Umum  

Curhat Warga Lereng Semeru yang Ingin Gunung Dipindah, Viral dan Sarat Makna

Warga lereng Gunung Semeru, Gimah, mengungkap keresahan hidup di kawasan rawan bencana dengan gaya sederhana yang viral di media sosial.
Warga lereng Gunung Semeru, Gimah, mengungkap keresahan hidup di kawasan rawan bencana dengan gaya sederhana yang viral di media sosial.

Monwnews.com, Lumajang – Nama Gimah mendadak jadi perbincangan nasional. Perempuan paruh baya asal Desa Supiturang, Kecamatan Pronojiwo, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, menyuarakan keresahan hidup di bawah bayang-bayang erupsi Gunung Semeru dengan cara yang tak biasa: jujur, polos, dan memunculkan senyum pahit.

Akun TikTok @tni_in_action merekam keluh kesah Gimah dalam sebuah video wawancara. Hingga Rabu (14/01/2026), jutaan pengguna menonton video tersebut dan membagikannya puluhan ribu kali. Netizen pun langsung bereaksi. Sebagian tertawa mendengar celetukan khas emak-emak desa, sementara sebagian lain terdiam karena menangkap pesan serius di balik candaan itu.

Dengan gaya tutur sederhana, Gimah menyampaikan harapan yang terdengar mustahil tetapi terasa sangat manusiawi. Ia ingin Gunung Semeru “dipindahkan” agar warga bisa hidup tenang.

“Masak empat tahun sekali erupsi. Coba gunungnya dipindah ke mana gitu,” ujar Gimah lugas.

Ucapan itu viral bukan semata karena kelucuannya, melainkan karena kalimat tersebut mewakili kelelahan warga yang terus hidup berdampingan dengan ancaman erupsi tanpa jeda. Gimah bahkan menyebut nama Bupati Lumajang, Indah Amperawati Masdar, sambil melontarkan candaan soal menutup kawah gunung dengan semen dari seluruh Indonesia.

Di balik candaan itu, trauma nyata masih membekas. Gimah mengingat jelas detik-detik ketika lahar dan debu panas datang perlahan lalu berubah menjadi ancaman serius. Ia memilih bertahan karena mengira situasi masih aman, hingga panas dan abu membuatnya panik.

Gimah tinggal bersama suaminya di Dusun Gemukmas. Erupsi Gunung Semeru melanda wilayah tersebut pada 19 November 2025. Meski rumahnya hanya mengalami kerusakan ringan, rasa takut tetap menetap.

Permintaan memindahkan gunung memang mustahil. Namun suara Gimah membuktikan satu hal warga di kawasan rawan bencana tidak mencari sensasi. Mereka hanya menginginkan rasa aman. Dan kali ini, satu curhatan sederhana berhasil membuat Indonesia mendengar. (Rha/Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *