Mengurai Rendahnya Capaian STEM Indonesia di Tengah Persaingan ASEAN

Oleh : Gagoek INAKER - Ketua Dewan Pendiri INDONESIA BEKERJA

Gagoek INAKER. - Ketua Dewan Pendiri INDONESIA BEKERJA

Monwnews.com – Rendahnya capaian bidang STEM ( Science, Technology, Engineering, and Mathematics ) di Indonesia dibandingkan sejumlah negara ASEAN bukan sekadar masalah statistik pendidikan, melainkan cermin dari kelemahan struktural yang menyangkut kualitas pembelajaran, kesiapan guru, orientasi kurikulum, ekosistem riset, dan serta keterkaitan antara dunia pendidikan dengan kebutuhan industri.

Permasalahan tersebut dengan merujuk pada data capaian belajar internasional, proporsi lulusan STEM, anggaran riset, serta dinamika penyerapan tenaga kerja terampil di kawasan.

Posisi Indonesia dalam Peta STEM ASEAN.

Indikator paling sering digunakan untuk memotret capaian STEM adalah hasil Programme for International Student Assessment ( PISA ), khususnya pada domain sains dan matematika.

Berdasarkan PISA 2025, skor sains Indonesia mencapai 389 poin, naik 6 poin dari 383 pada 2022, sementara skor matematika justru turun tipis dari 366 menjadi 364 poin.

Secara absolut, angka ini masih jauh dibawah rata-rata OECD dan serta menempatkan Indonesia pada posisi ke-73 dari 91 negara untuk sains, serta ke-78–79 untuk matematika.

Ditingkat ASEAN, posisi Indonesia lebih memprihatinkan.

Dari delapan negara ASEAN yang berpartisipasi dalam PISA 2025, Indonesia berada diurutan keenam untuk sains, ketujuh untuk membaca, dan serta kedelapan ( terakhir ) untuk matematika.

Indonesia hanya mengungguli Filipina dan Kamboja dalam sains, serta hanya Kamboja dalam membaca bidang matematika, Indonesia berada diposisi terbawah diantara negara-negara ASEAN yang ikut survei.

Bandingkan dengan Singapura yang konsisten berada di puncak dunia, atau Vietnam dan serta Thailand yang terus menunjukkan tren peningkatan, sementara Indonesia nyaris stagnan.

Disisi lain, proporsi lulusan STEM juga menjadi indikator penting.

Data menunjukkan bahwa hanya sekitar 18–19% lulusan sarjana di Indonesia yang berasal dari bidang STEM, jauh di bawah Malaysia yang mencapai sekitar 37% dan Singapura sekitar 34%.

Rendahnya proporsi ini mencerminkan minimnya minat siswa terhadap bidang sains dan teknologi, sekaligus lemahnya kapasitas sistem pendidikan tinggi dalam menghasilkan talenta STEM yang memadai.

Akar Masalah dalam Sistem Pendidikan Dasar dan Menengah

Salah satu penyebab mendasar rendahnya capaian STEM adalah kualitas pembelajaran sains dan matematika di sekolah yang masih belum optimal.

Kurikulum nasional, meskipun secara konseptual telah mengadopsi pendekatan berbasis kompetensi, dalam praktiknya masih banyak sekolah yang mengajar sains dan matematika secara teoritis, hafalan, dan terpisah-pisah antar mata pelajaran.

Pendekatan STEM yang mengintegrasikan sains, teknologi, teknik, dan matematika dalam konteks masalah nyata masih sangat terbatas implementasinya, dan serta lebih banyak bergantung pada inisiatif individual guru atau sekolah tertentu.

Keterbatasan sarana dan prasarana juga menjadi hambatan serius.

Banyak sekolah, terutama di luar kota besar, tidak memiliki laboratorium sains yang memadai, alat praktikum yang lengkap, atau akses teknologi digital yang memungkinkan pembelajaran berbasis proyek dan eksperimen.

Akibatnya, siswa jarang mengalami proses belajar yang melibatkan observasi, perancangan, pengujian, dan serta refleksi elemen-elemen kunci dalam pendidikan STEM.

Faktor guru juga sangat menentukan.

Banyak guru sains dan matematika belum mendapat pelatihan yang cukup untuk mengajar dengan pendekatan STEM yang integratif, kolaboratif, dan serta berbasis inkuiri.

Kompetensi pedagogik dan serta penguasaan teknologi pembelajaran masih beragam, sehingga kualitas pembelajaran STEM sangat bergantung pada kapasitas individual guru, bukan pada sistem yang terstandarisasi.

Ditambah lagi, distribusi guru berkualitas masih timpang antara Jawa dan luar Jawa, serta antara sekolah negeri unggulan dan serta sekolah biasa.

Aspek motivasi dan serta orientasi siswa juga tidak bisa diabaikan.

Minat siswa terhadap bidang sains dan teknologi cenderung lebih rendah dibandingkan bidang sosial dan serta humaniora, baik pada tingkat sekolah menengah maupun perguruan tinggi.

Persepsi bahwa bidang STEM sulit, kurang menjanjikan secara karir, atau tidak sesuai dengan minat pribadi turut memengaruhi pilihan studi mereka.

Data PISA 2025 bahkan menunjukkan bahwa meskipun siswa Indonesia memiliki kemauan belajar yang relatif tinggi, hal ini belum sepenuhnya terkonversi menjadi kompetensi akademik yang memadai, termasuk dalam sains dan matematika.

Lemahnya Ekosistem Riset dan Inovasi

Rendahnya capaian STEM tidak hanya berkaitan dengan pendidikan dasar dan serta menengah, namun juga dengan lemahnya ekosistem riset dan inovasi di tingkat nasional.

Selama bertahun-tahun, belanja riset Indonesia tertahan dikisaran 0,28–0,3% dari PDB, bahkan sempat menyusut akibat kebijakan efisiensi anggaran pada 2025.

Angka ini jauh di bawah Malaysia yang mengalokasikan 1,15% PDB untuk riset, apalagi dibandingkan China (2,1–2,5%), Jepang (3,65%), atau Korea Selatan (di atas 4%).

Rendahnya anggaran riset berimplikasi pada minimnya fasilitas laboratorium, keterbatasan pendanaan proyek penelitian, dan serta lemahnya insentif bagi peneliti muda untuk berkarier di bidang sains dan teknologi.

Akibatnya, produksi pengetahuan ilmiah dan serta inovasi teknologi Indonesia masih sangat terbatas, dan serta dampaknya terhadap pembangunan ekonomi serta peningkatan daya saing global juga minim.

Selain itu, terdapat keterputusan yang cukup lebar antara hasil riset di perguruan tinggi dengan kebutuhan industri.

Banyak penelitian akademis yang tidak terserap oleh sektor produktif, sehingga inovasi tidak berkembang menjadi produk, proses, atau layanan yang menciptakan permintaan tinggi terhadap talenta STEM.

Kondisi ini memperlemah siklus umpan balik antara dunia pendidikan, riset, dan industri yang seharusnya saling memperkuat.

Ketidaksesuaian antara Lulusan STEM dan Kebutuhan Industri

Masalah lain yang memperparah rendahnya capaian STEM adalah fenomena horizontal mismatch, yaitu kondisi dimana banyak lulusan STEM tidak bekerja di bidang yang sesuai dengan latar belakang pendidikannya.

Beberapa penyebabnya antara lain kurangnya lapangan kerja yang relevan didaerah tertentu, rendahnya upah awal di sektor teknologi dan teknik, serta ketidaksesuaian antara kompetensi yang diajarkan di kampus dengan kebutuhan riil industri.

Disisi lain, sertifikasi profesi dibidang teknologi dan teknik sering kali mahal dan sulit diakses, sehingga menghambat peningkatan kualitas dan daya saing lulusan STEM.

Industripun kadang lebih memilih merekrut tenaga kerja dengan pengalaman praktis atau lulusan dari program vokasi tertentu, daripada lulusan sarjana STEM yang dianggap kurang siap kerja.

Kondisi ini menciptakan lingkaran setan di karenakan rendahnya penyerapan lulusan STEM mengurangi minat siswa untuk mengambil bidang tersebut, yang pada gilirannya memperkecil pasokan talenta berkualitas.

Perbandingan dengan Negara ASEAN Lain

Negara-negara ASEAN seperti Singapura, Malaysia, dan Vietnam relatif lebih berhasil membangun ekosistemy STEM yang kuat karena beberapa faktor kunci.

Pertama, mereka memiliki kebijakan nasional yang jelas dan konsisten terkait pengembangan STEM, termasuk target proporsi lulusan, pendanaan riset, dan kemitraan strategis dengan industri.

Kedua, alokasi anggaran pendidikan dan riset mereka lebih tinggi, memungkinkan pengembangan infrastruktur, pelatihan guru, dan program beasiswa STEM yang menarik.

Ketiga, terdapat keterkaitan erat antara pendidikan dan industri. Kurikulum dan program studi dirancang bersama pelaku industri, sehingga lulusan lebih siap kerja dan langsung terserap disektor-sektor strategis seperti manufaktur canggih, teknologi informasi, dan energi.

Keempat, ada dorongan sosial dan budaya yang kuat terhadap prestasi dibidang sains dan teknologi, termasuk melalui kompetisi, olimpiade, dan penghargaan yang memotivasi siswa sejak dini.

Vietnam, misalnya, meskipun termasuk negara berpendapatan menengah-bawah, berhasil menunjukkan tren peningkatan capaian PISA yang konsisten, termasuk dalam sains dan matematika.

Hal ini menunjukkan bahwa dengan kebijakan yang tepat, alokasi sumber daya yang efektif, dan serta fokus pada kualitas pembelajaran, negara dengan sumber daya terbatas pun dapat meningkatkan capaian STEM secara signifikan.

Adapun Implikasi Bagi Daya Saing dan Pembangunan Nasional.

Rendahnya capaian STEM bukan hanya masalah sektor pendidikan, namun juga menyangkut masa depan daya saing ekonomi Indonesia.

Dalam konteks ekonomi global yang semakin digerakkan oleh inovasi, teknologi, dan pengetahuan, negara yang gagal membangun basis talenta STEM yang kuat berisiko terjebak dalam middle-income trap, yaitu kondisi di mana pertumbuhan ekonomi melambat karena tidak mampu beralih dari ekonomi berbasis sumber daya ke ekonomi berbasis inovasi.

Tanpa peningkatan signifikan dalam capaian STEM, Indonesia akan kesulitan mengembangkan industri bernilai tambah tinggi, mengadopsi teknologi canggih, atau membangun ekosistem startup dan inovasi yang kompetitif di tingkat regional maupun global.

Lebih jauh, ketertinggalan dalam STEM juga berpotensi memperlebar ketimpangan sosial, karena hanya segelintir elit yang memiliki akses terhadap pendidikan dan pekerjaan berkualitas di sektor teknologi.

Arah perbaikan dan rekomendasi kebijakan

untuk memperbaiki capaian STEM, diperlukan pendekatan holistik yang menyentuh seluruh rantai nilai pendidikan dan serta inovasi cerdas.

Beberapa langkah strategis yang dapat dipertimbangkan antara lain ;

Segera memperkuat kebijakan nasional STEM yang terintegrasi dari pendidikan dasar hingga perguruan tinggi, dengan target yang jelas, indikator yang terukur, dan mekanisme evaluasi yang transparan.

Kebijakan ini harus mencakup standar kurikulum, pelatihan guru, penyediaan sarana prasarana, dan serta beri insentif bagi siswa berprestasi dibidang STEM.

Diharuskan meningkatkan anggaran riset dan pengembangan secara signifikan, setidaknya menuju 1% PDB dalam jangka menengah, sejalan dengan rekomendasi internasional dan praktik negara-negara ASEAN yang lebih maju.

Peningkatan anggaran harus disertai dengan reformasi tata kelola riset, termasuk transparansi alokasi dana, akuntabilitas hasil, dan serta penguatan kolaborasi antara universitas, lembaga riset, dan serta industri.

Segera memperbaiki kualitas dan distribusi guru STEM melalui program pelatihan berkelanjutan, sertifikasi profesi, dan insentif yang menarik bagi guru berprestasi, terutama di daerah tertinggal.

Lakukan pendekatan pembelajaran juga perlu diubah dari hafalan menuju inkuiri, proyek, dan serta pemecahan masalah nyata yang relevan dengan kehidupan siswa.

Mempererat kemitraan antara dunia pendidikan dan industri melalui program magang, penelitian terapan, dan serta pengembangan kurikulum bersama.

Hal ini akan memastikan bahwa lulusan STEM memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan pasar kerja, sekaligus meningkatkan penyerapan tenaga kerja terampil di sektor-sektor strategis.

Membangun cinta budaya prestasi sains dan serta teknologi melalui kompetisi, olimpiade, festival inovasi, dan serta penghargaan yang memotivasi siswa sejak dini.

Dukungan orang tua, masyarakat, dan serta media sosial juga penting untuk mengubah persepsi bahwa bidang STEM sulit dan serta tidak menarik, menjadi bidang yang menantang, bergengsi, menjanjikan masa depan cerah.

Dikarenakan rendahnya capaian STEM di Indonesia dibandingkan negara-negara ASEAN adalah hasil dari interaksi kompleks antara kelemahan sistem pendidikan, minimnya ekosistem riset, dan serta ketidaksesuaian antara lulusan dengan kebutuhan industri.

Tanpa perbaikan struktural yang serius dan berkelanjutan, Indonesia berisiko semakin tertinggal dalam persaingan regional dan global yang semakin digerakkan oleh ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi.

Namun, dengan komitmen politik yang kuat, alokasi sumber daya yang memadai, dan serta melakukan reformasi terarah terukur dan serius atas kebijakan yang tepat, Indonesia masih memiliki peluang untuk mengejar ketertinggalan dan serta membangun basis talenta STEM yang mampu mendorong transformasi ekonomi menuju negara berpendapatan tinggi.

S e m o g a.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *