Monwnews.com, Upacara adalah perwujudan ulang dari sebuah peristiwa yang dianggap sakral. Kesakralan itu hadir karena peristiwa sejarah yang fundamental, yang menjadi tonggak lahirnya sebuah bangsa serta berbagai paradigma yang membentuk batas-batas kelahiran sebuah orde.

Lahirnya sebuah orde terjadi karena pemanfaatan momentum yang tepat dan cepat, sehingga keberhasilannya terkunci dengan kokoh, meskipun terkadang harus melalui fase heroik dari suatu bangsa. Ketika momentum itu berubah menjadi kemenangan, ia menjadi peristiwa yang romantis, disertai semboyan-semboyan yang membahana dan menggelora—jargon-jargon yang melampaui batasan waktu tertentu. Contohnya, semboyan Revolusi Prancis “Liberté, Égalité, Fraternité” yang hampir 300 tahun tetap menjadi dambaan seluruh rakyat Prancis.
Di Indonesia, momentum serupa terjadi pada 17 Agustus 1945, ketika Proklamasi Kemerdekaan dideklarasikan dengan harapan besar untuk hidup berdikari sebagai bangsa yang merdeka. Sejak saat itu, setiap tahunnya, upacara selalu dilaksanakan dengan khidmat dan penuh kesakralan. Hari ini, pada 17 Agustus 2024, kita merayakan 79 tahun kemerdekaan Indonesia.
Namun, semboyan-semboyan seperti “Merdeka” yang mengandung makna pembebasan—dari penjajahan, rasa takut, kebodohan, kemiskinan, dan ketidakadilan—masih tetap menjadi sekadar harapan. Belum juga menjadi fakta konkret yang dapat dirasakan oleh seluruh rakyat Indonesia.
Ketika ditanya mengapa setelah 79 tahun merdeka masih ada orang miskin, bodoh, dan ketakutan di negara ini, jawabannya sering kali: “Hal ini masih terus diperjuangkan oleh pemerintah.” Ironisnya, banyak rakyat Indonesia yang telah meninggal dengan membawa janji-janji yang tak terpenuhi itu.
Permasalahan ini seharusnya menjadi tanggung jawab dasar yang wajib dipenuhi oleh pemerintah karena menyangkut kesejahteraan fisik minimal yang harus diwujudkan di sebuah negara merdeka. Selain itu, ada tuntutan lebih kompleks, seperti kesejahteraan dan keadilan sosial, yang membutuhkan penanganan sistematis dan berdimensi luas.
Momentum Proklamasi ini adalah peringatan keras bagi anak bangsa Indonesia untuk mulai menjalankan tugas fundamental, yaitu dengan sungguh-sungguh menghapuskan penjajahan dari bumi Indonesia. Bentuk penjajahan kini sudah berubah menjadi agen-agen doktrin dan skrup-skrup imperialisme yang, tragisnya, dilakukan oleh saudara kita sendiri, sesama anak bangsa.
Di usia yang sudah tidak muda lagi—79 tahun—bangsa ini seharusnya semakin dewasa dan tegar. Namun, kenyataannya, banyak anak bangsa Indonesia yang kembali bersikap kekanak-kanakan dan menjadi boneka-boneka imperialis. Boneka-boneka asing ini sudah hidup berdampingan dengan anak-anak bangsa Indonesia, dan mereka tersenyum lega karena telah memenangkan segalanya. Tinggal kita, anak-anak bangsa yang belum menjadi boneka asing.
Kita dihadapkan pada pilihan: larut dan menjadi boneka mereka, atau tetap bertahan sebagai komponen bangsa. Bagi yang memilih menjadi boneka asing, silakan; kami tidak memiliki kapasitas untuk mencegahnya. Namun, bagi yang masih bertahan sebagai anak bangsa yang setia, mari kita bersatu dalam persatuan dan kesatuan bangsa dengan nama Gerakan Kebangsaan Indonesia. MERDEKA!
Gerakan Kebangsaan Indonesia ini bergerak dengan api revolusi Indonesia yang progresif, siap menabrak apa pun dan siapa pun yang jelas-jelas kontra dengan kebangsaan Indonesia. Hanya ada dua pilihan: kalah atau menang. Yang kalah binasa, yang menang hidup. Jika agen-agen doktrin asing yang sekarang sudah menjadi boneka itu menang, maka lenyaplah kebangsaan Indonesia ini. Dengan kata lain, Pancasila sebagai dasar negara dan pandangan hidup bangsa Indonesia akan kalah, dan kita akan menjadi sampah sejarah yang tak berguna.
Ayo rebut kembali, Bung!
Bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia sedang berada pada posisi yang mengkhawatirkan. Selamat bergabung dengan Gerakan Kebangsaan Indonesia. Inilah arti dari nilai-nilai fundamental Proklamasi. Jika kita terus membiarkan kondisi psikologis bangsa Indonesia ini, bukan tidak mungkin upacara peringatan Proklamasi 17 Agustus di masa mendatang akan kehilangan makna, menjadi senyap, dan pekik “Merdeka” tak lagi terdengar.
Sebuah ilustrasi dari momentum Kemerdekaan Indonesia:
Pada suatu waktu terjadi sebuah peristiwa fundamental: munculnya lembaga baru yang dibatasi oleh tembok-tembok raksasa, gedung-gedung putih, rumput hijau, dan kebun binatang yang berwujud manusia. Sementara itu, sesosok kampus biru berubah menjadi kelabu. Semangat merah, api revolusi, dan api kemarahan dibakar habis oleh bom atom. Kampus itu menjadi saksi bisu, diam tanpa suara, tanpa bahasa. Mendadak Hitler dan Stalin berkata, “Ayo kita kuasai dunia!” Kata Stalin, “Pergilah ke Timur, hai Komunis!” dan Hitler membentak, “Aku pergi ke Barat.” Secepat kilat, momen historis terjadi. Gemuruh sejuta marinir mendarat di Normandia, dan konspirasi Hitler dan Stalin gagal. Hiroshima dan Nagasaki dibakar bom atom. Benar-benar hebat si keparat Amerika. Namun, di sebelah tenggara bumi ini, ada yang meledakkan revolusi sosial dengan kulminasi Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.
Apakah momentum Proklamasi ini masih ada? Ataukah momentum itu sudah menjadi visi dan misi yang sama sekali tidak terkoneksi dengan kehidupan sosial masyarakat bangsa dan rakyat Indonesia? Pertanyaan-pertanyaan seperti ini tidak dapat dijawab hanya dengan sebuah upacara yang sakral, melainkan dengan perubahan perilaku administratif yang logis dan realistis dalam memandang perubahan sosial yang terjadi secara dinamis.
Kami tetap Indonesia
Kami tetap mencintai Indonesia
Kami tetap menjunjung tinggi nilai-nilai Pancasila
Kami tetap percaya kepada Pancasila dan UUD 1945 sebagai landasan ideal dan struktural bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Dirgahayu Republik Indonesia yang ke-79
MERDEKA!
*Pesan kepada seluruh anak bangsa:*
Kebesaran suatu bangsa tidak turun dari langit. Kebesaran suatu bangsa hanya terjadi jika bangsa itu cerdas, memiliki etos kerja yang tangguh, semangat memiliki tanah air, dan ikut membangun bangsa secara gotong royong. Berikanlah kepada negaramu, jangan hanya meminta kepada negaramu.
Kita adalah bangsa yang besar
Bangsa yang digembleng oleh keadaan
Bangsa yang tidak pernah meminta bantuan kepada bangsa lain
Bangsa yang berjiwa gotong royong
Bangsa yang berbudaya
Bangsa yang berdikari
Bangsa yang berdaulat
Bangsa yang percaya kepada Pancasila












