Hilangnya Taring Gerakan BEM se Jember

Oleh: Muhammad Dhiya'ul Haq, Presiden Mahasiswa Politeknik Negeri Jember periode 2025

Muhammad Dhiya'ul Haq, Presiden Mahasiswa Politeknik Negeri Jember periode 2025

Kursi Kekuasaan Lebih Dipertahankan daripada Nilai-Nilai Gerakan Mahasiswa

Dinamika internal organisasi mahasiswa kembali menjadi sorotan, sebuah kondisi aliansi gerakan Mahasiswa di Jember yang sedang tidak baik-baik saja. Di tengah berbagai persoalan yang menuntut keberanian dan langkah kongkrit mahasiswa untuk bersuara, ruang yang seharusnya menjadi pusat konsolidasi gerakan justru dihadapkan pada persoalan klasik terkait “kekuasaan, regenerasi, dan kepentingan individual struktural”.

Aliansi BEM se-Jember yang semestinya menjadi simpul konsolidasi gerakan mahasiswa, ruang pertukaran gagasan kerakyatan, sekaligus kekuatan kontrol sosial, patut melakukan refleksi mendalam terhadap arah gerakannya.

Ketika seorang pemimpin organisasi lebih sibuk mempertahankan pengaruh kepentingan individual daripada memperjuangkan kepentingan mahasiswa dan masyarakat, maka pertanyaan yg layak kita lontarkan “dimanakah taring sebuah gerakan Aliansi BEM SE-JEMBER?”.

Persoalan semakin serius ketika proses kepemimpinan yang berlangsung dinilai tidak sesuai dengan ketentuan AD/ART Aliansi BEM SE JEMBER berdasarkan BAB VI Pasal 15 terkait kepengurusan ayat 3 yang berbunyi “Masa kerja kooddinator daerah 1 tahun dan tidak dapat dipilih kembali untuk kepengurusan berikutnya”. Ketentuan tersebut merupakan hasil kesepakatan kongres ke-1 Aliansi Bem Se-jember tahun 2024 yang sekaligus menjadi dasar konstitusional dalam kepengurusan aliansi.

Kondisi ini berakibat fatal dalam arah gerak Aliansi BEM Se-Jember dimana terdapat ketidakpahaman pemimpin dalam memahami sebuah landasan dasar konstitusional, hal ini berimbas pada seluruh gerakan yang di lakukan aliansi bersifat seremonial dan tidak subtansif serta menggeser nilai-nilai gerakan mahasiswa.

Maka persoalan tersebut bukan lagi sekadar persoalan individu, melainkan persoalan reformasi organisasi.

Organisasi mahasiswa tidak dibangun untuk melahirkan kekuasaan yang abadi. Jabatan adalah mandat bukan warisan, kekuasaan adalah amanah bukan kepemilikan, ketika satu struktural sudah terlena didalam lingkaran kekuasaan, hal yang patut kita pertanyakan adalah “apakah mekanisme regenerasi masih berjalan? Apakah kaderisasi benar-benar menciptakan pemimpin baru? Atau justru organisasi sedang membangun ketergantungan terhadap individual? “. Muncul dugaan penggunaan sumber daya serta nama baik aliansi untuk kepentingan perut perseorangan dan kelompok tertentu.

Disinilah indenpendensi gerakan mahasiswa diuji dengan berani bergerak tanpa adanya tekanan dan intervensi dari pihak manapun dalam mengambil Keputusan dalam aliansi serta berani mengkritik sistem kekuasaan, Ketika aktivis kehilangan daya gigit gerakan mahasiswa tidak lahir untuk menjadi dekorasi demokrasi. Mahasiswa memiliki tradisi intelektual yang panjang dalam mengawal persoalan publik. Karena itu, organisasi mahasiswa seharusnya memiliki independensi, keberanian, dan daya kritis terhadap berbagai bentuk kekuasaan.

Namun, bagaimana mungkin aliansi mahasiswa mampu menjadi kontrol sosial terhadap kekuasaan di luar kampus apabila di dalam tubuh organisasinya sendiri mekanisme kontrol terhadap kekuasaan tidak berjalan, bagaimana mahasiswa dapat berbicara tentang demokrasi apabila regenerasi internal menjadi candaan di meja tongkrongan.

Bagaimana mahasiswa dapat menuntut transparansi institusi lain apabila transparansi di tubuh gerakannya sendiri masih menjadi candaan di kopian.

Aliansi bukan milik segelintir Orang tetapi, aliansi adalah ruang kolektif bagi mahasiswa, karena itu, setiap keputusan organisasi harus dapat dipertanggungjawabkan kepada aliansi dan anggotanya. Setiap kepemimpinan harus memiliki batas. Setiap kekuasaan harus memiliki kontrol. Dan setiap mandat harus memiliki pertanggungjawaban.

Jika organisasi kehilangan prinsip tersebut, maka yang terjadi bukan lagi kaderisasi, melainkan reproduksi kekuasaan yang cacat, organisasi tidak lagi bertanya siapa yang mampu melanjutkan perjuangan, tetapi siapa yang mampu mempertahankan gerakan yang sudah kita perjuangkan.

Pada titik inilah gerakan mahasiswa mengalami degradasi, bukan karena tidak memiliki massa, bukan karena tidak memiliki regenerasi. Tetapi karena kehilangan keberanian untuk melakukan koreksi terhadap dirinya sendiri.

Kembalikan Taring Gerakan

Aliansi BEM se-Jember membutuhkan lebih dari sekadar pergantian kepengurusan. Yang dibutuhkan adalah pembenahan kultur organisasi. Konstitusi harus menjadi dasar, regenerasi harus berjalan, kaderisasi harus mampu membuka ruang bagi generasi selanjutnya, transparansi harus menjadi dikedepankan, dan kritik harus ditempatkan sebagai mekanisme kontrol, bukan dianggap sebagai ancaman terhadap eksistensi seseorang.

Sebab organisasi yang sehat bukan organisasi yang tidak pernah mengalami konflik. Organisasi yang sehat adalah organisasi yang mampu menyelesaikan konflik melalui mekanisme demokratis, terbuka, dan konstitusional.

Jika Aliansi BEM se-Jember ingin kembali menunjukkan taringnya, maka keberanian harus lahir dari dalam. Jangan hanya lantang mengkritik kekuasaan di luar. Sebab sejarah gerakan mahasiswa tidak lahir Dari siapa yang paling lama duduk di kursi kepemimpinan. Sejarah gerakan mahasiswa dilahirkan oleh keberanian kita berdiri ketika kepentingan rakyat dipertaruhkan. Karena ketika mahasiswa berhenti melawan, maka kekuasaan akan belajar bahwa mereka tidak perlu takut pada suara mahasiswa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *