Monwnews.com, Ada satu fakta yang tidak bisa diabaikan dalam kasus penyiraman air keras terhadap aktivis HAM:
dugaan keterlibatan pelaku yang berasal dari lintas matra dalam Tentara Nasional Indonesia.
Fakta ini tidak boleh ditarik ke kesimpulan liar.
Namun juga tidak boleh dikecilkan seolah tidak berarti.
Dalam disiplin analisis keamanan, komposisi lintas matra bukan hal yang umum dalam tindakan individual.
Ia membuka satu pertanyaan mendasar:
> Apakah ini sekadar kebetulan, atau ada bentuk koordinasi yang harus dijelaskan kepada publik?
Pertanyaan ini bukan tuduhan.
Ini adalah konsekuensi logis dari fakta yang ada.
Negara, melalui Kepolisian Negara Republik Indonesia, memiliki tanggung jawab konstitusional untuk menjawabnya secara terang dan utuh.
Bukan hanya siapa pelakunya.
Tetapi bagaimana mereka bisa berkoordinasi.
Dan dalam kapasitas apa mereka bertindak.
Dalam negara hukum, kejelasan proses lebih penting daripada kecepatan kesimpulan.
Kita tidak sedang menguji keberanian individu,
tetapi menguji apakah sistem masih bekerja sebagaimana mestinya.
Karena jika tindakan lintas matra dapat terjadi tanpa penjelasan yang utuh,
maka yang dipertaruhkan bukan hanya satu kasus,
melainkan kepastian hukum itu sendiri.
Publik tidak membutuhkan spekulasi.
Publik membutuhkan kepastian.
Dan kepastian itu hanya bisa lahir dari satu hal:
> transparansi yang menyentuh hingga ke akar, tanpa pengecualian.
Ini bukan soal menyerang institusi.
Justru sebaliknya— ini adalah cara menjaga kehormatan institusi agar tetap berdiri di atas hukum,
bukan di atas asumsi.
Sejarah telah mengajarkan kita, sejak Reformasi Indonesia 1998,
bahwa kekuatan negara harus selalu berjalan beriringan dengan akuntabilitas.
Tanpa itu, kekuatan berubah menjadi keraguan.
Dan keraguan adalah awal dari hilangnya kepercayaan.
Hari ini, yang diuji bukan hanya sebuah kasus,
tetapi arah dari reformasi itu sendiri.
Apakah tetap berjalan lurus,
atau mulai berbelok tanpa kita sadari.
Negara memiliki kesempatan untuk menjawab.
Dan publik berhak untuk mengetahui.
Dodi Ilham
Ketua Umum New Emerging Forces Activist 98 (NEFA’98)
Pinggir Rel Jakarta, 18 Maret 2026












