Ngomyang Minggu Siang Diantara Superposition Dan Serta Wahdatul Wujud Ibnu Arabi

Oleh: mBah Kuntjir INAKER.

Monwnews.com, Konsepsi Wahdatul wujud oleh Ibnu Arabi mempertahankan hirarki rasionalitas melalui struktur martabat tujuh ( maratib al-wujud ), yang membedakan tingkatan realitas dari Tuhan mutlak hingga manifestasi ciptaan tanpa menghapuskan kesatuan esensial.

Doktrin ini menghindari pantheisme datar dengan logika filosofis yang sistematis, dimana Tuhan tetap transenden sebagai Wujud Hakiki sambil menampakkan diri secara bertingkat ( tajalli ).

Struktur Hirarki Martabat Ibnu Arabi membagi wujud menjadi tingkatan rasional yang saling terkait, memastikan Tuhan tak tercampur dengan makhluk sbb ;

a.Ahadiyah adalah Zat mutlak Tuhan tanpa sifat atau tajalli, tak terjangkau akal.

b.Wahidiyah adalah Tuhan dengan sifat esensial (asmaul husna), masih abstrak.

c.Tajalli Syuhudi adalah Manifestasi bertingkat melalui Haqiqah Muhammadiyah ( nuraan Nabi ), lalu alam malaikat, akal, jiwa, nafs, tubuh, hingga hahkiki ( elemen materi ).

Hirarki ini rasional karena wujud relatif ( mumkinul wujud ) bergantung sepenuhnya pada Wujud Mutlak ( wajibul wujud ), seperti bayangan pada cermin tak ada realitas independen.

Rasionalitas Filosofisi oleh Ibnu Arabi menggunakan logika Aristotelian-Neoplatonik untuk membuktikan hanya satu Wujud sejati ( la maujuda illa Allah ), di mana ciptaan adalah imajinasi Tuhan” atau modifikasi wujud-Nya tanpa mengubah esensi ilahi.

Hal Ini mempertahankan tauhid dengan membedakan wujud absolut ( Tuhan ) dan nisbi ( alam ), menghindari hulul ( inkarnasi ) sambil menjelaskan keragaman fenomena sebagai tajalli bertahap.

Kritik dan Relevansi.
Meski dikritik sebagai monisme oleh ulama seperti Ibnu Taimiyah, hirarki ini rasional karena selaras dengan ayat Al-Qur’an misal QS. Al-Ikhlas dan serta menjaga syariat , syariat , hakekat sebagai jembatan menuju ma’rifat.

Diera modern, struktur ini mirip model quantum superposition dimana satu esensi, banyak ekspresi tsb.

Quantum superposition menggambarkan prinsip inti mekanika kuantum di mana sistem kuantum seperti elektron atau foton dapat eksis dalam kombinasi simultan dari beberapa keadaan (misalnya, spin atas dan bawah) hingga diukur, lalu runtuh ke satu keadaan definitif.

Secara filosofis, ini mirip satu esensi, banyak ekspresi dalam wahdatul wujud Ibnu Arabi, dimana Wujud Hakiki ( Tuhan ) tunggal menampakkan beragam tajalli tanpa kehilangan esensi mutlaknya.

Analogi Superposition dengan Wahdatul Wujud Dalam Superposition, Qubit berada dalam [ |\psi\rangle = \alpha|0\rangle + \beta|1\rangle ], satu gelombang probabilitas yang mencakup semua kemungkinan hingga pengamatan mirip esensi Tuhan yang satu ( ahadiyah ) diekspresikan sebagai alam semesta berlapis ( wahidiyah hingga hahkiki ).

Pengukuran ( observasi ) menyebabkan kolaps, seperti ma’rifat sufi yang memilih satu manifestasi ilahi sambil sadar akan kesatuan dasar, menjaga hirarki rasional.

“OJO GAMPANG KAGETAN, OJO GAMPANG NGGUMUNAN WAE”

Tetap bersyukur, saling berbagi, saling silang dalam kesepakatan solusi-solusi terbaik bersama-sama tanpa khianat , bersinergi dan tetap trus bergerak bergerak bergerak berkehendak , bekerja giat keras cerdas tuntas terarah terukur hingga terwujud nyata-nyata pada waktunya Tajali.
Dan jangan lupa tersenyum bahagia.g2.

#salamsatujiwa
#salamindOnesiabekerja
🏃🏽‍♂️🏃‍♀️🏃🏽‍♂️🏃‍♀️🤝✊💪🥰
🇲🇨🇲🇨🇲🇨🇲🇨🇲🇨🇲🇨🇲🇨🇲🇨

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *