Asu Gede Menang Kerahe Dinamika Dialektika Diantara Semut Abang Ngrangsang Gunung Merapi dan Serta Tikus Pithi Hanoto Baris

Oleh : Gagoek INAKER. Ketua Dewan Pendiri INDONESIA BEKERJA

Monwnews.com, Dalam frasa tersebut tampak sebagai ungkapan metaforis NJawani yang sarat simbolisme, menggambarkan dinamika kekuasaan, perjuangan, dan harmoni dalam konteks kosmologi Gunung Merapi.

Ungkapan ini bisa diinterpretasikan sebagai alegori tentang bagaimana entitas besar ( asu gede/penguasa serakah dan serta dholim ) mendominasi ditengah diantara semut abang adalah simbol kerja keras kolektif yang sewaktu-waktu dapat menggoyang Gunung Merapi dan serta diantara Tikus Pithi Hanoto Baris adalah simbol gerakan kompak karena terganggu kepetingan dasar Rakyat kecil yang bergerak dinamis dalam dinamika politik kekuasaan namun bergerak teratur melihat momentum pada penguasa/elite politik yang berjiwa serakanomic.

Secara empiris, ini mencerminkan observasi alam dan sosial disekitar Gunung Merapi, seperti aktivitas semut merah yang agresif dan tikus sawah yang bertahan hidup dikarenakan kerusakan parah ekosistem akibat adab dan moral penguasa.

Ontologisnya , frasa ini mengeksplorasi hakikat keberadaan ( being ) di mana Gunung Merapi sebagai noumena ( Das Ding an Sich, per Kant ) melampaui dualitas manusia-alam, menjadi pusat mistisisme Jawa dengan trinitas kosmologi dalam api ( Merapi ), air ( Laut Selatan ), dan tanah ( Keraton ).

Semut abang mewakili eksistensi Rakyat Bersama yang kolektif dinamis bergerak ngrangsang ( menggoyang ) gunung, diantara tikus pithi hanoto baris melambangkan ontologi Rakyat jelata yang berbaris ( terorganisir ) tapi mulai tamak egois namun gampang dijebak dan serta digerakkan , seperti dalam ramalan Jayabaya.

Secara epistemologis, pengetahuan tentang dinamika ini diperoleh melalui pengamatan empiris semut menggerogoti lereng Merapi dan tradisi lisan NJawani, seperti kisah Mbah Maridjan yang memahami mistisisme gunung via ritus sujud.

Dalam memaknainya sebagai cara mengenal pemberontakan rakyat melalui simbol tikus yang pithi/ kecil sistem kendur, membatasi akal pada fenomena tapi mendekati noumena via imajinasi kosmologis.

Aksiologis dalam nilai utamanya adalah harmoni dan perlawanan dimana asu gede menang karena sombong, tapi semut dan tikus ajarkan kerja keras, ketamakan teratur, dan keseimbangan etis terhadap alam Merapi.

Hal Ini mendesak nilai gotong royong ( semut ) versus individualisme rakus , dengan Merapi sebagai pengingat nilai pengabdian hingga mati, seperti Mbah Maridjan.

Makna semut abang ngrangsang Gunung Merapi dalam filsafat Jawa adalah metafora tentang perjuangan kolektif Rakyat kecil yang menggoyang kekuatan besar alam atau kekuasaan, meski tampak remeh.

Ungkapan ini muncul dalam konteks kosmologi Merapi-Jawa, di mana semut abang ( semut merah, simbol kerja keras dan agresivitas gotong royong ) ngrangsang (menggoyang atau merangsang) gunung suci, melambangkan bagaimana dinamika sosial bawah mampu memengaruhi keseimbangan mistis gunung.

Secara ontologis, semut abang merepresentasikan eksistensi kolektif yang dinamis terhadap noumena Gunung Merapi sebagai pusat trinitas kosmologi Jawa ( Merapi-api, Laut Kidul-air, Keraton-tanah ).

Mereka bukan sekadar serangga empiris yang menggerogoti lereng, tapi simbol hakikat perlawanan rakyat jelata terhadap dominasi alam halus seperti Kyai Sapujagad.

Epistemologi adalah
Pengetahuan diperoleh via pengamatan empiris masyarakat lereng Merapi ( semut merah memang aktif pasca-erupsi ) dan tradisi lisan Kasepuhan seperti wejangan swargi Mbah Maridjan.

Filsafat NJawani membatasi akal rasional pada fenomena semut, tapi imajinasi mistis ungkap makna tersembunyi sebagai isyarat harmoni atau peringatan bencana.

Aksiologi
Nilai utamanya adalah etika nrimo lan nrangsang yang terima takdir Merapi sebagai penderma dan pengambil, tapi rangsang dengan usaha kolektif seperti semut untuk keseimbangan.

Hal ini ajarkan gotong royong melawan sombong asu gede, dengan Gunung Merapi sebagai pengingat eling lan waspada.

Kyai Sapu Jagad, juga dikenal sebagai Eyang Sapu Jagad, adalah sosok mitologis sentral dalam kepercayaan Jawa sebagai penjaga utama Gunung Merapi.

Perannya mencakup mengendalikan kekuatan vulkanik gunung agar tidak merusak wilayah Mataram, menjaga keseimbangan kosmologis antara api Merapi, air Laut Kidul, dan tanah Keraton.

Asal-Usul
Menurut legenda, awalnya Ki Juru Taman, abdi setia Panembahan Senopati (pendiri Mataram Islam).

Saat Senopati bersemedi, Ratu Kidul memberi telur pusaka (Endhog Jagad ) yang diberikan kepada Ki Juru Taman berupa telur itu mengubahnya menjadi Raksasa gaib yang malu dan pindah ke Merapi.

Senopati kemudian mengangkatnya sebagai patih Keraton Gaib Merapi untuk mengabdi selamanya.

Peran Utama
Sebagai penguasa gaib, Raksasa tersebut memimpin pasukan jin seperti Kiai Grinjing dan Kiai Petruk untuk menenangkan Merapi saat gejolak, mengarahkan lahar ke jalur aman, dan menata ulang keseimbangan alam saat erupsi.

Jika letusan tak terhindarkan, ybs menyapu ( sapu jagad ) energi destruktif agar tak mengancam kerajaan.

Tradisi Terkait Masyarakat menghormatinya lewat upacara Labuhan Merapi tahunan, berupa sesaji makanan dan serta pakaian adat dari Keraton Yogyakarta, sebagai balas budi atas perlindungannya.
Juru kunci berkomunikasi dengannya energi materi gelap untuk memahami isyarat gunung.

Panembahan Senopati, atau Danang Sutawijaya, adalah pendiri Kerajaan Mataram Islam ( 1587-1601 ) yang memainkan peran sentral dalam legenda Merapi sebagai penguasa yang menjalin pakta gaib untuk keseimbangan kosmologis Jawa.

Latar Belakang
memenangkan sayembara Sultan Hadiwijaya Pajang dengan membunuh Arya Penangsang, sehingga mendapat alas Mentaok sebagai hadiah yang menjadi cikal bakal Mataram.

Dalam mitos, Sultan Hadiwijoyo bertapa dan bertemu Kanjeng Ratu Kidul di Parangkusumo, menerima endhog jagad ( telur pusaka ) sebagai simbol kekuasaan dan janji bantuan gaib.

Peran dalam Legenda Merapi Senopati memberi endhog jagad kepada Ki Juru Taman ( paman atau abdi setianya ), yang berubah menjadi raksasa Kyai Sapu Jagad setelah memakannya, lalu diutus menjaga puncak Merapi agar erupsi tak merusak Mataram.

Saat perang melawan Pajang, kyai Sapu Jagad memerintahkan Ki Juru Martani bertapa di Merapi, memicu letusan yang menghancurkan pasukan musuh dalam faktanya ada yang dapat digerakkan lempengan aktif dibawah permukaan diantara Gunung dan Pantai selatan tsb.

Warisan Kosmologis
Legenda ini mengikat trinitas suci NJawani dimana Senopati-Keraton ( tanah ), Ratu Kidul-Laut Selatan ( air), dan Sapu Jagad-Merapi ( api ), dasar tradisi Labuhan sesaji hingga kini untuk menjaga harmoni diantara sesama makhluk dan alam semesta.

Dalam konteks kekinian, kedaulatan negara memang bergantung pada penguasaan SDA strategis seperti energi, mineral, dan lahan subur, yang menjadi fondasi ekonomi dan pertahanan.

Namun, tanpa SDM Unggul, Trengginas, Cerdas, Berkapasitas Tinggi,Jujur, dan Berani maka SDA hanya jadi rentan dieksploitasi asing dan kakitangannya dan atau tindakan korupsi kolusi nepotisme diinternal, seperti terlihat pada negara kaya sumber daya alam tapi miskin tata kelola maupun miskin adab/moral dan serta nilai tambah untuk masyarakat menengah bawah.

Melimpahnya Sumber Daya Alam sebagai Pilar
memberi negara leverage geopolitik, misalnya minyak Venezuela atau nikel Indonesia, tapi tanpa pengelolaan cerdas, malah picu resource curse dengan konflik dan serta atas kemiskinan absolute.

Diera transisi energi, Sumber Daya Alam baru terbarukan seperti geothermal Merapi jadi kunci kemandirian.

Sumber Daya Msnusia yang trengginas adalah
SDM unggul yang punya kapasitas berintegritas, inovatif, dan serta berjiwa patriotik guna mengubah Sumber Daya Akam menjadi bernilai tambah via perkembangan teknologi dan serta berkebijakan beradilan, seperti Singapura tanpa SDA besar tapi maju berkat talenta.

Trengginas mirip Kyai Sapu Jagad yang berkepribadian jujur, apa adanya/satunya kata dengan perbuatan, setia, menjaga harmoni, berani lawan ketidakseimbangan.

Hubungan dengan Filsafat Njawani Siantara Merapi-Sapu Jagad-Senopati adalam mensimbolkan keseimbangan dimana gunung ( SDA ), penjaga gaib ( SDM Trengginas ), dan Raja beserta meritokrasi pembantunya ( Negara ).

Kekinian, Indonesia butuh jurukunci modern baik tingkat pusat hingga pedesaan dari oleh untuk menyapu/mencegah eksploitasi baik Sumber Daya Alam maupun Sumber Daya Manusia demi Kedaulatan Rakyat Dierra Demokrasi Bermartabat.

Sauri Tauladan tersebut disabdokan oleh Swargi Ngarso Dalem Sultan Hamengku Buwono IX “Tahta Untuk Rakyat

Adapun Tahta untuk Rakyat adalah ungkapan legendaris yang mewakili filosofi kepemimpinan Sultan Hamengkubuwono IX, Sultan Yogyakarta yang memerintah dari 1939 hingga 1988, menekankan bahwa kekuasaan kerajaan harus dipergunakan sepenuhnya untuk kesejahteraan Rakyat.

Makna Filosofi
Ungkapan ini mencerminkan komitmen Sultan HB IX untuk menyatukan tradisi feodal dengan semangat demokrasi, di mana tahta bukan untuk kemuliaan pribadi melainkan pengabdian kepada Rakyat kecil.

Beliau sering turun langsung ke sawah berbincang dengan petani, menolak kerja paksa romusha saat pendudukan Jepang, dan membuka istana serta sumber daya keraton untuk perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Terbukti ide brilyan dari seorang Raja dan Sultan atas gagasan Serangan Umum 1 Maret 1949 sehingga dapat membelak mata dan serta mempermudah diplomasi di internasiolnalnya bahwa cita suci lebih 80 tahun kala itu guna bermandaniyah masih terjaga.

Warisan Historis
Saat Proklamasi Kemerdekaan 1945, Yogyakarta langsung bergabung dengan RI berkat keputusannya, menjadikan kota itu benteng perjuangan ketika Jakarta jatuh ke Belanda.

Sebagai Wakil Presiden RI pertama dan Gubernur DIY, beliau terus berpihak pada kepentingan Rakyat melalui akses tanah pertanian dan serta penolakan penyalahgunaan kekuasaan.

” JANGAN GAMPANG KAGETAN, JANGAN CEPAT KEHERANAN”

Tetap bersyukur, saling berbagi, saling silang berkumpul bersolusi dan serta trus tetap bergerak bersinergi bekerja giat keras cerdas tuntas terarah terukur bersama-sama hingga tujuan suci kemerdekaan lebih 80 tahun lampau segera terwujud nyata-nyata dari oleh untuk bagi seluruh Rakyat Indonesia rukun damai, berkeadilan, berkemakmuran.
Dan jangan lupa bahagia sesuai cara dan gayanya.

#salamtujiwa
#salamindOnesiabekerja
🏃🏽‍♂️🏃‍♀️💃🕺🏻🤝✊💪🥰
🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *