monwanews.com-Malang,- Salah satu lembaga satuan pendidikan tingkat Menengah Atas di Kota Malang,baru saja melaksanakan kegiatan sekolah yang berbasis kebudayaan,yang diberi title Sigma – Javaheksa,yakni sebuah kegiatan yang beroreientasi untuk pembentukan karakter siswa,melalui budaya panggung tradisional Jawa,yang dilaksanakan di internal Sekolah Menengah Atas Negeri 6 Kota Malang pada tanggal 21 April 2026,bersamaan dengan Hari Kartini.
Kegiatan tersebut juga melibatkan pihak orang tua,untuk bersama mengawal anak-anaknya sekaligus memotivasi dan memberi pemahaman tentang arti pentingnya kebudayaan dalam literatur praktis di sosial kemasyarakatan.
Begitu juga peran Pihak Kepala Sekolah dan dewan guru serta tenaga pendidikan setempat dalam turut sertanya memberikan praktek dilapangan sebagai bekal pengetahuan,guna menambah penguatan karakter siswa,salah satunya menuju siswa yang bermartabat dalam jenjang pendidikan lanjutan.
Pelestarian budaya Jawa buat anak SMA/SMK itu bukan cuma biar bisa nari gambyong atau ngomong kromo inggil. Ini urusan “software karakter” yang bakal mereka bawa sampai jadi bupati, CEO, atau bapak/ibu rumah tangga.
Kenapa penting? Karena anak SMA/SMK itu lagi di fase “cari jati diri”. Kalau nggak dikasih akar budaya, gampang kebawa angin globalisasi.
Saya coba uraikan dalam pembentukan karakter siswa:
1. Nguri-uri Budaya Jawa = Pasang “Rem & Setir” Karakter
Nilai Budaya Jawa Relevan di SMA/SMK Karakter yang Terbentuk
*1. *Tepa Selira / Tenggang Rasa* Kelas isinya 36 kepala, beda agama, beda status ekonomi, beda geng/komunitas.
*Empati & Toleransi*. Siswa belajar nggak nyenggol SARA, nggak ngebully. Jadi calon pemimpin yang nggak main pecah belah.
*2. *Andhap Asor / Rendah Hati* Zaman medsos semua pamer prestasi dan flexing. *Kerendahan Hati*. Siswa pinter tapi nggak sombong. Mau dengerin guru, mau belajar dari teman yang lebih susah. Anti mental “mentang-mentang”.
*3. *Saiyeg Saeka Praya / Gotong Royong Tugas kelompok, praktik kerja industri, event sekolah. *Kolaborasi dan Tanggung Jawab*.
Belajar bunyi-bunyian kotekan lesung : sukses itu hasil mukul bareng. Nggak ada “one man show”. Di dunia kerja, ini mahal.
*4. *Memayu Hayuning Bawana / Menjaga Keindahan Dunia* Anak SMA/SMK jangan bikin limbah praktik, misal corat-coret meja,atau baju seragam saat pesta lulusan* Peduli Lingkungan & Sosial*. Siswa mikir dampak perbuatannya ke orang lain dan lungkungan alam.,kelak mejadi
Calon Pejabat yang nggak gampang babat hutan dan merusak lingkungan.
*5. *Alon-alon Waton Kelakon / Pelan-pelan Asal Kesampaian* Budaya instan : pengen viral, pengen kaya cepet, nggak tahan proses. *
Ketekunan dan Proses*. Siswa SMA/SMK tahan ngamplas kayu 3 jam artinya, Siswa SMA/SMK tahan ngerjain soal matematika. Anti mental “jalan pintas” dan korupsi.
*6. *Aja Dumeh / Jangan Mentang-mentang* Dumeh pinter, dumeh anak orang kaya, dumeh ketua OSIS *Keadilan dan Integritas*. Siswa belajar bahwa kuasa dan kelebihan itu buat ngemong, bukan buat nekan.Ini pembentukan mental anti “pejabat pejambret”.
2. Makna Praktis Buat Anak SMA/SMK Zaman Now
1. Jadi “Filter Hoax”: Anak yang kenal falsafah Cekap Semu Azising Catur – harus waspada pada omongan 4 penjuru – nggak gampang kemakan berita adu domba di medsos,misal TikTok. Karakter: Kritis dan Bijaksana.
2. Jadi “Tahan Banting” di Dunia Kerja: Lulusan SMA/ SMK yang paham Ngunduh Wohing Pakarti – menuai hasil dari perbuatan – nggak kaget pas digembleng di sebuah perusahaan,misal di pabrik. Nggak dikit-dikit resign karena “mental health”. Karakter: Tangguh dan Etos Kerja.
3. Jadi “Pemimpin yang Njawani”: Njawani itu bukan lemes. Tapi tegas dan nganggo rasa. Siswa SMA/SMK yang belajar kepemimpinan dari Semar, bukan cuma dari Marvel. Karakter: Kepemimpinan Beretika. Semar itu kaya, sakti, tapi milih jadi penasihat pakai dengan kostum sederhana,yakni kebaya dan sendal jepit.
4. Punya “Rumah” Saat Identitas Krisis: Usia 15-18 itu galau. Budaya Jawa ngasih pager atau pagar. Mau sejauh apapun merantau, dia tahu di mana akarnya. Karakter: Percaya Diri dan Nggak Minder. Jadi nggak kebarat-baratan tapi lupa unggah-ungguh atau adab.
5. Kalau Nggak Dilestarikan, Apa Ruginya?
Kalau anak SMA/SMK dicabut dari akar budaya Jawa:
1. Karakter jadi “copas”: Nggak punya nilai orisinal. Gampang ikut-ikutan tren yang rusak.
2. Gampang jadi “Alu yang Mukul Sendiri”: Pinter tapi individualis. Di kantor nyikut teman, di pemerintahan korupsi. Karena nggak kenal kotekan lesung.
3. Negara kehilangan “Sendok”: Generasi penerus nggak paham cara “nyendokin keadilan” dengan rasa. Jadinya hukum dan politik kaku, nggak manusiawi.
Kesimpulannya, :
Ngajarin budaya Jawa ke anak SMA/SMK itu kayak nanem “chip anti-virus” di karakter mereka.
Contoh
-Kopi ngajarin mereka melek realita.
-Ketan Srundeng ngajarin mereka lengket dalam kolaborasi.
-Lesung ngajarin mereka bahwa sukses harus mukul bareng dengan irama.
-Sendok ngajarin mereka kuasa itu buat berbagi, bukan nyerok sendiri.
Anak yang punya ini, mau jadi teknisi, dokter, atau bupati, dia bakal tetap jadi “manusia Jawa”: pinter tapi nggak keblinger, kuasa tapi nggak dumeh, modern tapi nggak ilang oyotnya.
Itu warisan karakter paling mahal yang nggak diajarin di buku paket, tapi ada di seputar kita, di dapur, di warung kopi dan lain tempat. Tugas kita mastiin mereka mau “nyicipin” dan ngerasain realita sosial.












