Monwnews.com, Malang – Pengasuh Pondok Pesantren Bahrul Maghfiroh telah menerima dua dokumen PBG (Persetujuan Bangunan Gedung) dan SLF (Sertifikat Laik Fungsi) serta sertifikat halal SPPG dari Wali Kota Malang, setelah mengikuti upacara peringatan Hari Santri Nasional, Rabu 22 Oktober di Balaikota.
Mantan rektor Universitas Brawijaya periode 2014 – 2018, yang saat ini sebagai Pengasuh Pondok Pesantren Bahrul Maghfiroh, Prof. Dr. Ir. Mohammad Bisri, MS., kepada awak media ini, menyampaikan tanggapannya terkait peringatan HSN 2025.
Menurut Mohammad Bisri Kamis (23/10/2025), bahwa Hari santri dengan tema “Mangawal Indonesia Merdeka, Menuju Peradaban Dunia” mempunyai makna yang sangat mendasar, karena kemerdekaan adalah hak segala bangsa, oleh karena itu harus dipertahankan dengan berbagai upaya oleh semua komponen bangsa khususnya para santri, hari ini dan masa ke depan para santri harus mengawal indonesia menuju Peradaban Dunia.
“Santri wajib melek IT, punya kecakapan dan jiwa intreprenuership di era digital saat ini. Dengan geopolitik dunia diberbagai hal, maka santri harus berdaulat, kuat dan tahan banting di sektor ekonomi,” tutur Mohammad Bisri.
Dia tambahkan, bahwa ekonomi santri berdaulat di era global saat ini dapat diwujudkan dengan memanfaatkan teknologi digital untuk meningkatkan kemandirian ekonomi dan keuangan.
Berikut ia uraikan terkait era digital perihal diatas yang berhubungan dengan santri;
Membangun Usaha Digital: Santri dapat membangun usaha digital seperti toko online, jasa desain, konten dakwah, atau marketplace lokal untuk meningkatkan pendapatan dan kemandirian ekonomi.
Literasi Keuangan Digital: Santri perlu memiliki literasi keuangan digital yang baik untuk mengelola keuangan dengan efektif dan menghindari risiko-risiko keuangan di era digital.
Pengembangan Ekonomi Syariah: Santri dapat memanfaatkan digitalisasi ekonomi syariah untuk meningkatkan kemandirian ekonomi dan keuangan dengan prinsip-prinsip syariah.
– *Kolaborasi dan Jaringan*: Santri dapat membangun jaringan dan kolaborasi dengan pihak lain untuk meningkatkan kemandirian ekonomi dan keuangan.
Pendidikan dan Pelatihan: Santri perlu memiliki akses ke pendidikan dan pelatihan yang memadai untuk meningkatkan kemampuan dan pengetahuan dalam mengelola ekonomi dan keuangan di era digital.
“Dengan demikian, santri dapat menjadi agen perubahan yang positif dalam meningkatkan kemandirian ekonomi dan keuangan di era digital saat ini ” tandasnya
“Termasuk pembinaan santri di Pondok Pesantren agar menguasai bidang entrepreneurship yang mandiri,” imbuhnya.
Ia uraikan pula tentang pembinaan santri di pondok pesantren.
Bahwa pembinaan dapat dilakukan dengan beberapa cara, seperti;
Pengintegrasian Kurikulum: Mengintegrasikan pendidikan entrepreneurship ke dalam kurikulum pesantren, sehingga santri dapat mempelajari teori dan praktik entrepreneurship secara terstruktur.
Praktik Berwirausaha: Memberikan kesempatan kepada santri untuk melakukan praktik berwirausaha, seperti mengelola usaha kecil-kecilan di lingkungan pesantren atau masyarakat sekitar.
Mentorship: Menyediakan mentor yang berpengalaman dalam bidang entrepreneurship untuk membimbing dan memberikan arahan kepada santri.
Pengembangan Soft Skill: Mengembangkan soft skill santri, seperti kemampuan komunikasi, kepemimpinan, dan manajemen waktu, untuk mendukung kesuksesan dalam berwirausaha.
Akses ke Sumber Daya: Menyediakan akses ke sumber daya, seperti modal, teknologi, dan jaringan, untuk mendukung pengembangan usaha santri.
Budaya Entrepreneurship: Membangun budaya entrepreneurship di lingkungan pesantren, sehingga santri dapat terinspirasi dan termotivasi untuk menjadi entrepreneur yang sukses.
“Maka demikian, santri dapat dibekali dengan pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman yang memadai untuk menjadi entrepreneur yang sukses. Sehingga tercapailah ekonomi santri mandiri dan berdaulat,”pungkas Mohammad Bisri. (galih)












