Umum  

Pemerintah Harus Antisipasi Jemaah Haji Hadapi Cuaca Ekstrem di Arab Saudi

Monwnews.com, Perlindungan kesehatan jemaah haji Indonesia menjadi perhatian serius DPR RI menyusul tingginya suhu udara di Arab Saudi yang dilaporkan dapat mencapai 45 derajat Celsius. Kondisi cuaca ekstrem tersebut dinilai berpotensi meningkatkan risiko dehidrasi, heatstroke, kelelahan berat, hingga memperburuk kondisi jemaah dengan penyakit penyerta.

Anggota Komisi IX DPR RI Netty Prasetiyani menilai pemerintah perlu melakukan langkah antisipatif yang lebih terukur untuk memastikan jemaah, khususnya lanjut usia dan penyandang komorbid, dapat menjalankan ibadah haji dengan aman dan sehat.

“Cuaca ekstrem di Arab Saudi dengan suhu yang bisa menembus 45 derajat Celsius bukan persoalan sepele. Ini menjadi tantangan serius bagi kesehatan jamaah, terutama lansia dan mereka yang memiliki komorbid. Karena itu, mitigasi kesehatan harus dipersiapkan secara jauh lebih ketat dan terukur,” ujar Netty dalam keterangan tertulis, Rabu (13/5/2026).

Legislator PKS itu meminta Kementerian Kesehatan melakukan audit menyeluruh terhadap kesiapan layanan kesehatan, mulai dari ketersediaan obat-obatan, tenaga medis, hingga standar gizi yang akan diberikan kepada jemaah selama berada di Tanah Suci.

Menurut Netty, stok obat-obatan untuk penyakit degeneratif seperti hipertensi, diabetes, dan jantung harus tersedia dalam jumlah memadai serta terdistribusi secara merata di setiap kelompok terbang (kloter).

“Kami meminta Kemenkes memastikan stok obat-obatan untuk penyakit degeneratif tidak hanya tersedia dalam jumlah cukup, tetapi juga terdistribusi merata di tiap kloter. Jangan sampai ada jemaah yang kesulitan mengakses obat rutin mereka saat berada di lapangan,” tegasnya.

Selain itu, Netty menekankan pentingnya edukasi kesehatan kepada jemaah sejak sebelum keberangkatan. Edukasi tersebut mencakup pola hidrasi yang cukup, pengenalan gejala heat exhaustion, penggunaan alat pelindung diri seperti payung dan pendingin tubuh, serta pengaturan aktivitas fisik saat suhu berada pada puncaknya.

“Jemaah harus dibekali pemahaman yang memadai tentang tanda-tanda dehidrasi, pusing, lemas berlebihan, kulit terasa sangat panas, hingga penurunan kesadaran. Deteksi dini gejala ini sangat penting agar penanganan bisa dilakukan cepat,” jelas Politisi asal Dapil Jawa Barat VIII itu.

Netty juga menyoroti komposisi jemaah haji Indonesia yang masih didominasi kelompok lanjut usia. Ia menegaskan semangat Haji Ramah Lansia harus diwujudkan secara konkret melalui pendampingan medis yang lebih intensif dan proaktif.

“Haji 2026 harus tetap mengusung semangat Haji Ramah Lansia. Petugas harus proaktif melakukan jemput bola, bukan sekadar menunggu di posko,” ujarnya.

Tak hanya aspek medis, Netty menaruh perhatian besar terhadap kualitas makanan jemaah. Menurutnya, asupan gizi yang memadai sangat penting untuk menjaga daya tahan tubuh jemaah, terutama di tengah cuaca panas ekstrem.

“Gizi jemaah adalah pondasi utama kesehatan. Dalam kondisi cuaca ekstrem, kebutuhan cairan, elektrolit, dan asupan bergizi menjadi semakin krusial. Perlu pengawasan ketat terhadap standarisasi menu katering agar memenuhi kecukupan kalori, higienitas, dan kebutuhan nutrisi jamaah,” terang Netty.

Ia berharap pemerintah dapat belajar dari evaluasi penyelenggaraan haji pada tahun-tahun sebelumnya sehingga manajemen kesehatan haji 2026 menjadi lebih mitigatif, responsif, dan adaptif terhadap tantangan cuaca ekstrem.

“Ibadah haji adalah ibadah fisik yang membutuhkan ketahanan tubuh prima. Negara harus hadir memastikan seluruh ikhtiar kesehatan dilakukan maksimal agar jemaah dapat beribadah dengan aman, sehat, dan khusyuk,” pungkasnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *