Maqam Ridha: Menemukan Titik Temu Kehendak Hamba dan Kehendak Rabb

Oleh: H. Kus Bachrul

Mengurai Untaian Hikmah di Balik Lembaran Hidup

Kehidupan manusia di muka bumi ini bagaikan sebuah lautan yang tidak pernah sepi dari gelombang. Ada kalanya ombak pasang membawa kebahagiaan, dan ada kalanya ombak surut membawa duka. Syair atau tulisan bijak yang menjadi objek telaah kita kali ini menyentuh inti dari dinamika tersebut—antara susah dan senang—serta mengajak kita untuk merenungkan relasi antara kehendak manusia dan Kehendak Ilahi. Lebih dari sekadar nasihat moral, teks ini mengandung kedalaman spiritual yang mengarahkan pembaca pada pemahaman tentang hakikat penciptaan, fungsi ujian, dan puncak pencarian seorang hamba, yaitu Ma’rifatullah.

Untuk membedah makna di balik setiap baitnya, kita akan menggunakan pisau analisis religius-teologis (berdasarkan Al-Qur’an dan Hadits) serta pendekatan spiritual-tasawuf, dengan merujuk pada khazanah klasik Islam, terutama kitab Jami’ul Ushul fil Auliya karya Syaikh Dliyauddin Ahmad Al-Kamasykhonawi. Kitab ini merupakan salah satu rujukan penting dalam memahami karakteristik, jalan (thariqah), dan adab para wali Allah, yang sangat relevan untuk menafsirkan pesan-pesan dalam tulisan tersebut.

H. Kus Bachrul - Pendoa Nusantara
H. Kus Bachrul – Pendoa Nusantara

 

Hakikat Susah dan Senang sebagai Ciptaan dan Ujian

Bait pertama syair menegaskan, “Sesungguhnya Allah menciptakan rasa senang dan susah, agar engkau dapat menerima dan mensyukuri nikmat nikmat Nya, Agar pula engkau berusaha menelusuri untuk mencari pengertian2 hidup ini.”

Pernyataan ini mengandung fondasi teologis yang kokoh. Dalam Islam, segala sesuatu di muka bumi ini, termasuk rasa suka dan duka, adalah ciptaan Allah SWT. Allah berfirman dalam Al-Qur’an:

“Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa, Maha Pengampun.” (QS. Al-Mulk: 2).

Ayat ini dengan jelas menyatakan bahwa kehidupan dan kematian adalah sarana ujian. Imam Al-Qurthubi dalam tafsirnya menjelaskan bahwa maksud “menguji” adalah untuk memperlihatkan amal mana yang lebih baik, bukan sekadar lebih banyak. Rasa senang dan susah adalah dua kondisi yang menjadi medium ujian tersebut. Senang menguji rasa syukur, susah menguji kesabaran.

Syaikh Dliyauddin Ahmad Al-Kamasykhonawi dalam Jami’ul Ushul fil Auliya (bab tentang Hakikat Ujian) kemungkinan besar membahas bahwa seorang wali (kekasih Allah) adalah mereka yang mampu memandang ujian (baik berupa kesulitan maupun kenikmatan) sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah. Mereka tidak terperdaya oleh senang dan tidak larut dalam susah, karena keduanya adalah “hijab” (tabir) jika tidak disikapi dengan benar. Kenikmatan bisa menjadi hijab jika membuat lupa kepada Sang Pemberi Nikmat, dan kesulitan bisa menjadi hijab jika menyebabkan putus asa dari rahmat Allah.

Tujuan akhir dari diciptakannya dua keadaan ini, seperti disebutkan dalam syair, adalah agar manusia “menerima dan mensyukuri nikmat” serta “mencari pengertian hidup”. Menerima (qana’ah) dan mensyukuri nikmat adalah puncak adab seorang hamba saat menerima anugerah. Sedangkan mencari pengertian hidup adalah proses berpikir dan merenung (tafakkur) yang akan mengantarkan manusia pada kesadaran bahwa ada Dzat di balik semua fenomena ini. Inilah awal dari perjalanan spiritual.

Memahami Keberlanjutan Ujian dan Hakikat Nikmat Sejati

Syair melanjutkan, “Kedua duanya (susah dan senang) akan selalu mengikuti kemanapun dan dimanapun engkau berada. Sungguh jangan engkau berprasangka bisa terlepas dari keadaan susah.”

Pernyataan ini mengajarkan realisme spiritual. Dalam pandangan tasawuf, dunia ini adalah darul ibtila’ (tempat ujian). Tidak ada seorang pun yang terbebas dari silih bergantinya kondisi, termasuk para nabi dan wali. Bahkan, semakin tinggi derajat seseorang di sisi Allah, semakin berat ujian yang dihadapinya. Rasulullah SAW bersabda, “Orang yang paling berat ujiannya adalah para nabi, kemudian yang paling menyerupai mereka, kemudian yang paling menyerupai mereka.” (HR. Tirmidzi).

Syaikh Al-Kamasykhonawi dalam kitabnya menekankan konsep “musyahadah” (penyaksian) di balik setiap kejadian. Seorang salik (penempuh jalan spiritual) harus sampai pada tingkatan di mana ia tidak lagi melihat “susah” dan “senang” sebagai dua hal yang bertentangan, melainkan sebagai satu kesatuan cara Allah SWT berinteraksi dengannya. Keyakinan bahwa tidak akan pernah terlepas dari susah bukanlah ajakan untuk pesimis, melainkan ajakan untuk selalu bersandar (tawakkal) hanya kepada Allah, satu-satunya Dzat yang kekal dan tidak berubah.

“Walaupun engkau mendapat harta yang berlimpah, walaupun juga engkau mendapat kedudukan yang dimuliakan sesama.” Harta dan kedudukan adalah dua simbol kenikmatan duniawi yang paling dicari. Namun, syair ini dengan tegas mengatakan bahwa semua itu tidak bisa menjadi jaminan terbebasnya seseorang dari “susah”. Mengapa? Karena kegelisahan hati tidak selalu berurusan dengan materi. Bisa jadi seseorang kaya raya tetapi hatinya gundah karena takut hartanya habis, atau seseorang yang berkedudukan tinggi justru stres karena mempertahankan tahtanya. Inilah yang disebut dalam tasawuf sebagai “hijab” nya kemewahan.

Lalu, di manakah letak kenikmatan sejati? Syair menjawab: “Percayalah , sesungguhnya kenikmatan itu ada , dimanapun engkau berada dan bagaimanaapun bentuknya (keadaannya). Percayalah , susah dan senang hanyalah media untuk mendapatkan kenikmatan hidup yang sesungguhnya.”

Kenikmatan yang sesungguhnya (an-na’im al-haqiqi) adalah ma’rifatullah, yaitu mengenal Allah dengan sebenar-benarnya, merasakan kehadiran-Nya, dan merasakan manisnya iman. Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menyebutnya sebagai “ladzatul ma’rifah” (kelezatan makrifat). Kenikmatan ini tidak tergantung pada kondisi lahiriah. Di saat susah pun, seorang arif bisa merasakan kenikmatan karena ia tengah bermunajat dan merasakan dekatnya Allah. Di saat senang, ia pun bersyukur, dan syukur itu sendiri adalah kenikmatan yang lebih besar dari nikmat itu sendiri. Di sinilah letak fungsi “media”. Susah dan senang adalah alat untuk menggali dan menemukan intan permata bernama ketenangan hati karena Allah.

Bahaya Mengikuti Hawa Nafsu: Antara Keinginan dan Kebutuhan

Bagian selanjutnya dari syair memberikan peringatan keras: “Apabila engkau melangkah menuruti hawa nafsumu.. Maka keinginanmu hanya sebatas mencari rasa senangmu. Sedang rasa senangmu , bukan hanya sekedar memenuhi kebutuhanmu.. Dan tidak semua keinginan nafsumu , sesuai dgn kebutuhanmu. Sungguh , jika engkau melangkah menuruti hawa nafsumu. Maka engkau akan bertemu dengan masalah2 baru yang akan menyesatkan jalan hidupmu.”

Analisis ini sangat tajam dan berakar pada konsep Jihad an-Nafs (perang melawan hawa nafsu) dalam Islam. Al-Qur’an mengisahkan Nabi Yusuf AS yang berkata, “Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku.” (QS. Yusuf: 53).

Syaikh Dliyauddin Al-Kamasykhonawi dalam bab Riyadhat an-Nafs (pelatihan jiwa) di Jami’ul Ushul kemungkinan menjelaskan bahwa nafsu memiliki karakteristik yang tidak pernah puas (thalab al-ziyadah). Syair membedakan dengan cemerlang antara keinginan (syahwat) dan kebutuhan (hajat). Kebutuhan bersifat terbatas dan fungsional, seperti makan untuk bertahan hidup. Keinginan cenderung tidak terbatas, seperti ingin makan makanan yang paling lezat, ingin memiliki barang paling mewah, yang pada akhirnya menjerumuskan manusia ke dalam masalah baru: kecemasan, kecemburuan sosial, hutang, dan jauh dari Allah.

Mengikuti hawa nafsu berarti menjadikan rasa senang (yang semu) sebagai tujuan hidup. Padahal, rasa senang itu sendiri adalah “media”. Jika media dijadikan tujuan, maka manusia akan tersesat. Jalan hidup yang lurus (shirathal mustaqim) adalah jalan yang ditempuh dengan mengendalikan nafsu, bukan dikuasai olehnya.

Puncak Pencarian: Menemukan Kehendak yang Tidak Pernah Berubah

Puncak dari pesan spiritual dalam syair ini adalah bagian akhir yang sangat mendalam:

“Carilah dan Temukanlah keinginanmu yang tidak akan pernah berubah. Carilah dan temukanlah satu keinginanmu yang mewakili semua keinginanmu. Jika engkau menemukannya, Itulah keinginanmu yang sesuai dengan keinginan Tuhanmu.”

Bagian ini adalah intisari dari ajaran tauhid dan ma’rifat. Apa yang dimaksud dengan “keinginan yang tidak akan pernah berubah”? Segala sesuatu di dunia ini berubah, termasuk keinginan kita. Satu jam yang lalu kita ingin makan, sekarang mungkin ingin tidur. Masa muda ingin main, masa tua ingin istirahat. Semua keinginan duniawi bersifat temporal dan berubah mengikuti kondisi. Lantas, keinginan apa yang tidak pernah berubah?

Jawabannya adalah: Keinginan untuk bertemu dengan Allah (Liqa’ullah), keinginan untuk mendapatkan rida-Nya. Seorang mukmin sejati, dari kecil hingga ajal menjemput, dari dalam suka maupun duka, keinginan dasarnya adalah satu: bagaimana agar Allah senang kepadanya. Inilah “satu keinginan yang mewakili semua keinginan”. Ketika seseorang menjadikan rida Allah sebagai poros hidupnya, maka semua keinginan partikularnya (ingin kaya, ingin sehat, ingin punya anak, dll) semuanya terintegrasi dalam satu kerangka besar: “Aku ingin ini, karena dengan ini aku bisa lebih taat kepada-Mu.”

Inilah yang disebut sebagai Fana’ fil Iradah (lebur dalam Kehendak Ilahi). Seorang hamba tidak lagi memiliki kehendak yang bertentangan dengan Kehendak Tuhannya. Ia telah sampai pada maqam Ridha, yaitu rela atas segala keputusan Allah. Syaikh Al-Kamasykhonawi dalam Jami’ul Ushul fil Auliya (bab tentang Maqam Ridha) kemungkinan besar menukil perkataan para wali bahwa ridha adalah “merasa cukup dengan Allah sebagai Rabb (Tuhan)” dan “tidak meminta surga karena takut neraka, tetapi karena Allah semata”.

Ketika kehendak hamba telah selaras dengan Kehendak Rabb-nya, maka itulah puncak kebahagiaan. Doa yang dipanjatkan bukan lagi “Ya Allah, beri aku ini dan itu”, tetapi puncaknya adalah doa yang diajarkan kepada para penghuni surga, “Segala puji bagi Allah yang telah memenuhi janji-Nya kepada kami dan telah memberi tempat ini kepada kami sebagai warisan, sehingga kami dapat menempati surga di mana saja kami kehendaki; maka (itulah) sebaik-baik balasan bagi orang-orang yang beramal.” (QS. Az-Zumar: 74). Ini adalah gambaran dari tercapainya “keinginan yang tidak pernah berubah” di akhirat kelak, yang cerminannya bisa dirasakan di dunia oleh para sufi melalui manisnya iman.

Kesimpulan: Meraih Senyum Hakiki di Balik Tirai Ujian

Syair atau tulisan yang kita telaah ini adalah sebuah peta perjalanan spiritual yang ringkas namun padat. Dimulai dengan pengakuan atas hakikat susah dan senang sebagai ciptaan Allah yang bertujuan mendidik hamba-Nya. Dilanjutkan dengan kesadaran bahwa kedua kondisi itu abadi menemani, mendorong manusia untuk tidak bergantung pada materi, melainkan mencari “kenikmatan yang sesungguhnya” di balik tirai fenomena.

Kemudian, ia memperingatkan bahaya besar dari mengikuti hawa nafsu yang memisahkan antara keinginan dan kebutuhan, yang hanya akan melahirkan masalah baru. Dan pada puncaknya, ia mengajak kita pada sebuah pencarian eksistensial: menemukan satu keinginan yang abadi dan komprehensif, yaitu keinginan untuk selaras dengan Kehendak Ilahi.

Dalam perspektif Jami’ul Ushul fil Auliya dan kitab-kitab tasawuf klasik, inilah jalan para wali dan shiddiqin. Mereka adalah orang-orang yang berhasil menembus “dinding” susah dan senang, tidak terpaku pada bentuk lahiriah ujian, tetapi fokus pada substansi di baliknya, yaitu Zat yang Maha Menguji. Mereka adalah orang-orang yang keinginannya telah melebur dalam Keinginan Allah, sehingga apapun yang terjadi, mereka melihat semuanya sebagai anugerah terindah dari Kekasih Sejati.

Semoga telaah ini membuka pintu hati kita untuk tidak hanya membaca syair sebagai untaian kata indah, tetapi sebagai petunjuk jalan menuju maqam ridha, di mana kita dapat menemukan keinginan kita yang sejati—keinginan yang tidak lain adalah cerminan dari Keinginan Tuhan kita, Allah SWT. Wallahu a’lam bish-shawab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *