Esensi Kesaktian Pancasila: Tahan, Tengah, dan Tetap

Oleh: Galih Herry (Sekretaris INAKER PC Kota Malang / Ketua Forum Malang Jurnalis Ma-Ju)

Galih Herry (Sekretaris INAKER PC Kota Malang / Ketua Forum Malang Jurnalis Ma-Ju)

Monwnews.com, Malang – Kenapa disebut “Kesaktian”? Bukan karena hal mistik. Sakti di sini memiliki arti: Pancasila terbukti tidak bisa dihancurkan, tidak bisa diganti, dan selalu selamat dari setiap upaya pemberontakan.

​Esensi dari Kesaktian Pancasila terbagi dalam 5 lapisan utama:

​1. Esensi Sejarah: Teruji oleh Darah Perjuangan

​Pancasila disebut sakti karena telah berkali-kali dicoba untuk dibunuh dan ditiadakan, namun tetap berdiri kokoh. Berbagai peristiwa sejarah mencatat daya tahannya:

  • ​1948 (PKI Madiun): Upaya mengganti Pancasila dengan ideologi komunisme berhasil digagalkan.
  • ​1950–1960-an (DI/TII): Upaya mengganti dasar negara menjadi negara agama juga mengalami kegagalan.
  • ​1965 (G30S/PKI): Puncak peristiwa mengenaskan di mana tujuh Jenderal diculik dan dibunuh. Pancasila coba dicabut secara paksa. Namun, rakyat bersama TNI tetap berdiri bersatu. Hasilnya, upaya kudeta hingga ancaman radikalisme modern tetap gagal.

​Kesaktian ini merupakan kesaktian sejarah yang telah ditempa oleh pengorbanan darah para pahlawan revolusi.

​2. Esensi Filosofis: Sesuai Fitrah Jiwa Bangsa

​Pancasila tidak bisa diganti karena bukan buatan satu orang belaka, melainkan cerminan jiwa manusia Indonesia:

  • ​Sila 1: Menunjukkan bangsa Indonesia yang religius (Berketuhanan).
  • ​Sila 2: Menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dan semangat gotong royong.
  • ​Sila 3: Menjaga persatuan dari Sabang sampai Merauke dalam satu kesatuan.
  • ​Sila 4: Mengedepankan jalan komunikasi melalui forum musyawarah, bukan konflik.
  • ​Sila 5: Mengusung cita-cita keadilan dan kemakmuran bersama.

​Inilah fitrah warga bangsa Indonesia. Jika diganti dengan paham lain, jiwa bangsa secara alami akan menolaknya. Ibarat kopi tanpa gula; meskipun pahit, ia asli dan jujur. Begitu pula Pancasila yang lahir dari kultur asli bumi Nusantara.

​3. Esensi Ideologis: Berada di Titik Tengah

​Di arena global, terdapat ideologi kanan (liberal-kapitalis) dan kiri (komunis), serta pertentangan antara negara agama vs negara sekuler. Pancasila hadir secara sakti di tengah-tengah untuk merangkul semua pihak:

  • ​Tidak ekstrem agama, tetapi tidak anti-agama (dijaga oleh Sila ke-1).
  • ​Tidak komunis, tetapi tidak liberal bablas (dijaga oleh Sila ke-5 tentang keadilan sosial).
  • ​Demokratis, tetapi bukan demokrasi liberal (dijaga oleh Sila ke-4 tentang permusyawaratan/perwakilan).

​Sifatnya yang moderat membuat seluruh golongan dapat hidup berdampingan di bawah naungannya. Inilah kekuatan Pancasila sebagai pemersatu bangsa.

​4. Esensi Hukum: Sumber dari Segala Sumber Hukum

​Dalam hierarki hukum Indonesia, Pancasila berkedudukan sebagai Staatsfundamentalnorm (sumber dari segala sumber hukum). Seluruh produk hukum seperti UUD 1945, Undang-Undang, Perpres, hingga Perda tidak boleh bertentangan dengannya.

​Setiap aturan yang melanggar nilai-nilai Pancasila secara otomatis gugur. Hal ini memberikan Indonesia fondasi kokoh yang tidak goyah oleh kepentingan politik sesaat.

​5. Esensi Spiritual Kebangsaan: Ikrar Kesetiaan

​Peringatan Hari Kesaktian Pancasila setiap 1 Oktober pada hakikatnya adalah momentum untuk:

  1. ​Mengingat bahwa kemerdekaan ini ditebus dengan jiwa dan nyawa.
  2. ​Menghormati jasa dan pengorbanan Pahlawan Revolusi dalam mempertahankan Pancasila.
  3. ​Memperbarui janji untuk tetap setia kepada Pancasila.

​Kesimpulan: Tahan, Tengah, dan Tetap

​Esensi Kesaktian Pancasila dapat dirangkum dalam tiga kata: TAHAN, TENGAH, dan TETAP.

  • ​TAHAN: Teruji oleh sejarah dan darah perjuangan.
  • ​TENGAH: Moderat sehingga dapat diterima oleh semua golongan.
  • ​TETAP: Menjadi sumber hukum dan jati diri bangsa yang tak tergoyahkan.

​Oleh karena itu, berdiri tegaknya kita di setiap upacara 1 Oktober bukanlah sekadar formalitas. Itu adalah wujud ikrar: “Kami masih di sini, bersama Pancasila. Pahit getir tantangan akan kami lewati, seperti nikmatnya kopi tanpa gula.”

​Malang, 1 September 2026

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *