwangi tahun 2024, angka kemiskinan di Banyuwangi masih berada pada kisaran 6,54% (BPS Banyuwangi, 2024).
Pemerintah daerah Banyuwangi juga menekankan pentingnya peningkatan kualitas sumber daya manusia dan pendidikan desa sebagai bagian dari persiapan menuju Indonesia Emas 2045 (Pemkab Banyuwangi, 2024).
Namun pada kenyataannya, masih terdapat wilayah pedesaan seperti Kalibaru yang menghadapi keterbatasan ekonomi dan rendahnya kesadaran pendidikan di kalangan masyarakat.
Hal ini menunjukkan bahwa pembangunan belum sepenuhnya dirasakan secara merata oleh masyarakat kecil di daerah.
Selain persoalan ekonomi, perkembangan teknologi dan media sosial juga mulai mempengaruhi kehidupan sosial masyarakat. Sebagian anak muda menjadi lebih individualis dan kurang peduli terhadap lingkungan sekitar. Budaya gotong royong yang dahulu sangat kuat perlahan mulai berkurang karena masyarakat lebih sibuk dengan kepentingannya masing-masing. Padahal kehidupan sosial yang baik tidak hanya dibangun melalui kemajuan teknologi, tetapi juga melalui rasa kepedulian, solidaritas, dan semangat kebersamaan di tengah masyarakat.
Karena itu, masyarakat hari ini membutuhkan kesadaran bersama untuk kembali membangun kepedulian sosial dan perhatian terhadap rakyat kecil. Anak muda tidak cukup hanya mengikuti perkembangan zaman, tetapi juga harus memiliki semangat belajar, berpikir kritis, dan peduli terhadap kondisi lingkungan sekitar. Pendidikan tidak seharusnya dipandang sebagai beban, melainkan sebagai jalan untuk menciptakan masa depan yang lebih baik. Jika ketimpangan pendidikan dan ekonomi terus dibiarkan, maka semakin banyak generasi muda yang kehilangan kesempatan untuk berkembang.
Kalibaru sebenarnya memiliki potensi besar untuk berkembang melalui generasi mudanya. Namun potensi tersebut membutuhkan dukungan dari masyarakat, pemerintah, dan lingkungan sekitar agar mampu tumbuh dengan baik. Oleh sebab itu, diperlukan perhatian yang lebih serius terhadap pendidikan, pemberdayaan ekonomi masyarakat, dan pembinaan sosial agar masyarakat kecil tidak terus tertinggal. Dengan begitu, masyarakat tidak hanya menjadi penonton dalam pembangunan, tetapi juga mampu menjadi bagian penting dalam menciptakan perubahan bagi daerah dan masa depan bangsa Indonesia.












