Para Resi di Medan Laga Kurusetra

Oleh: Ngatawi AL-Zastrouw

Monwnews.com, Dalam kisah wayang, ada beberapa resi yang terlibat dalam pertempuran di medan laga Kurusetra saat terjad perang Baharata Yudha.

Sebelum perang Bharata Yuda pecah, para resi ini adalah sosok panutan para ksatria baik dari Kurawa maupun Pandawa.

Beberapa resi yang turun kemedan pertempuran diantaranya Resi Durna, resi Bisma, dan resi Seta.

Sebenarya resi Dorna adalah guru para Pandawa dan Kurawa. Ia adalah guru yang mengajarkan ilmu ketrampilan bertempur, strategi perang dan laku spiritual.

Sebagai seorang resi, Dorna menjadi figure yang sangat dihormati. Apapun perintah dan pernyataannya dijalankan tanpa patuh, meski kadang membahayakan dan mengancam keselamatan diri, seperti perinthnya pada Bima dalam lakon Dewa Ruci, dan kasus Bambang Ekalaya.

Meski menempati posisi mulia, namun Durna dikenal sebagai sosok yang congkak, sombong dan licik, pendendam dan suka adu domba.

Sedangkan sisi baik resi Durna adalah penyayang murid. Karena rasa cintanya pada murid inilah dia menghindari berperang menghadapi Bima, Arjuna, Nakula dan Sadewa dalam perang Barata Yudha.

Karena mereka semua adalah murid-murid terkasihnya.

Di medan Kurusetra, resi Durna adalah sosok pahlawan yang pilih tanding, sakti mandraguna dengan skill berperang yang canggih.

Dia memiliki senjata ampuh berupa panah Cundamanik.

Saat memimpin pasukan Kurawa Durna menggunakan strategi Cakrawyuha. Strategi ini berbentuk lingkaran raksasa yang berputar seperti cakram dengan system buka tutup yang rumit.

Selain untuk menghancurkan dinding pertahanan lawan, strategi ini juga dapat menjebak musuh dalam perangkap lingkaran Cakrawyuha yang sulit keluar.

Banyak ksatria Pandawa yang terperangkap kemudian gugur, diantaranya Abimanyu.

Dengan strategi ini resi Durna berhasil memporakporandakan benteng pertahanan Pandawa.

Resi Durna meninggal karena termakan siasat Hoax yang disebarkan oleh Kresna. Di tengah sengitnya pertempuran, dihembuskan kabar Aswatama, anak satu-satunya resi Dorna meninggal di medan perang.

Mendengar berita putra tersayang memeninggal, yang senbenarnya hanya hoax, resi Durna terbakar amarahnya hingga kehilangan akal sehat.

Dia ingin membalas dendam menghancurkan Pandawa dengan senjata andalanya, Bramsta.

Prabu Kresna mencoba menghentikan amarah Durna dan menyadarkan bahwa perang Bharata Yudha terjadi karena kesalahannya hanyut dalam membela keangkaramurkaan.

Resi Durna akhirya gugur di tangan Drestajumna, yang kerasukan arwah Bambang Ekalaya, seorang ksatria dari wangsa Nishada yang pernah diperlakukan tidak adil saat ingin berguru padanya.

Resi lainnya yang ikut bertempur di medan laga adalah Resi Bisma.

Sebagaimana resi Durna, Bisma juga berpihak pada Kurawa. Sebenarnya dia tidak membela para kurawa, dia berperang untuk menepati sumpah baktinya membela negeri Hastina.

Bisma adalah seorang resi yang sakti. Salah satu kesaktiannya adalah dia dapat menentukan waktu kematiannya sendiri.

Keberadaan resi Bisma di medan laga menjadi banteng pertahanan Kurawa yang sulit ditembus oleh pasukan Pandawa..

Di medan perang Baharata Yuda, Bisma Gugur di tangan Srikandi, seorang ksatria perempuan Pandawa.

Dikisahkan, saat berhadapan dengan Srikandi, resi Bisma seperti melihat wajah dewi Amba, perempuan yang dibunuhnya secara tidak sengaja.

Menjelang ajal, Dewi Amba bersumpah akan membalas dan menunggunya di pintu surge.

Begitu melihat wajah Dewi Amba pada sosok Srikandi, resi Bisma memerint hkan Srikandi agar segera melepas panahnya. Saat itu juga, Srikandi yang sudah kemasukan ruh Deri Amba langsung melepaskan anak panah dan mengenai tubuh resi Bisma.

Saat itu juga resi Bisma jatuh dari kereta dengan luka penuh tertancap anak panah.

Sebelum menghembuskan nafas terakhir, Bisma minta tempat untuk berbaring. Para ksatria Korawa memberikan tempat yang indah dan mewah namun resi Bisma menolak.

Bisma justru menerima ujung panah pemberian para Pandawa sebagai tempat pembanringan(sarpatala).

Di atas ujung anak panah yang menjadi pembaringan, resi Bisma memaggil nama “Amba” hingga ajal menjemputnya.

Selain resi Durna dan Bisma, ada resi Seta yang juga bertempur di medan laga dalam perang Bharata Yuda.

Jika dua resi sebelumnya, Dorna dan Bisma, berpihak pada Kurawa, resi Seta berada di pihak Pandawa.

Saat turun ke medan perang, resi Seta didampingi Arya Utara di sayap kanan dan Arya Wratsangka di sayap kiri.

Mereka turun ke palagan dengan denga siasat perang Barajatikswa yang berarti senjata tajam.

Di medan perang, resi Seto berhadapan dengan resi Bisma. Terjadi perang tanding antara keduanya, antara sesame resi, sesama orang suci yang mestinya hanya member wejangan moral dan etik kepada para ksatria di mandala.

Namun kali ini para resi yang merupakan orang-orang suci penjaga moral, bertempur di medan perang, sehingga mereka harus adu ketrampilan memainkan panah dan senjata perang lainnya.

Menghadapi resi Seta, resi Bisma menggunakan semua senjata dan ilmu kesaktian yang dimiliki.

Beberapa Senjata resi Bisma adalah Busur Naracabala, Panah Kyai Cundarawa, serta senjata Kyai Selukat.Sedangkan aji jaya kawijayan (kesaktian) yang dimiliki resi Bisma adalah Aji Nagakruraya dan Aji Dahana.

Sedangkan resi Seta menggunakan senjata gada Kyai Lukitapati, senjata sakti yang dapat mengatarkan orang yang mendekatinya kepintu kematian.

Pertempuran berjalan seru dan seimbang, hingga akhirnya resi Bisma berhasil mengalahkan dan membunuh resi Seta.

Dalam dunia pewayangan maupun tatanan social masyarakat tradisional Nussantara, resi atau brahmana menemparti strata social paling tinggi. Resi dipandang sebagai manusia suci, penjaga moral dan nilai-nilai kehidupan. Menjadi rujukan dalam kehidupan.

Para ksatria selalu meminta arahan dan pendapat para resi saat menghadapi kesulitan atau hendak memutuskan masalah besar karena dianggap memiliki ketajaman batin dan kebersihan hati sehingga mampu memberikan pandangan yang jernih dan putusan yang adil.

Bercermin dari kisah pewayangan kita dapat melihat, jika seoranag resi turun ke medan laga dia bukan lagi sosok yang diperlakukan sesuai layaknya seorang resi, tetapi diperlakukan layakanya ksatria yang sedang bertemur di medan nlaga.

Dia terkena hokum permainan perang/kompetisi. Sesuci dan mulia apapun para resi, di medan pertarungan, mereka adalah petarung atau pemain yang harus menghadapi intrik, tipu muslihat dan fitnah sebagai bagian dari strategi di medan perang.

Ibaratnya, mau ulama besar, intelektual hebat atau pejabat tinggi, kalau turun ke lapangan menjadi pemain bola, maka harus terkena aturan main bola.

Di lapangan dia tidak bisa lepas dari sleding tackle dan body charge sebagai strategi merebut kemenangan dan menghindari kekalahan.

Ketika ada seorang santri yang melakukan tackling kyainya, atau bawahan mensledding atasannya saat bermain sepak bola, bukan berarti santri atau bawahan tersebut tidak sopan dan su’uladab karena berani kasar pada kyai atau atasannya.

Demikianlah kompetisi dan pertarungan, selalu memiliki aturan main, stadar nilai dan etik tersediri yang hanya boleh berlaku saat permainan berlangsung.

Artinya standard etik dan aturan tersebut hanya berlaku dalam wilayah (lapangan) dan saat permainan berlangsung.

Siapapun orangnya, resi, ulama, pejabat, maupun rakayat jelata, yang masuk dalam medan permainan akan terkena aturan main dan standard etik tersebut.

Karena aturan main dan etik hanya berlaku pada saat permainan berlangsung, maka di luar lapangan dan ketika permainan selesai,aturan dan nilai etik tersebut menjadi tidakberlaku. Sebagimana tercermin dalam kisah wayang di atas.

Meskipun resi Bisma adalah musuh di medan perang, tapi di luar medan perang para Pandawa tetap hormat dan memperlakukan sang resi di tempat mulia.

Hal ini terihat pada sikap para Pandawa merawat Bisma saat menjemput ajal karena terluka parah tertusuk panah Srikandi.

Kisah para resi di medan laga ini dapat menjadi cermin dan sumber inspirasi bagi kita dalam melihat fenomena yang terjadi saat ini. Dengan bercermin dari kisah ini, kita akan dapat memandang dan memahami keterlibatan para resi atau orang-orang suci dalam medan pertarungan (kontestasi), kemudian mensikapinya secarabijak. *****

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *