Hikmah di Balik Pengusiran Dewan Kesenian Surabaya Oleh Walikota

satpol PP kota surabaya atas perintah walikota rampas gamelan dan berbagai karya seni milik para seniman
satpol PP kota surabaya atas perintah walikota rampas gamelan dan berbagai karya seni milik para seniman

PIDATO KEBUDAYAAN Henri Nurcahyo

Hikmah di Balik Pengusiran DKS

Saudara-saudara,

Hari ini, tanggal 1 Juni adalah Hari Lahir Pancasila. Apakah hubungan antara Pancasila dan Kebudayaan? Pancasila dan kebudayaan Indonesia merupakan dua hal yang tidak terpisahkan: kebudayaan menjadi sumber lahirnya Pancasila. Sedangkan Pancasila menjadi landasan untuk menjaga, mengembangkan, dan memajukan kebudayaan Indonesia di tengah perubahan zaman.

Peristiwa yang menimpa Dewan Kesenian Surabaya (DKS) belakangan ini memberi banyak pelajaran bagi kita. Kita menjadi sering bertemu, berdiskusi, berkarya, dan menyelenggarakan berbagai kegiatan bersama. Bahkan di ruang-ruang digital, kita terus bertukar gagasan dan memperdebatkan banyak hal demi kemajuan kebudayaan.

Sungguh ini sebuah kenyataan yang pahit, bahwa DKS yang telah berdiri setengah abad yang lalu, hari ini dibunuh oleh pemeritah kota. DKS yang lahir dari amanat masyarakat seniman, lantas dikalahkan hanya dengan selembar surat keputusan yang tidak punya dasar hukum yang meyakinkan. DKS dianggap tidak pernah ada. Satu pasukan Satpol PP didatangkan, mengangkut gamelan dengan semena-mena. Hendak menyegel ruangan, namun untungnya berhasil digagalkan.

Bagi banyak orang, Balai Pemuda bukan sekadar sebuah gedung. Balai Pemuda adalah kawah Candradimuka yang telah menempa begitu banyak gagasan, karya, dan tokoh kebudayaan. Bukan hanya bagi Surabaya, tetapi juga bagi Indonesia. Balai Pemuda adalah kampus terbuka, tempat berbagai kalangan bertemu: seniman, pemuda, akademisi, komunitas, pedagang, aktivis, dan warga biasa.

Dalam ruang yang terbuka seperti itu, tentu selalu ada kelompok yang lebih dominan daripada yang lain. Itu hal yang wajar. Namun kita tidak boleh membiarkan perbedaan kepentingan berubah menjadi permusuhan.

Kita juga harus jujur melihat kenyataan. Sejarah mengajarkan, selalu ada orang yang gemar menjilat kekuasaan. Selalu ada pengkhianatan. Selalu ada yang menusuk kawan seperjuangan dari belakang. Selalu ada mereka yang memilih berdiri di dua kaki, tombok prapatan, memantau arah angin, lalu berpindah ke pihak yang dianggap paling menguntungkan.

Kenyataan itu tidak boleh membuat kita kehilangan akal sehat. Justru di tengah keadaan seperti inilah kita diuji untuk tetap menjadi manusia yang waras, menjaga integritas, dan berpihak pada kebenaran.

Persatuan memang lebih mudah diucapkan daripada diwujudkan. Sejarah telah berkali-kali mengajarkan bahwa kita sering diadu domba, sering dipecah belah, bahkan dibenturkan dengan kawan sendiri. Politik divide et impera bukan hanya warisan penjajah masa lalu. Dalam berbagai bentuk dan wajah baru, praktik itu masih terus hidup hingga hari ini.

Karena itu, kita harus tetap waspada terhadap siapa pun yang menjadikan perpecahan sebagai jalan meraih keuntungan pribadi. Waspada terhadap mereka yang mengorbankan kepentingan bersama demi kedekatan dengan kekuasaan. Waspada terhadap mereka yang menjual solidaritas untuk kepentingan sesaat.

Namun yang lebih penting dari kewaspadaan adalah keteguhan. Gedung bisa diambil. Ruangan bisa dikosongkan. Gamelan boleh diangkut. Papan nama bisa diturunkan. Tetapi semangat berkesenian, kebebasan berpikir, dan keberanian menyuarakan kebenaran tidak akan pernah bisa digusur.

Selama kita masih menjaga persaudaraan, merawat akal sehat, dan berdiri bersama untuk kebudayaan, maka yang terusir sesungguhnya bukanlah kita. Yang terusir adalah nurani yang memilih meninggalkan keadilan.

Merdeka !!!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *