Orang Kampung, Raja Tua, dan Putra Mahkota

Oleh : Nyi Deasy - Budayawan, Tarot Reader, Sekretaris Yayasan Satria Merah Jambu

Monwnews.com, Di Indonesia, politik tak pernah sekadar soal kebijakan. Ia juga soal simbol, asal-usul, jasa, dan siapa yang berhak menulis legenda. Saat Jusuf Kalla mengungkit perannya, Jokowi menjawab “saya orang kampung”, dan Gibran menyebut JK sebagai idola, yang bertarung sesungguhnya bukan hanya tokoh—tetapi arketipe, nafs, dan perebutan makna.

Nyi Deasy - Budayawan, Tarot Reader, Sekretaris Yayasan Satria Merah Jambu
Nyi Deasy – Budayawan, Tarot Reader, Sekretaris Yayasan Satria Merah Jambu

Di negeri ini, politik sering kali kalah jujur dibanding sastra. Ia bicara soal prosedur, tetapi bekerja lewat simbol. Ia mengaku rasional, tetapi hidup dari mitos. Ia berbicara tentang institusi, tetapi bergerak melalui tubuh-tubuh tokoh yang memanggul sejarah, luka, dendam, jasa, dan citra. Maka ketika Jusuf Kalla mengungkit perannya dalam menjadikan Joko Widodo presiden, Jokowi membalas dengan kalimat “Saya ini bukan siapa-siapa. Saya orang kampung,” dan Gibran memilih menyebut JK sebagai “idola saya,” kita sesungguhnya tidak sedang melihat saling sahut biasa. Kita sedang menyaksikan teater simbolik Indonesia bekerja dalam bentuk yang sangat telanjang.

Peristiwa itu punya konteks. JK kembali masuk ke sorotan setelah terseret dalam polemik ijazah Jokowi dan menyarankan agar ijazah asli diperlihatkan ke publik untuk mengakhiri kegaduhan. Di saat yang sama, ia menegaskan perannya dalam perjalanan politik Jokowi dari Solo hingga Jakarta dan kemudian ke kursi presiden. Jokowi menjawab singkat dari Solo, sementara Gibran di Sorong memilih nada hormat dan menempatkan JK sebagai mentor serta tokoh senior. Secara faktual, rangkaian ini tercatat dalam laporan media dan pernyataan resmi sepanjang 18–23 April 2026.

Kalau dibaca dengan akal politik biasa, ini bisa dianggap sekadar permainan saling klaim. Namun bila dibaca lebih dalam—dengan psikologi analitik, simbolisme Tarot, hermetisme, neoplatonisme, tasawuf, dan spiritualitas Jawa—episode ini berubah menjadi sesuatu yang lebih mengganggu. Yang bertarung bukan hanya tiga orang, tetapi tiga model legitimasi: legitimasi patron, legitimasi rakyat kecil, dan legitimasi pewaris. Yang diperebutkan bukan cuma siapa berjasa, tetapi siapa yang berhak menjadi penulis resmi asal-usul kuasa. Dan seperti semua perebutan asal-usul, ia selalu lebih berbahaya daripada perebutan jabatan itu sendiri.

Politik Indonesia dan penyakit asal-usul

Di negara yang belum sepenuhnya berdamai dengan sejarahnya sendiri, asal-usul adalah mata uang moral. Siapa yang “membesarkan” siapa, siapa yang “mendorong” siapa, siapa yang “mengangkat” siapa, semua itu bukan trivia. Itu adalah sumber kuasa simbolik. Sebab dalam politik Indonesia, seseorang tidak hanya ingin menang. Ia ingin diakui sebagai pembentuk kemenangan. Ia ingin tercatat sebagai tangan tak terlihat di balik tokoh besar. Ia ingin namanya tinggal, bahkan ketika jabatan sudah tidak lagi di tangan.

Jusuf Kalla berbicara dari posisi itu. Ketika ia menyatakan, pada pokoknya, bahwa Jokowi menjadi presiden karena dirinya ikut berperan, ia sedang melakukan dua hal sekaligus. Pertama, mengingatkan publik bahwa sejarah tidak lahir spontan; ada arsitek, ada negosiator, ada broker legitimasi. Kedua, merebut kembali ruang makna yang mungkin selama ini terlalu dikuasai oleh narasi Jokowi tentang dirinya sebagai figur yang lahir dari bawah tanpa banyak hutang simbolik kepada elite lama.

Jokowi membalas dengan sangat khas: bukan dengan bantahan data panjang, tetapi dengan citra. “Saya bukan siapa-siapa. Saya orang kampung.” Kalimat ini tampak sederhana, tetapi justru karena itu sangat kuat. Ia menghindari arena debat jasa dan segera memindahkan pertarungan ke medan moral yang berbeda: bukan siapa yang membentuk siapa, melainkan siapa yang tampak lebih dekat dengan rakyat biasa. Ini langkah yang sangat Jokowi. Ketika disudutkan di satu arena, ia keluar dan membuka arena baru yang lebih menguntungkan personanya.

Gibran, sementara itu, tidak masuk ke arena konflik. Ia memilih bahasa hormat: JK adalah idola, mentor, tokoh senior, teladan. Ini bukan sekadar sopan santun. Ini juga strategi simbolik. Gibran tahu bahwa sebagai pewaris kuasa, ia membutuhkan jembatan dengan generasi tua elite, bahkan ketika ayah biologis dan ayah simbolik itu sedang berada dalam tegangan. Ia tidak membantah JK karena membantah senior justru akan merusak citra kematangannya. Ia juga tidak mengamini secara frontal, karena itu bisa mengurangi aura politik ayahnya. Maka ia memilih jalur ketiga: penghormatan diplomatik.

Dari sini kita sudah melihat sesuatu yang penting: politik Indonesia tidak kekurangan fakta, tetapi kelebihan simbol. Dan simbol jauh lebih menentukan daripada fakta jika yang diperebutkan adalah imajinasi publik.

Tarot: ketika tokoh berubah menjadi arketipe

Tarot sering dipandang remeh sebagai alat ramalan populer. Padahal, dalam pembacaan yang serius, Tarot adalah sistem semiotik yang memetakan arketipe besar manusia. Encyclopaedia Britannica mencatat bahwa Tarot modern terdiri dari 78 kartu: 22 Major Arcana dan 56 Minor Arcana. Yang pertama bergerak di wilayah arketipe besar—kuasa, kematian, keadilan, dunia, ilusi, pertapaan. Yang kedua bergerak di dunia sehari-hari—konflik, emosi, materi, kehendak. Ia bukan sekadar alat menebak masa depan, tetapi bahasa simbolik untuk membaca struktur jiwa dan struktur peristiwa.

Dalam drama JK–Jokowi–Gibran, JK paling dekat dengan gabungan The Emperor dan The Hierophant. The Emperor adalah arketipe struktur, tatanan, patriarki, otoritas formal dan informal. The Hierophant adalah penjaga tradisi, guru, penafsir legitimasi. JK berbicara dari kombinasi dua posisi ini: ia bukan hanya senior, tetapi senior yang mengklaim tahu dapur pembentukan sejarah. Ia seperti ingin berkata: jangan lupa, dalam cerita besar kekuasaan, ada tangan saya. Ia bicara bukan sebagai penonton, melainkan sebagai pemegang kunci.

Jokowi, anehnya, justru memilih topeng yang berlawanan. Ia tidak tampil sebagai Emperor meski pernah menjadi presiden. Ia memilih energi The Fool, The Hermit, dan sedikit Page of Pentacles. The Fool adalah sosok awal, orang biasa, yang terlihat tak punya atribut besar tetapi justru menyimpan potensi melintasi dunia. The Hermit adalah figur yang menarik diri dari keramaian untuk berbicara dengan lampu kecilnya sendiri. Page of Pentacles adalah figur bumi: sederhana, praktis, dekat dengan tanah, tidak mewah, tidak aristokratik. “Orang kampung” adalah kostum simbolik yang sangat efektif untuk kombinasi ini. Jokowi seolah berkata: Anda bisa mengklaim jasa, tapi saya lahir dari tanah yang lebih dulu dipercaya rakyat.

Gibran lebih mirip Page atau Knight muda yang sedang belajar bahasa istana. Ia belum bisa tampil sebagai King, tetapi sudah belajar mengelola hirarki. Ia memilih energi Temperance: meredakan, mencampur, menenangkan dua arus yang berpotensi bertabrakan. Ia tidak mengubah konflik menjadi duel terbuka, tetapi menjadi ritus penghormatan. Ini sangat penting untuk figur pewaris. Pewaris yang terlalu kasar akan dianggap belum matang. Pewaris yang terlalu pasif akan dianggap tak punya nyali. Gibran mengambil jalan aman: hormat tanpa tunduk total.

Tetapi keseluruhan episode ini juga dilingkupi oleh The Moon dan Justice. The Moon melambangkan kabut, rumor, kecemasan, proyeksi, ilusi, wilayah ketika tak ada yang sepenuhnya terang. Polemik ijazah, klaim jasa, jawaban simbolik, semua itu hidup dalam kabut seperti ini. Sementara Justice adalah arketipe timbang-menimbang: publik menilai, siapa yang lebih sah, lebih jujur, lebih meyakinkan secara moral. Dalam politik modern, pengadilan moral publik sering lebih menentukan daripada pengadilan formal. Dan dalam kasus ini, yang dipertarungkan adalah persepsi keadilan sejarah.

Hermetisme: yang di atas ternyata yang di bawah

Hermetisme mengajarkan satu prinsip terkenal: apa yang di atas tercermin pada yang di bawah, dan apa yang di dalam tercermin pada yang di luar. Intinya, struktur besar memantul dalam detail kecil. Sebuah kalimat bisa memuat kosmologi. Sebuah senggolan politik bisa memantulkan struktur peradaban. Itulah sebabnya pertukaran pernyataan ini menarik. Yang tampak seperti drama personal ternyata mencerminkan formasi politik Indonesia yang lebih dalam: kuasa selalu bekerja lewat relasi patronase, asal-usul, simbol kerendahan hati, dan produksi citra.

JK berbicara dari logika vertikal. Dalam logika ini, sejarah dibangun oleh elite yang tahu arah, memberi tempat, membuka pintu, dan mengatur konfigurasi. Jokowi menjawab dengan logika horizontal. Dalam logika ini, legitimasi datang dari rakyat, dari bawah, dari kampung, dari “bukan siapa-siapa.” Gibran berdiri di titik tengah: ia memelihara koneksi vertikal tanpa menghancurkan legitimasi horizontal yang membesarkan nama ayahnya.

Dengan demikian, yang kita lihat bukan sekadar beda pendapat, tetapi benturan dua metafisika politik Indonesia. Yang satu percaya bahwa sejarah dibentuk oleh broker, kingmaker, dan elite lama. Yang lain percaya bahwa sejarah harus terus dibaca sebagai cerita orang biasa yang naik karena dukungan rakyat. Padahal, seperti biasa dalam politik, yang benar sering bukan salah satunya melainkan campuran keduanya. Tetapi publik tidak selalu menyukai campuran. Publik menyukai narasi yang jernih. Dan Jokowi selama ini jauh lebih terampil dalam menyediakan narasi yang jernih ketimbang para senior yang merasa berhak atas sejarah.

Neoplatonisme: perebutan nama sebagai tanda kejatuhan jiwa

Plotinus, pendiri neoplatonisme, memandang realitas sebagai gerak dari Yang Esa menuju keberagaman, lalu kerinduan untuk kembali ke sumber. Dalam bahasa yang lebih sederhana: semakin jauh sesuatu dari pusat, semakin pecah ia ke dalam banyak bentuk, banyak ego, banyak klaim. Politik modern sangat sering hidup di wilayah pecah itu. Semua orang ingin menjadi sumber. Semua orang ingin disebut penting. Semua orang ingin punya jejak pada asal-usul kuasa.

Episode ini menunjukkan dengan telanjang gejala itu. JK ingin diingat sebagai pembentuk. Jokowi ingin tetap dikenang sebagai figur organik yang naik dari bawah. Gibran ingin memastikan garis pewarisan tidak tercabik. Ketiganya, dalam cara berbeda, sedang mengelola hubungan dengan “sumber” kuasa. Bukan semata kekuasaan formal, tetapi legitimasi metaforis: dari mana tepatnya kewibawaan itu lahir?

Neoplatonisme memberi pelajaran yang ironis di sini. Semakin jauh jiwa dari kesatuan, semakin ia sibuk dengan bentuk-bentuk luar: nama, jasa, citra, pengakuan. Semakin dekat ia ke pusat, semakin ia tak perlu bertengkar tentang kredit sejarah. Dilihat dari sini, polemik ini agak muram. Sebab ia memperlihatkan bahwa dalam politik Indonesia, bahkan para tokoh besar pun tampaknya belum benar-benar selesai dengan kebutuhan untuk diakui sebagai asal mula sesuatu.

Jung: raja tua, anak kampung, dan putra mahkota

Carl Gustav Jung memberi kita bahasa yang lebih psikologis. Yang bermain di sini bukan cuma tokoh politik, melainkan arketipe. JK adalah raja tua atau patriark bijak. Kekuatan arketipe ini terletak pada pengalaman, umur, dan aura pembentuk tatanan. Ketika tokoh seperti ini bicara, ia sedang menuntut agar sejarah tidak melupakan peran ayah. Dan banyak masyarakat, termasuk Indonesia, sangat peka pada figur ayah seperti ini.

Jokowi, sebaliknya, mengaktifkan arketipe anak kampung atau ordinary man. Ini arketipe yang sangat kuat dalam masyarakat yang lama muak pada elite. Figur ini tidak berangkat dari darah biru, tidak datang dari menara gading, dan justru karena itu memperoleh simpati besar. Persoalannya, dalam psikologi analitik, arketipe semacam ini bisa menjadi persona yang sangat efektif: topeng sosial yang begitu kuat sampai orang sulit membedakan di mana keaslian berakhir dan konstruksi citra dimulai.

Gibran memainkan arketipe putra mahkota. Ia bukan anak biasa. Ia masuk ke ruang kuasa melalui garis keturunan dan tetap harus belajar membaca tanda-tanda istana. Ia perlu senior yang diakui, tapi tidak boleh terlalu ditundukkan olehnya. Karena itu responsnya begitu steril, rapi, dan beradab. Ia seperti anak pangeran yang tahu betul kapan harus menunduk dan kapan harus diam.

Tapi Jung juga akan bertanya: apa bayangannya? Bayangan JK ialah kebutuhan untuk tetap relevan sebagai penulis sejarah. Bayangan Jokowi ialah penggunaan kerendahan hati sebagai instrumen kuasa. Bayangan Gibran ialah diplomasi dingin yang bisa kehilangan kedalaman moral. Dalam psikologi analitik, bayangan tidak selalu jahat. Ia hanya sisi yang tidak diakui sepenuhnya. Dan politik sering kali menjadi panggung tempat bayangan itu justru bekerja paling efektif.

Tasawuf: tawadu’ yang asli dan tawadu’ yang dipentaskan

Tasawuf mengajarkan bahwa persoalan manusia paling berat bukan sekadar salah langkah, tetapi nafs yang tak dibersihkan. Jiwa harus melalui tazkiyat al-nafs: mengosongkan sifat buruk, menghiasi diri dengan sifat baik, lalu membuka ruang bagi pancaran kebenaran. Dalam kerangka ini, polemik politik dapat dibaca lebih keras daripada sekadar siapa menang narasi. Pertanyaannya menjadi: siapa yang sedang dikuasai ujub? siapa yang sedang memakai bahasa rendah hati sebagai topeng? siapa yang sedang menjadikan adab sebagai kalkulasi?

JK bisa dibaca sedang berdiri di antara amanah kesaksian dan jebakan ujub sejarah. Boleh jadi ia merasa perlu meluruskan narasi. Tetapi secara spiritual, kesaksian tentang jasa diri sendiri selalu berada di wilayah rawan. Sebab nafs yang paling halus justru muncul saat seseorang berkata, “Saya hanya menyampaikan fakta.” Faktanya bisa benar, tetapi jiwa yang membawanya belum tentu bebas dari hasrat untuk tetap menjadi pusat.

Jokowi menggunakan bahasa tawadu’: saya bukan siapa-siapa, saya orang kampung. Dalam tasawuf, tawadu’ yang sejati selalu membuat jiwa semakin jernih, bukan semakin strategis. Di sinilah masalahnya. Bahasa rendah hati dalam politik hampir selalu punya dua wajah: bisa asli, bisa juga performatif. Tasawuf tidak menghakimi dari kata-kata, melainkan dari buah. Apakah kerendahan hati itu menjernihkan keadaan atau sekadar memindahkan perhatian? Apakah itu pengakuan hakiki atau persona yang sudah lama dikerjakan? Pertanyaan seperti ini tidak bisa dijawab cepat.

Gibran menunjukkan adab kepada senior. Itu baik. Tetapi tasawuf juga mengingatkan bahwa adab lahiriah belum tentu menandakan kejernihan batin. Sopan santun bisa menjadi kebijaksanaan, bisa pula menjadi pagar pengaman politik. Karena itu, pembacaan tasawuf atas episode ini cenderung sinis terhadap semua pihak: karena ego paling berbahaya justru ego yang tahu cara berbicara sopan.

Spiritualitas Jawa: “orang kampung” dan kecurigaan pada keramaian ego

Dalam dunia Jawa, kata-kata bukan hanya alat komunikasi; ia juga alat tata krama dan alat kuasa. Frasa “orang kampung” bekerja kuat karena ia menyentuh etika Jawa tentang merendahkan diri. Tetapi justru karena itu, ia juga bisa menjadi senjata simbolik yang sangat halus. Orang yang tampak menunduk sering kali justru memenangi simpati terbanyak.

Spiritualitas Jawa kuno mengenal gagasan sangkan paraning dumadi—dari mana manusia berasal dan ke mana ia kembali. Dalam horizon ini, pertanyaan tentang asal-usul bukan untuk direbut sebagai kredit politik, melainkan untuk direnungi sebagai jalan pulang. Itu sebabnya pembacaan Jawa pada polemik semacam ini cenderung getir: mengapa tokoh-tokoh sebesar ini masih harus bertengkar tentang siapa yang membentuk siapa? Mengapa asal-usul kuasa harus diperlakukan seperti sertifikat kepemilikan?

Kapitayan, dalam sejumlah tafsir kontemporer, memahami Yang Tertinggi sebagai Sang Hyang Taya: suwung, tak terbayangkan, tak dapat dipadatkan dalam bentuk. Kalau pusat tertinggi justru kosong dari citra, maka keramaian klaim jasa ini tampak sebagai permainan bentuk yang sangat fana. Spiritualitas Jawa mengajarkan eling lan waspada: sadar diri, awas terhadap jebakan ego, curiga pada keramaian panggung. Sayangnya, politik modern justru dibangun di atas panggung itu. Dan karena itu, ia selalu berisiko menjauh dari kebeningan.

Politik sebagai alat divinasi kolektif

Tarot sebagai alat divinasi yang serius bukan mesin ramalan, melainkan cermin konflik etis manusia. Dalam arti itu, peristiwa JK–Jokowi–Gibran juga bisa dibaca sebagai semacam pembacaan kolektif atas jiwa politik Indonesia. Kita melihat apa yang paling dihargai publik: senioritas, kesederhanaan, atau stabilitas. Kita juga melihat apa yang paling dibutuhkan elite: pengakuan, citra, atau perlindungan garis keturunan.

Divinasi yang sehat tidak berakhir pada kepastian gaib, tetapi pada kejernihan etik. Maka pembacaan simbolik terhadap episode ini semestinya membawa kita pada kesimpulan yang tidak nyaman: politik Indonesia masih sangat ditentukan oleh siapa yang mampu menguasai cerita tentang asal-usul, jasa, dan kesederhanaan. Dan selama kuasa simbolik lebih penting daripada pembersihan jiwa, pertarungan semacam ini akan terus berulang. Yang berganti hanya nama tokohnya.

Penutup: kerajaan di bawah rembulan

Pada akhirnya, polemik ini lebih besar daripada tiga tokoh itu sendiri. Ia menunjukkan bahwa Indonesia modern tetap hidup di bawah mitologi politik yang tua: raja tua yang ingin diingat, anak kampung yang ingin tetap tampak murni, dan putra mahkota yang belajar merawat garis darah serta garis hormat sekaligus. Semua itu dibungkus dalam bahasa demokrasi, tetapi digerakkan oleh arketipe-arketipe purba.

Itulah sebabnya pembacaan lewat Tarot, hermetisme, neoplatonisme, Jung, tasawuf, dan spiritualitas Jawa tidak terasa asing. Justru ia membantu menjelaskan sesuatu yang tidak mampu dijelaskan oleh berita biasa: mengapa satu kalimat bisa begitu kuat, mengapa satu klaim jasa bisa begitu mengganggu, mengapa satu respons hormat bisa begitu strategis.

Jusuf Kalla sedang berusaha menulis dirinya sebagai arsitek sejarah. Jokowi sedang mempertahankan mitosnya sebagai anak bumi yang tak sepenuhnya diciptakan elite. Gibran sedang belajar bahwa pewaris tidak cukup hanya punya jabatan; ia harus tahu bagaimana merawat para ayah simbolik tanpa kehilangan legitimasi keluarganya sendiri. Semua itu berlangsung di bawah kabut isu ijazah, komentar media, dan penilaian publik.

Dalam bahasa Tarot, ini adalah kerajaan yang masih berjalan di bawah The Moon: banyak kabut, banyak citra, banyak kebenaran setengah terang. Dalam bahasa tasawuf, ini adalah politik yang belum selesai dengan nafs. Dalam bahasa Jawa, ini adalah keramaian yang lupa suwung. Dan dalam bahasa kita sehari-hari, mungkin ini cuma mengingatkan satu hal lama: di Indonesia, kekuasaan tidak pernah cukup dimenangkan. Ia juga harus diceritakan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *