Monwnews.com, Persoalan gizi pada balita masih menjadi pekerjaan rumah yang belum tuntas di sejumlah wilayah pedesaan Indonesia, tidak terkecuali di Desa Gebang, Kecamatan Tenggarang, Kabupaten Bondowoso. Berdasarkan observasi dan diskusi awal yang dilakukan oleh Tim Program Mahasiswa Berdesa (Promahadesa) Universitas Jember bersama kader Posyandu Teratai setempat, ditemukan fakta yang cukup mengkhawatirkan: sekitar satu dari enam balita di desa tersebut mengalami masalah gizi, mulai dari stunting, gizi kurang, hingga berat badan di bawah standar.
Padahal, desa yang berjarak sekitar 37,8 kilometer dari Universitas Jember ini sebenarnya tidak kekurangan potensi. Wilayahnya bertipologi persawahan dengan mayoritas penduduk bekerja sebagai petani, buruh tani, buruh bangunan, dan pedagang, serta memiliki lahan pertanian yang cukup luas. Masalahnya, pola pemanfaatan hasil pertanian yang masih terpusat pada komoditas tertentu membuat konsumsi pangan keluarga kurang beragam, sehingga asupan protein hewani dan sayuran hijau masih jauh dari cukup. Kebiasaan sebagian anak mengonsumsi makanan cepat saji turut memperburuk kualitas asupan gizi harian mereka.
Pemerintah desa sejatinya telah berupaya menangani persoalan ini lewat pemberian susu gratis selama tiga bulan. Namun, upaya tersebut belum dibarengi dengan pendataan yang menyeluruh mengenai jumlah balita berisiko, kondisi sanitasi dan tempat tinggal, pola asuh, tingkat pendidikan serta pekerjaan orang tua, hingga kebiasaan makan dalam keluarga. Padahal data semacam itu penting untuk merumuskan intervensi yang benar-benar tepat sasaran. Kondisi ini diperparah oleh tingkat pendidikan sebagian besar ibu balita yang mengalami stunting, yakni lulusan SMP hingga SMA, yang berpotensi memengaruhi pemahaman mereka tentang pentingnya penerapan gizi seimbang bagi anak.
Bukan Sekadar Program, tapi Solusi dari Pekarangan Rumah
Menjawab persoalan tersebut, Tim Promahadesa Gebang tidak hanya berhenti pada tahap edukasi, tetapi juga merancang solusi konkret yang bisa langsung diterapkan masyarakat di lingkungan rumah masing-masing. Melalui program bertajuk “Taman Gizi Keluarga sebagai Upaya Ketahanan Pangan Keluarga dan Pencegahan Balita Gizi Buruk”, tim yang diketuai oleh Nayla Rahma Aulia dan dibimbing oleh Dr. drg. Banun Kusumawardani, M.Kes. ini mendorong warga untuk mengubah lahan pekarangan yang selama ini kurang termanfaatkan menjadi sumber pangan bergizi yang segar, ekonomis, dan berkelanjutan.
Konsep Taman Gizi Keluarga ini mengintegrasikan tiga komponen sekaligus dalam satu lahan pekarangan sederhana. Pertama, tanaman sayuran seperti bayam, kangkung, dan sawi. Kedua, tanaman obat keluarga (TOGA) seperti bunga telang, jahe, dan serai yang berfungsi sebagai sumber nutrisi tambahan. Ketiga, sumber protein hewani berupa budidaya ikan lele dan pemeliharaan ayam petelur skala rumah tangga. Dengan kombinasi ini, satu petak pekarangan diharapkan mampu menyuplai kebutuhan nabati sekaligus hewani bagi keluarga tanpa harus selalu bergantung pada pembelian bahan pangan dari luar.
“Program ini merupakan pendekatan pemberdayaan masyarakat berbasis pemanfaatan sumber daya lokal,” demikian inti dari konsep yang diusung tim, sebagaimana tertuang dalam laporan kemajuan kegiatan. Pendekatan ini dipilih karena keterbatasan lahan, modal, waktu, dan biaya pemeliharaan seringkali menjadi kendala utama masyarakat dalam menerapkan budidaya pangan mandiri, sehingga dibutuhkan model yang sederhana namun tetap efektif.
Dari Edukasi, Pelatihan, hingga Taman Percontohan
Sejak dimulai, program yang telah berjalan selama tiga bulan dengan capaian pelaksanaan mencapai 50 persen ini telah melalui sejumlah tahapan penting. Tim lebih dulu melakukan koordinasi dengan Kepala Desa Gebang, Endang Susilowati, A.Md., serta para kader Posyandu untuk menyamakan persepsi dan mengidentifikasi kebutuhan warga sebelum kegiatan inti dijalankan.
Rangkaian kegiatan kemudian dimulai dengan edukasi pencegahan stunting yang menyasar ibu-ibu balita dan kader Posyandu, dilaksanakan berbarengan dengan kegiatan Posyandu Teratai 2. Dalam sesi berdurasi sekitar dua jam ini, peserta mendapatkan materi tentang pengertian dan faktor risiko stunting, konsep 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), hingga penerapan konsep Isi Piringku, yang dilanjutkan dengan sesi diskusi dan tanya jawab.
Edukasi tersebut diperkuat dengan dua modul yang disusun tim, yakni “Kenali dan Cegah Stunting” serta “Taman Gizi untuk Pemenuhan Gizi Seimbang”, yang kemudian diringkas menjadi leaflet dan poster agar mudah dipahami dan dibaca ulang oleh warga di rumah. Sebagai kanal informasi tambahan, tim turut membuka akun Instagram dan TikTok resmi Promahadesa Gebang untuk mempublikasikan seluruh rangkaian kegiatan kepada khalayak yang lebih luas.
Tahap berikutnya adalah pelatihan pembuatan Taman Gizi yang digelar di Balai Desa Gebang. Warga diajak mempraktikkan langsung sejumlah teknik sederhana, mulai dari penyemaian dan penanaman sayuran, pembuatan sistem irigasi sederhana, pemanfaatan barang bekas seperti botol plastik sebagai media tanam maupun kolam budidaya lele, pembuatan biopori, hingga cara memelihara ikan lele dan ayam petelur. Setelah pelatihan, tim bersama warga langsung membangun taman gizi percontohan di Balai Desa Gebang sebagai contoh nyata yang bisa diamati dan direplikasi warga secara mandiri di rumah masing-masing.
Menanti Panen dan Rencana Keberlanjutan
Sebagai kelanjutan dari keberhasilan panen awal, tim bersama warga telah sukses melaksanakan demonstrasi pengolahan hasil taman gizi menjadi beragam menu makanan bergizi. Dalam kegiatan ini, bahan-bahan panen langsung diolah menjadi kreasi pangan lokal seperti nasi telang, rolade lele, keripik kulit lele, hingga es lemon telang yang lezat dan kaya nutrisi. Demonstrasi ini menjadi krusial untuk memastikan bahwa hasil panen dari taman gizi tidak hanya berhenti sebagai tanaman hias di pekarangan, melainkan benar-benar hadir di meja makan keluarga guna mendukung pemenuhan gizi dan pencegahan stunting pada balita secara berkelanjutan.
Ke depan, tim juga akan berfokus pada pendampingan keberlanjutan, mengingat sejumlah tantangan masih membayangi, seperti kesulitan warga memelihara taman gizi secara mandiri pasca-demonstrasi serta keterbatasan lahan di sebagian rumah tangga. Untuk itu, disiapkan strategi berupa optimalisasi lahan sempit melalui budidaya vertikal, pot, atau polybag, penyusunan jadwal pemeliharaan bersama warga, serta monitoring dan evaluasi berkala agar taman gizi ini tidak berhenti sebagai proyek seremonial, melainkan tumbuh menjadi kebiasaan baru yang berkelanjutan di tengah masyarakat Desa Gebang.
Program ini juga diarahkan sebagai model pemberdayaan masyarakat berbasis ketahanan pangan yang dapat direplikasi di desa-desa lain, sekaligus menjadi kontribusi nyata mahasiswa Universitas Jember terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya poin kedua tentang Tanpa Kelaparan dan poin ketiga tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera. Dengan hadirnya Taman Gizi Keluarga, warga Desa Gebang diharapkan tak hanya lebih paham soal gizi seimbang, melainkan juga benar-benar memiliki sumber pangan bergizi yang tumbuh dari pekarangan rumah mereka sendiri.
Laporan disusun oleh: Kelompok Promahadesa Universitas Jember












