MonWnews.com, Surabaya – Pendapat Cendekiawan Nahdlatul Ulama (NU) sekaligus Rais Syuriah PCINU Nadirsyah Hosen (Gus Nadir) soal ormas beda tanggal lebaran dengan pemerintah menuai kontroversi. Gus Nadir meminta pihak terkait untuk tidak meminta fasilitas lebaran ke pemerintah.
Banyak pihak yang mengkritik pendapat Gus Nadir tersebut. Salah satunya adalah Pengasuh Pondok Pesantren Queen Al-Azhar Darul Ulum Jombang KH. Zahrul Azhar (Gus Hans).
Gus Hans menilai, adanya perbedaan lebaran hanyalah masalah keyakinan. Sudah seharusnya pemerintah menghormati perbedaan keyakinan itu.
“Ketika orang lain berbeda dengan pemerintah, bukan karena niat makar, bukan karena niat melawan, dan lain-lain, tapi karena keyakinan, maka itu harus kita hormati,” ungkap Gus Hans kepada Monitor Network, Rabu (19/4) malam.
Menghormati perbedaan keyakinan, kata Ketua Ikatan Alumni UPN Veteran Yogyakarta ini, merupakan esensi dari toleransi. Sehingga pemerintah harus hadir dalam menjaga toleransi, terlebih keputusan lebaran.
Selain itu, pemerintah harus tetap memfasilitasi pihak-pihak yang memutuskan berbeda lebarannya. Dia meyakini pihak terkait bukan berniat untuk membantah pemerintah, tapi untuk kepentingan ibadah semata.
“Lah kita ini dengan agama lain saja kita bisa bertoleransi, bahkan saling membantu, kok dengan sesama muslim yang hanya karena faktor perbedaan pendapat seperti ini saja kok kita harus melepas sesuatu yang tidak harusnya kita harus lakukan,” pungkas Gus Hans.
Sebelumnya, dalam akun twitternya @na_dirs, Gus Nadir menyebut keputusan lebaran atau 1 Syawal berdasarkan ilmu Fiqih harusnya ikut keputusan pemerintah. “Dalam fiqih, lebaran itu ikut keputusan pemerintah,” kata Gus Nadir.
Kendati demikian, dalam aturan bermasyarakat, Pemerintah tidak boleh melarang yang lebarannya berbeda. Tapi yang berbeda juga harus bertenggang rasa.
“Pakai fasilitas sendiri aja. Jangan pakai fasilitas publik atau milik pemerintah. Gampang kan toleransi itu,” ujar Gus Nadir.













