Rakyat Jember Belajarlah Ke Kabupaten Pati

Oleh: Sapto Raharjanto Ketua Bidang Penerbitan Centre Of Local Economy And Politics Studies CoLEPS Jember

Perlawanan rakyat kecil jarang sekali lahir dari keinginan spontan untuk membuat kekacauan di ruang publik. Gerakan massa hampir selalu berakar dari rasa sesak yang menumpuk sekian lama, sebuah puncak kejenuhan ketika beban hidup kian berat, ruang dialog tersumbat, dan kebijakan penguasa dirasa tidak lagi memiliki empati terhadap realitas kehidupan bawah. Dinamika sosial yang terjadi di Kabupaten Pati, Jawa Tengah, menjadi salah satu cermin paling nyata tentang bagaimana akar tradisi perlawanan lokal mampu bertransformasi menjadi gerakan sipil yang solid, terorganisasi, dan bergema hingga ke panggung nasional.

Sapto Raharjanto Ketua Bidang Penerbitan Centre Of Local Economy And Politics Studies CoLEPS Jember
Sapto Raharjanto Ketua Bidang Penerbitan Centre Of Local Economy And Politics Studies CoLEPS Jember

Melihat pergerakan masyarakat Pati hari ini membutuhkan kacamata sejarah dan sosiologis yang utuh. Wilayah pesisir utara Jawa Tengah ini dibentuk oleh rekam jejak perjuangan yang panjang dalam mempertahankan kedaulatan, martabat, dan ruang hidup. Salah satu pilar utamanya mengakar dari ajaran Saminisme di kawasan Pegunungan Kendeng. Komunitas Samin mempraktikkan bentuk perlawanan tanpa kekerasan. Pada masa kolonial, mereka melawan kewajiban pajak dan aturan tidak adil bukan dengan mengangkat senjata, melainkan dengan menolak mematuhi perintah penindas, berpegang teguh pada kejujuran, serta menjaga prinsip kemandirian.

Semangat perlawanan berbasis kelestarian tersebut terus mengalir hingga era modern. Aksi Kendeng Memanggil yang diwarnai perjuangan para petani menolak pembangunan pabrik semen demi menjaga kelestarian mata air dan lahan pertanian merupakan bukti bahwa daya kritis warga Pati tidak pernah padam. Tradisi panjang ini membentuk karakter masyarakat yang ramah, pekerja keras, dan sabar. Namun, di balik kesabaran itu terdapat garis batas yang tebal yaitu ketika keadilan diusik dan ruang hidup mereka terancam, masyarakat akan merapat dalam barisan yang sukar digoyahkan.

Dinamika sosial di Pati memanas ketika serangkaian kebijakan publik dan kasus penyelewengan dinilai sudah melampaui batas toleransi warga. Salah satu pemicu utamanya adalah kebijakan peningkatan Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan (PBB-P2) yang melonjak drastis hingga 250 persen. Kebijakan yang ditetapkan tanpa komunikasi publik yang matang ini memicu reaksi berantai. Bagi warga kecil, lonjakan pajak tersebut bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan beban nyata yang mengancam dapur mereka. Gelombang unjuk rasa massal pecah, melibatkan puluhan ribu warga dari berbagai lapisan.

Situasi makin diperkeruh oleh munculnya rentetan isu hukum yang menyita perhatian, seperti dugaan praktik pemerasan dalam pengisian jabatan perangkat desa hingga penanganan kasus di lembaga pendidikan lokal. Kombinasi antara beban ekonomi yang mencekik dan kekecewaan terhadap tata kelola birokrasi mengubah keresahan individu menjadi perlawanan kolektif. Ketika saluran aspirasi resmi dinilai kaku dan lamban, massa memilih menduduki ruang-ruang publik sebagai bentuk mosi tidak percaya.

Di tengah riak gerakan sipil tersebut, muncul figur lokal yang konsisten mengawal aspirasi warga, yaitu Supriyono, yang akrab disapa Mas Botok. Tumbuh dari realitas masyarakat bawah, pendekatan komunikasi Botok yang lugas dan ceplas-ceplos membuatnya mudah diterima oleh kalangan petani, buruh, hingga pemuda. Sebagai koordinator Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB), ia mentransformasikan keresahan warga yang terpencar menjadi aksi sipil yang terarah.

Fokus perjuangannya tidak berhenti pada isu lokal seperti penolakan kenaikan pajak. Mas Botok menggalang aksi hingga ke Gedung DPR RI di Jakarta untuk menuntut pengesahan RUU Perampasan Aset dan penegakan hukum yang keras bagi para pelaku korupsi. Jalan perjuangan tersebut diwarnai risiko besar, termasuk tindakan represif dan proses hukum. Namun, keteguhan sikapnya justru makin memperkuat legitimasinya di mata warga sebagai figur yang konsisten membela kepentingan rakyat.

Pola perlawanan rakyat yang terjadi di Pati sejatinya memiliki benang merah yang sama dengan berbagai peristiwa sejarah di Indonesia. Perbandingan antar-era memperlihatkan bahwa pergolakan sosial selalu mengikuti hukum sebab-akibat yang serupa.

Masa Bersiap (1945–1947)
Peristiwa pemicu utamanya adalah kekosongan kekuasaan pasca-kemerdekaan serta ancaman kembalinya kolonialisme. Karakteristik perlawanannya bersifat spontan, emosional, dan diwarnai aksi fisik akibat rasa curiga serta ketidakpastian politik yang meluas. Pelajaran utama dari era ini menunjukkan bahwa kecurigaan publik yang memuncak tanpa kendali dapat memicu anarki jika tidak ada kepemimpinan yang bijak dan mengayomi.

Peristiwa Tiga Daerah (1945)
Pemicu utamanya berakar dari akumulasi penderitaan ekonomi akibat beban yang sewenang-wenang serta keangkuhan birokrasi elitis sisa era penjajahan. Karakteristik perlawanannya berwujud gerakan lokal yang menumbangkan pejabat-pejabat daerah yang dianggap tidak berempati pada rakyat. Pelajaran utamanya menegaskan bahwa pejabat yang terasing dari penderitaan rakyatnya akan kehilangan legitimasi moral secara cepat.

Memasuki masa modern pemicu dari adanya gerakan rakyat bergeser ke kebijakan publik yang memberatkan, kebuntuan saluran komunikasi, serta munculnya kasus-kasus korupsi. Karakteristik perlawanannya terorganisasi melalui konsolidasi sipil, pemanfaatan media, serta penyampaian aspirasi lewat jalur hukum dan gerakan massa. Pelajaran utamanya membuktikan bahwa meski perlawanan masa kini menggunakan saluran konstitusional, daya ledaknya tetap besar jika aspirasi warga terus-menerus diabaikan.

Perbandingan ini memperlihatkan perubahan taktik dari masa ke masa. Jika pada masa lalu perlawanan rakyat cenderung berwujud konfrontasi fisik, perlawanan masyarakat modern seperti di Pati lebih mengedepankan tekanan politik, konsolidasi massa, dan tuntutan transparansi hukum. Meski demikian, inti pemicunya tetap tidak berubah yaitu rasa ketidakadilan yang dipelihara terlalu lama.

Dinamika yang terjadi di Pati sejatinya merupakan sinyal peringatan bagi pemerintah daerah di mana pun berada, termasuk Kabupaten Jember di Jawa Timur. Saat ini, Jember juga dihadapkan pada pelbagai isu kritis yang menjadi sorotan publik mulai dari penolakan warga terhadap rencana pinjaman daerah sebesar 786 Milyar, dugaan korupsi di sektor keuangan, hingga masalah sosial seperti penanganan perundungan anak, konflik agraria dan konflik sosial lainnya.

Ada beberapa kemiripan esensial antara pemicu gejolak di Pati dan potensi risiko tata kelola di Jember yaitu

Sensitivitas Isu Kebijakan Keuangan, sebagaimana masalah kenaikan pajak di Pati, rencana keputusan keuangan daerah yang berdampak pada beban publik atau kewajiban jangka panjang di Jember sangat rentan memicu resistensi jika dinilai tidak transparan atau tidak mendesak.

Pentingnya Empati Pejabat, kebuntuan komunikasi sering kali membesar bukan hanya karena isi kebijakannya, melainkan karena cara pejabat menyampaikannya. Sikap defensif atau meremehkan kritik publik adalah bahan bakar terbaik untuk memperbesar api perlawanan rakyat.

Bahaya Hilangnya Kepercayaan Publik, ketika kasus-kasus hukum atau dugaan korupsi tidak ditangani secara tuntas dan terbuka, masyarakat akan menyimpulkan bahwa pemerintah daerah telah gagal menjaga amanah kepemimpinan yang diamanatkan kepada rakyat.

Tekanan Berlebih Akan Memantik Ledakan,
sejarah telah berulang kali membuktikan sebuah teori sosial yang sangat sederhana, rakyat tidak pernah bangun di pagi hari dengan niat untuk melawan penguasa, kecuali jika mereka merasa dipojokkan tanpa pilihan.

Kekuasaan yang sehat adalah kekuasaan yang mau mendengar. Ketika kritik dari akademisi, mahasiswa, dan masyarakat akar rumput hanya dianggap sebagai kebiasaan yang mengganggu, maka penguasa sedang membangun benteng isolasi bagi dirinya sendiri. Ruang dialog yang ditutup rapat lambat laun akan meledak menjadi aksi jalanan yang jauh lebih sulit dikendalikan.

Pati telah memberikan pelajaran berharga bagi peta politik lokal Indonesia. Perlawanan rakyat kecil bukan sekadar luapan emosi sesaat, melainkan mekanisme kontrol sosial alami untuk mengembalikan arah kepemimpinan agar kembali berpihak pada kesejahteraan warga. Pemimpin yang bijak tidak akan menguji batas kesabaran rakyatnya, melainkan membuka pintu komunikasi seluas-luasnya sebelum kekecewaan itu berubah menjadi gelombang perlawanan yang tak tertahankan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *