Jokowi dan Tanda-Tanda Kewalian yang Tersembunyi

Oleh: Kusbachrul, SH - Ketua Yayasan Satria Merah Jambu

Monwnews.com – Di sebuah sudut desa di lereng Gunung Arjuno, Kabupaten Pasuruan, seorang guru ngaji tua duduk bersila di balik mimbar kayu usang. Suaranya lirih, tapi kata-katanya menusuk relung-relung yang paling dalam.

Kusbachrul, SH (Ketua Yayasan Satria Merah Jambu)

“Jokowi iku wali mastur,” katanya suatu malam usai salat Isya. Santri-santri yang hadir terdiam. Ada yang mengangguk, ada yang menahan napas. “Kewaliane ora katon, tapi terasa,” lanjutnya sambil menunjuk ke arah langit-langit yang sudah lapuk. “Kaya angin. Ora katon, nanging nganti tekan ngendi-endi.”

Pernyataan itu yang kemudian menyebar dari mulut ke mulut di kalangan santri dan masyarakat sekitar bukanlah sebuah deklarasi politik. Ia adalah sebuah firasat. Dalam bahasa sufi, ia adalah ilham yang lahir dari kedalaman batin seorang guru yang telah menghabiskan puluhan tahun mengaji kitab kuning dan merenungi tanda-tanda kekuasaan Allah di muka bumi.

Tapi benarkah Presiden ke-7 Republik Indonesia, seorang kepala negara yang sibuk dengan urusan infrastruktur dan birokrasi, bisa disebut sebagai seorang wali mastur seorang kekasih Allah yang kewaliannya tersembunyi, bahkan mungkin dari dirinya sendiri?

Pertanyaan ini bukan sekadar soal gelar atau status. Ia adalah undangan untuk menyelami samudra tasawuf yang dalam: tentang kewalian yang tersembunyi, tentang laku spiritual yang sunyi, dan tentang puncak dari semuanya fana’ul fana’ di mana seorang hamba tidak lagi peduli apakah ia dikenal sebagai wali atau tidak, karena “diri” yang biasa dikenal itu telah lama lenyap dalam samudra Kehendak Ilahi.

Wali Mastur: Antara Tersembunyi dan Terlihat

Dalam khazanah tasawuf, wali secara bahasa berarti “teman” atau “sahabat”. Secara istilah, wali Allah adalah hamba yang senantiasa mendekatkan diri kepada-Nya melalui ibadah dan ketaatan, hingga Allah mencintainya. Sebagaimana disabdakan Nabi dalam hadis qudsi:

”Barangsiapa memusuhi waliku, maka Aku umumkan perang kepadanya. Dan tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada apa yang telah Aku wajibkan kepadanya. Dan hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunnah hingga Aku mencintainya. Maka apabila Aku telah mencintainya, Aku menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, tangannya yang ia gunakan untuk memukul, dan kakinya yang ia gunakan untuk berjalan.” (HR. Bukhari)

Namun, para ulama sufi membagi wali ke dalam beberapa tingkatan. Salah satu yang paling menarik adalah wali mastur. Dalam tradisi Jawa, istilah ini sering disejajarkan dengan Satrio Piningit seorang pemimpin yang tersembunyi, yang kehadirannya tidak selalu terlihat namun pengaruhnya terasa.

Seorang wali mastur adalah kekasih Allah yang kewaliannya ditutupi. Ia tidak dikenal sebagai seorang sufi atau ahli ibadah yang menonjol. Ia tidak memiliki karomah yang spektakuler seperti berjalan di atas air atau terbang di udara. Sebaliknya, ia hidup seperti manusia biasa bekerja, berdagang, memimpin, bahkan mungkin terlibat dalam politik praktis.

Maulana Ahmad Diyauddin Al-Kamasykhanawi dalam Jami’ul Ushul fil Auliya’ menjelaskan bahwa di antara para wali, ada yang masyhur (terkenal) dan ada yang mastur (tersembunyi). Wali mastur justru sering kali lebih tinggi derajatnya, karena ia berhasil menjaga rahasia Allah tanpa dorongan untuk diakui. Ia adalah cermin yang tidak memantulkan dirinya sendiri, melainkan hanya memantulkan Cahaya Ilahi tanpa disadari oleh siapa pun, bahkan oleh dirinya sendiri.

“Wali mastur itu adalah wali yang tidak diketahui oleh dirinya sendiri dan orang banyak,” tulis sebuah sumber dalam kajian tasawuf. “Allah mengangkatnya menjadi kekasih-Nya, namun ia tidak tahu dan tidak ada yang tahu kecuali orang-orang yang diberi firasat oleh Allah.”

Tanda-tandanya halus: kesabaran yang luar biasa, keberanian yang tidak umum, dan kemampuan untuk menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan besar yang sebelumnya dianggap mustahil. Dan di sinilah, menurut pengamatan sang guru ngaji dari Pasuruan, sosok Jokowi hadir dengan cara yang tak terduga.

Laku Spiritual Jokowi: Antara Ritual dan Kesadaran

Untuk memahami mengapa seorang guru ngaji di pelosok Pasuruan berani menyebut Jokowi sebagai wali mastur, kita harus menelusuri laku spiritual yang dijalaninya. Dan dalam hal ini, buku Membangun Bersama Rakyat Berinisip Maqashid Al-Syari’ah karya Dr. Moh Dahlan, M.Ag., memberikan peta yang cukup jelas.

Jokowi, sebagaimana terungkap dalam buku tersebut, bukanlah seorang Muslim yang beragama secara seremonial. Ia menjalani praktik-praktik spiritual dengan konsistensi yang jarang dimiliki oleh seorang kepala negara yang jadwalnya padat. Ia istiqamah menjalankan salat tahajud di sepertiga malam terakhir. Ia rutin berpuasa, tidak hanya di bulan Ramadhan tetapi juga puasa-puasa sunnah. Ia mengikuti dan mengadakan pengajian keagamaan. Ia berziarah ke makam para ulama dan wali, bahkan ketika berada di luar negeri—seperti ketika ia berziarah ke makam dua ulama di Masjid Nujūje, Beijing, yang dibangun pada masa Dinasti Liao (916-1125).

Dalam tradisi sufi, praktik-praktik ini bukan sekadar ritual. Mereka adalah riyadhah latihan spiritual yang bertujuan untuk membersihkan hati (tazkiyat al-nafs) dan mendekatkan diri kepada Allah (taqarrub). Salat tahajud, misalnya, adalah ibadah yang dilakukan pada waktu ketika Allah turun ke langit dunia dan bertanya, “Siapa yang berdoa, akan Aku kabulkan? Siapa yang meminta ampun, akan Aku ampuni?”

Syekh Abdul Qadir al-Jailani dalam Sirr al-Asrar menulis bahwa orang yang istiqamah dalam riyadhah akan mengalami pelapisan jiwa yang halus: dari nafs ammarah (jiwa yang memerintah keburukan) menuju nafs muthma’innah (jiwa yang tenang). Pada tahap tertinggi, jiwa ini tidak lagi mencari pengakuan, tidak lagi mengejar pujian, dan tidak lagi takut kehilangan. Ia hanya bekerja, mengabdi, dan melayani seperti matahari yang menyinari bumi tanpa pernah bertanya siapa yang merasakan hangatnya.

Namun yang lebih menarik adalah bagaimana praktik-praktik ini membentuk perilaku dan kebijakan Jokowi. Ia sendiri pernah menyatakan bahwa “dengan jiwa tegak itu, masyarakat ikhlas dan sabar menjalani hidup sehari-hari. Dan dengan jiwa tegak itu, pemerintah akan terus bekerja keras menjalankan program-program pembangunannya.”

Ini adalah bentuk amal saleh yang tidak terbatas pada ritual ibadah, tetapi merambah ke ranah kebijakan publik. Dalam bahasa sufi, ini adalah maqam di mana seorang hamba tidak lagi membedakan antara ibadah ritual dan ibadah sosial. Keduanya menyatu dalam satu kesadaran: bahwa setiap tindakan adalah pengabdian. Di sinilah letak rahasia fana’ul fana’: bukan lagi “aku beribadah” dan “aku bekerja”, melainkan Allah yang beribadah dan bekerja melalui diriku.

Tanda-Tanda Kewalian: Antara Firasat dan Realitas

Guru ngaji dari Pasuruan itu, seperti banyak guru sufi lainnya, tidak berbicara berdasarkan bukti empiris. Ia berbicara berdasarkan firasat sebuah bentuk pengetahuan intuitif yang dalam tradisi sufi dianggap sebagai salah satu karunia Allah bagi hamba-hamba-Nya yang saleh.

Abu Nu’aim al-Ashfahani dalam Hilyatul Auliya’ meriwayatkan banyak kisah tentang para wali yang memiliki firasat tajam. Mereka mampu “melihat” apa yang tersembunyi di balik wajah, di balik peristiwa, dan di balik zaman. Firasat adalah “cahaya yang Allah lemparkan ke dalam hati seorang hamba, yang dengannya ia mengetahui apa yang tidak diketahui oleh orang lain.” Dalam konteks ini, sang guru melihat dalam diri Jokowi tanda-tanda yang, menurutnya, mengindikasikan status spiritual yang istimewa.

Apa saja tanda-tanda itu?

Pertama, kesabaran yang luar biasa. Dalam dunia politik yang penuh dengan serangan dan fitnah, Jokowi dikenal sebagai sosok yang jarang membalas. Ia lebih memilih bekerja daripada berdebat. Sebagaimana diungkapkan oleh seorang pengamat, “Jokowi itu ada yang bilang, beliau adalah wali mastur… Kesabarannya luar biasa.” Dalam tasawuf, kesabaran (shabr) adalah maqam yang tinggi. Al-Ghazali dalam Ihya’ ‘Ulum al-Din menyebut sabar sebagai “separuh dari iman.” Orang yang sabar tidak mudah terpancing, tidak mudah putus asa, dan tidak mudah membalas kejahatan dengan kejahatan. Ia menyerahkan seluruh urusannya kepada Allah.

Kedua, keberanian yang tidak umum. Jokowi berani mengambil keputusan-keputusan besar yang sebelumnya dianggap mustahil: membangun infrastruktur masif, memindahkan ibu kota ke IKN, menghadapi tekanan internasional demi kepentingan nasional. “Keberaniannya juga luar biasa. Semua program presiden dari pertama sampai SBY, Jokowi eksekusi.” Dalam tasawuf, keberanian (syaja’ah) adalah buah dari tawakal. Seorang wali tidak takut kepada makhluk, karena ia hanya takut kepada Allah. Ia tidak gentar menghadapi badai, karena ia tahu bahwa badai itu digerakkan oleh Kekasihnya.

Ketiga, kemampuan untuk “membaca” kebutuhan rakyat tanpa banyak kata. Blusukan, yang menjadi ciri khas kepemimpinannya, adalah bentuk firasat dalam tindakan ia “merasakan” apa yang dibutuhkan rakyat, bukan hanya “mendengar” atau “melihat”. Dalam psikologi transpersonal, ini adalah empathic attunement kemampuan untuk menyelaraskan diri dengan perasaan dan kebutuhan orang lain. Dalam tasawuf, ini adalah maqam al-ma’iyyah kebersamaan dengan Allah yang memancar menjadi kebersamaan dengan makhluk.

Dalam perspektif sufi, ketiga tanda ini bukanlah kebetulan. Mereka adalah manifestasi dari maqam (stasiun spiritual) yang tinggi. Seorang wali tidak selalu menunjukkan karomah yang spektakuler. Kadang-kadang, karomahnya adalah kesabaran di tengah ujian, keberanian di tengah ketakutan, dan kemampuan untuk melihat apa yang tidak terlihat oleh orang lain.

Tarekat dan Kekuasaan: Sebuah Simbiosis yang Tersembunyi

Namun, pembicaraan tentang Jokowi sebagai wali mastur tidak bisa dilepaskan dari konteks sosial-politik yang lebih luas. Di Indonesia, hubungan antara ulama, tarekat, dan kekuasaan telah berlangsung selama berabad-abad. Para wali, baik yang masyhur (terkenal) maupun yang mastur (tersembunyi), sering kali memiliki pengaruh yang besar terhadap jalannya pemerintahan meskipun pengaruh itu tidak selalu terlihat.

Dalam buku Moh Dahlan, disebutkan bahwa Jokowi “sering meminta masukan dan saran ulama dan kyai dalam menyikapi dan menjawab masalah-masalah krusial kebangsaan dan kenegaraan.” Ini bukan sekadar formalitas politik. Ini adalah pengakuan bahwa dalam pandangan Jawa-Islam, seorang pemimpin tidak bisa berjalan sendiri tanpa bimbingan spiritual dari para ulama dan wali.

Di sinilah letak keunikan wali mastur: ia tidak membutuhkan pengakuan, tetapi ia membutuhkan koneksi. Koneksi dengan jaringan spiritual yang lebih luas para kyai, para habaib, para mursyid tarekat yang memberinya “daya” untuk menjalankan amanah kepemimpinan.

Sang guru ngaji dari Pasuruan, dalam firasatnya, mungkin melihat bahwa Jokowi adalah bagian dari jaringan ini. Bukan sebagai pemimpin tarekat, bukan sebagai ulama, tetapi sebagai seorang abdi dalem seorang hamba yang melayani yang dalam kesibukannya mengurus urusan dunia, tidak pernah melupakan urusan akhirat.

Dalam artikel sebelumnya kita telah melihat bagaimana syair Al-Nabighah al-Dzubyani mengajarkan bahwa “Kamu seperti matahari, sedangkan raja yang lain adalah bintang.” Jika kita terapkan metafora ini, maka wali mastur adalah matahari yang tersembunyi di balik awan. Ia tidak menampakkan diri, tetapi cahayanya menerangi bumi. Ia tidak meminta diakui, tetapi kehangatannya dirasakan oleh semua orang. Jokowi, dalam firasat sang guru, adalah matahari semacam itu—bukan karena ia sempurna, bukan karena ia tanpa cela, tetapi karena ia telah melewati ujian-ujian yang menghancurkan ego, dan yang tersisa hanyalah kerja, kerja, dan kerja.

Kritik dan Keraguan: Antara Keyakinan dan Skeptisisme

Tentu saja, tidak semua orang setuju dengan penilaian ini. Banyak yang melihatnya sebagai bentuk mitologisasi politik upaya untuk memberikan legitimasi spiritual kepada seorang pemimpin yang sebenarnya tidak lebih dari seorang politisi pragmatis.

“Wali mastur itu kan seharusnya tersembunyi,” kata seorang pengamat politik yang enggan disebut namanya. “Kalau sudah dibicarakan di mana-mana, ya tidak mastur lagi.”

Kritik ini memiliki dasar yang kuat. Dalam tradisi sufi, salah satu ciri wali mastur adalah bahwa ia sendiri tidak mengetahui statusnya. Jika ia mengetahuinya, atau jika orang lain mengetahuinya dan mengumumkannya, maka ia tidak lagi mastur. Ia telah menjadi wali masyhur wali yang terkenal.

Namun, di sisi lain, ada juga pandangan yang lebih longgar. Sebagaimana diungkapkan oleh Cak Nun, budayawan dan pegiat tasawuf, Satrio Piningit atau wali mastur adalah “manusia dengan watak tertentu, dengan keunggulan kepribadian tertentu, keistimewaan tertentu… Tidak persis satria (piningit) itu wali, kira-kira kualitatifnya itu menuju wali.”

Dengan kata lain, sebutan wali mastur mungkin bukanlah sebuah gelar, tetapi sebuah deskripsi sebuah cara untuk memahami fenomena kepemimpinan yang sulit dijelaskan dengan logika politik semata. Ia adalah undangan untuk melihat melampaui permukaan, untuk mencari yang tersembunyi di balik yang tampak, dan untuk merenungkan bahwa mungkin saja Allah memiliki kekasih-kekasih yang tidak kita kenal, yang bekerja dalam sunyi untuk kemaslahatan umat.

Dan bukankah itu inti dari fana’ul fana’? Dalam maqam ini, seorang hamba tidak lagi peduli apakah ia disebut wali atau bukan. Ia tidak lagi peduli apakah ia dikenal atau tersembunyi. Ia bahkan tidak lagi peduli apakah ia selamat atau celaka karena “ia” yang biasanya peduli itu telah lama lenyap. Yang ada hanyalah Allah, Yang Maha Mengatur, Yang Maha Mengetahui, Yang Maha Memberi.

Menuju Fana’ul Fana’: Pemimpin yang Lenyap dalam Tugas

Dalam Jami’ul Ushul fil Auliya’, Al-Kamasykhanawi menguraikan bahwa puncak dari seluruh perjalanan spiritual adalah fana’ul fana’—lenyap dari lenyap. Pada tahap ini, bahkan kesadaran “aku telah fana’” dihapuskan. Tidak ada lagi “aku” yang merasa suci, “aku” yang merasa telah mencapai sesuatu, “aku” yang merasa layak disebut wali. Semua “aku” telah sirna, dan yang tersisa hanyalah al-Haqq yang bertindak melalui hamba-Nya.

Jika kita terapkan pada sosok Jokowi, maka pertanyaannya bukan lagi “apakah ia wali mastur atau bukan?” Pertanyaan yang lebih dalam adalah: mampukah seorang pemimpin melepaskan egonya sedemikian rupa sehingga ia tidak lagi bekerja untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Allah dan untuk rakyat? Mampukah ia melewati ujian-ujian yang menghancurkan kesombongan, sehingga yang tersisa hanyalah pelayanan?

Gus Dur, dalam artikel sebelumnya, mengajarkan kepada kita bahwa fana’ul fana’ melahirkan jargon “Gitu aja kok repot.” Ia menertawakan kerumitan buatan yang lahir dari ego kolektif. Ia membebaskan diri dari belenggu kecemasan dengan cara menyerahkan semuanya kepada Allah. Mungkin, dalam diamnya, Jokowi sedang menjalani hal yang serupa: bekerja tanpa banyak bicara, membangun tanpa banyak mengeluh, dan menyerahkan hasilnya kepada Allah.

“Wong kaya ngono kuwi ora gampang,” kata sang guru ngaji dari Pasuruan. “Kudu sabar. Kudu wani. Kudu tulus. Baru Allah angkat dadi wali.”

Penutup: Menerawang yang Tersembunyi

Di penghujung malam, ketika para santri telah pulang ke kamar masing-masing, sang guru ngaji dari Pasuruan itu masih duduk di balik mimbar kayunya. Matanya menerawang ke arah timur, ke arah Jakarta yang berjarak ratusan kilometer.

“Wong kaya ngono kuwi ora gampang,” katanya lirih, seolah berbicara pada dirinya sendiri. “Kudu sabar. Kudu wani. Kudu tulus. Baru Allah angkat dadi wali.”

Apakah Jokowi benar-benar seorang wali mastur? Pertanyaan itu mungkin tidak akan pernah terjawab secara pasti dan mungkin itulah yang membuatnya tetap mastur.

Yang jelas, bagi sang guru dan para santrinya, pertanyaan itu bukanlah tentang status atau gelar. Ia adalah tentang bagaimana seorang manusia bisa menjalani hidup dengan kesabaran, keberanian, dan ketulusan sampai-sampai orang lain, yang melihat dari jauh, merasakan adanya cahaya yang tak terlihat.

Dan dalam tradisi sufi, bukankah itu inti dari segalanya? Bukan untuk menjadi wali, tetapi untuk menjadi hamba. Bukan untuk dikenal, tetapi untuk mengabdi. Bukan untuk terlihat, tetapi untuk bekerja.

Seperti angin yang tidak kelihatan, tapi sampai ke mana-mana.

Wallahu a’lam bi al-shawab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *