Monwnews.com, Malang – Kepala Desa Selorejo, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, Bambang Soponyono adalah tokoh masyarakat dengan jabatan Kepada Desa, yang aktif mendorong potensi desa wisata petik jeruk dan pemberdayaan UMKM melalui kemitraan strategis.
Beliau fokus pada pengembangan ekonomi lokal dan menjalin kerja sama dengan akademisi untuk meningkatkan manajemen usaha warga.
Kades yang satu ini dalam Fokus Kerjanya ialah, senantiasa mengembangkan Desa Selorejo sebagai destinasi wisata petik jeruk guna memperkuat ekonomi UMKM setempat, serta penggerak dan penggagas Wisata Ekologi.
Bambang Soponyono dikenal selalu berupaya meningkatkan kemandirian ekonomi desa melalui sinergi dengan berbagai pihak.
Diantaranya, dia telah membangun kemitraan dan aktif berkolaborasi dengan lembaga pendidikan, seperti STIE Kertanegara dan Institut Pertanian Malang, untuk pendampingan.
Bahkan sebagai Kepala Desa, pria sederhana juga tegas dalam tindakan.
Termasuk pernah menanggapi isu terkait lahan kebun jeruk di Desa Selorejo untuk melindungi kepentingan penyewa lahan.
Selain Wisata Kebun Jeruk, Bambang Soponyono juga cukup sukses mengembangkan Wisata Ekologi, yakni Wisata Bumi Perkemahan Bedengan.
Keberhasilannya sebagai Kepala Desa (Kades) Selorejo, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, bersama perangkat desa dan masyarakat setempat dalam mengelola Bumi Perkemahan (Buper) Bedengan adalah contoh sukses pengembangan ekowisata berbasis komunitas (community-based tourism).
Ditemui awak monwnews.com di akhir bulan Januari, hari Sabtu (31 Januari 2026), Bambang Soponyono menjelaskan, bahwa Wisata Bedengan tersebut berhasil mengubah kawasan hutan pinus dan sungai menjadi destinasi populer, yang berdampak positif pada ekonomi dan lingkungan.
Berikut adalah poin-poin keberhasilan yang disampaikan oleh Kades Selorejo dalam mengelola Wisata Bedengan, meliputi:
1. Pemberdayaan Masyarakat dan Tata Kelola Inklusif
Kolaborasi Tim Landak: Keberhasilan Bedengan dimotori oleh kerja sama antara Pemerintah Desa, Perhutani KPH Malang, dan Tim Landak (Lembaga Adat Desa dan Konservasi).
Pengelolaan Berbasis Masyarakat – Warga lokal dilibatkan langsung dalam pengelolaan, yang menciptakan rasa memiliki dan tanggung jawab kolektif untuk melestarikan hutan dan sungai.
Peningkatan SDM:
Pengelola mendapat pelatihan kepemanduan, pelayanan tamu, dan pengelolaan sampah untuk meningkatkan kualitas layanan wisata.

2. Dampak Ekonomi dan Aksesibilitas
Menciptakan Lapangan Kerja Baru: Wisata Bedengan menyerap tenaga kerja lokal dan membuka peluang usaha bagi warga sekitar, seperti warung makan dan kios cinderamata.
Peningkatan Pendapatan: Wisata Bedengan juga turut memberikan peningkatan pendapatan desa dan masyarakat sekitar secara signifikan.
Infrastruktur:
Pembangunan Jalan Lingkar Selorejo mempermudah akses ke Bedengan, sekaligus melancarkan pergerakan hasil perkebunan jeruk warga.
3. Pengembangan Potensi Wisata Alam (Ekowisata)
Eduwisata Jelajah Sungai: Bedengan dirintis menjadi eduwisata yang menonjolkan keindahan sungai dangkal dan hutan pinus.
Fasilitas Modern: Adanya penambahan fasilitas seperti rumah pohon, high rope (tali tinggi), area perkemahan yang tertata, dan sarana ibadah/toilet.
Healing & Camping:
Tempat Wisata Bedengan menjadi destinasi healing (penyembuhan) populer di kalangan anak muda dan keluarga karena suasana alamnya.
4. Pelestarian Lingkungan
Konsep Ekowisata: Pengelolaan Bedengan menitikberatkan pada kelestarian alam (konservasi hutan), bukan hanya sekedar komersialisasi.
Restorasi Sungai: Terdapat upaya restorasi sempadan sungai dengan menanam berbagai bibit pohon buah.
Keberhasilan sektor wisata alam yang tetap mempertahankan keseimbangan ekologi tersebut, menjadikan Desa Selorejo sebagai teladan dalam pengelolaan sumber daya hutan dan alam sebagai desa wisata yang berkelanjutan di Kabupaten Malang.
Saat ini Kades Selorejo, Bambang Soponyono sedang konsentrasi untuk mengembangkan lagi Wisata Alam yang menonjolkan Sumber Mata Air Terjun.
“Namanya Air Terjun – PARANGTEJO – Selorejo, yang lokusnya dekat dengan wilayah Desa Gading kulon,” terang Kades yang terkenal ramah dan murah senyum itu pada awak monwnews.com.
“Saat ini tinggal menunggu SK perhutanan sosial – ijin kelola, yang diberikan kepada masyarakat desa untuk ijin pengelolaannya, kalau dulu ke perhutàni,” pungkasnya.
Bambang Soponyono juga menyampaikan, jika Ijin pengajuannya tersebut sejak 2022 lalu. Dan diperkirakan, kabarnya sekitar dua minggu lagi SK yang dimaksudkan diharapkan sudah keluar.
Adapun potensi wilayah sumber mata air terjun di wilayahnya, menurut Kades Selorejo ada potensi empat sumber mata air terjun. Namun pihaknya lebih fokus pada pengembangan dan pengelolaan Air Terjun – Parangtejo – selorejo.
Terakhir menutup pembicaraan dengan awak monwnews.com, Kades Selorejo, Bambang Soponyono mengatakan, jika konsep berpikirnya sebagai Kades, salah satunya terilhami oleh konsepsi budaya pemikiran dari seorang Spiritual Enginering, KRMH. Gagoek Kapoet Triana, S.H., selaku Ketua Dewan Pendiri _INAKER_ (_Indonesia Bekerja_) baik dalam ruang diskusi langsung maupun tak langsung. (galih)












