Monwnews.com, Serangan udara tanpa henti pada Selasa (11/04/2023) dilakukan oleh Junta Militer Myanmar membom sebuah pertemuan besar di wilayah yang dikuasai pemberontak.
Serangan ini sebagaimana dilansir The New York Times menewaskan sedikitnya 100 orang. Ini merupakan serangan paling mematikan yang dilakukan junta milter sejak merebut kekuasaan dalam kudeta lebih dari dua tahun lalu.
Seorang pejabat bayangan Pemerintah Persatuan Nasional, yang menganggap dirinya sebagai pemerintah sejati Myanmar menyatakan bahwa sedikitnya 30 anak termasuk di antara yang tewas dalam serangan di Wilayah Sagaing,
Seorang prajurit dari unit perlawanan lokal yang membantu menemukan mayat di lokasi menganggap bhwa peristiwa ini adalah kejahatan perang
“Tempat yang mereka serang bukanlah target militer,” kayanya,
Tim penyelamat menggambarkan pemandangan mengerikan di Desa Pazigyi di Wilayah Sagaing Selatan, di mana bagian-bagian tubuh tersebar di wilayah yang luas setelah sebuah jet militer dan helikopter membom dan memberondong pertemuan yang sebagian besar diikuti warga sipil.
Foto-foto dari tim penyelamat dari desa tersebut yang disampaikan pada wartawan yang tersebar di media sosial menunjukkan lebih dari selusin mayat terbakar dan terpotong-potong, sementara video menunjukkan bangunan hancur, sepeda motor yang terbakar, dan puing-puing berserakan di area yang luas.
Pada video dan foto menunjukkan sasaran serangan yang jelas adalah perayaan untuk menandai pembukaan kantor administrasi oleh gerakan perlawanan lokal. Hanya kerangka bangunan yang hangus yang tetap berdiri setelah serangan udara,
Dikatakan, Junta Militer Myanmar, yang telah memerangi kelompok etnis bersenjata untuk menguasai wilayah sejak kemerdekaan pada tahun 1948, memiliki sejarah panjang melakukan serangan brutal terhadap warga sipil.
Sejak kudeta, sebagaimana dilansir CNBC, kekuatan pro-demokrasi telah bersatu dengan beberapa kelompok etnis bersenjata dalam kampanye nasional untuk menggulingkan militer dari kekuasaan, menciptakan gerakan perlawanan paling terpadu yang pernah dihadapi militer.
Pada bulan Oktober 2022, jet militer juga menyerang sebuah konser di Negara Bagian Kachin, menewaskan sedikitnya 80 orang, di antaranya musisi yang sedang tampil di atas panggung saat itu. (nb)













