Setiap bangsa besar selalu diuji pada satu titik yang menentukan arah sejarahnya: apakah ia berani berubah, atau memilih kembali pada pola lama yang terbukti tidak menyelesaikan akar persoalan.
Momentum pergantian Kapolri hari ini adalah titik itu.
Dan saya menyampaikan dengan jernih, tanpa emosi, tanpa kepentingan pribadi, dan tanpa ruang bagi kekeliruan logika: Polri tidak boleh kembali dipimpin oleh paradigma yang menempatkan penindakan sebagai pusat utama pendekatan keamanan.
Fakta yang Tidak Terbantahkan
Mari kita mulai dari fakta, bukan opini.
Selama puluhan tahun, pendekatan dominan dalam tubuh Polri—terutama dari jalur reserse—adalah:
– Mengungkap kasus
– Menangkap pelaku
– Memutus jaringan kejahatan
Pendekatan ini telah menghasilkan ribuan penangkapan, ratusan pengungkapan jaringan, dan berbagai operasi besar yang tidak bisa dipungkiri keberhasilannya.
Namun, ada satu fakta yang tidak bisa disangkal:
> Kejahatan tidak pernah berhenti beregenerasi.
Narkotika tetap tumbuh.
Kejahatan jalanan tetap muncul.
Konflik sosial tetap berulang.
Jika sebuah pendekatan terus menghasilkan masalah yang sama dalam bentuk yang berbeda, maka secara logika sederhana:
> Pendekatan tersebut tidak menyentuh akar persoalan.
Ini bukan kritik. Ini kesimpulan rasional.
Keterbatasan Struktural Paradigma Penindakan
Paradigma penindakan memiliki batas inheren yang tidak bisa dihilangkan oleh siapapun, sekuat apapun figur yang memimpinnya.
1. Ia bersifat reaktif, bukan preventif
Penindakan selalu datang setelah pelanggaran terjadi. Ia tidak mencegah, hanya merespons.
2. Ia tidak membangun legitimasi sosial
Ketertiban yang lahir dari ketakutan berbeda secara fundamental dengan ketertiban yang lahir dari kepercayaan.
3. Ia menciptakan jarak struktural antara aparat dan masyarakat
Dalam jangka panjang, jarak ini melahirkan resistensi, bukan partisipasi.
Ketiga hal ini bukan asumsi. Ini adalah konsekuensi logis dari cara kerja penindakan itu sendiri.
Krisis yang Sebenarnya: Bukan Keamanan, Tapi Kepercayaan
Polri hari ini bukan sedang kekurangan kemampuan.
Polri tidak lemah dalam operasi.
Polri tidak kekurangan kewenangan.
Yang sedang krisis adalah satu hal yang tidak bisa dipaksakan dengan kekuatan:
> Kepercayaan publik.
Dan kepercayaan publik tidak bisa dibangun dengan lebih banyak penangkapan.
Kepercayaan publik tidak lahir dari operasi besar.
Kepercayaan publik tidak tumbuh dari rasa takut.
Kepercayaan hanya lahir dari satu hal:
> Kehadiran yang dirasakan adil, dekat, dan manusiawi.
Konsekuensi Logis Jika Paradigma Tidak Diubah
Jika Polri kembali dipimpin oleh figur yang menjadikan penindakan sebagai pusat gravitasi, maka konsekuensinya bukan asumsi, melainkan keniscayaan:
– Polri akan tetap kuat secara operasional
– Namun tetap rapuh secara legitimasi
– Krisis kepercayaan akan berulang, bukan hilang
Dan setiap krisis yang berulang akan semakin dalam, karena publik tidak lagi melihatnya sebagai insiden, tetapi sebagai pola.
Community Policing: Bukan Alternatif, Tapi Kebutuhan
Di seluruh dunia, institusi kepolisian modern telah bergerak menuju satu kesimpulan:
> Keamanan tidak bisa diproduksi oleh polisi sendiri.
Ia harus dibangun bersama masyarakat.
Inilah yang disebut Community Policing.
Bukan sekadar program.
Bukan kegiatan tambahan.
Tetapi perubahan paradigma:
– Dari pengendalian → kemitraan
– Dari reaksi → pencegahan
– Dari kekuasaan → kepercayaan
Penegasan Sikap
Dengan mempertimbangkan seluruh rekam jejak paradigma penindakan yang telah berjalan, serta kebutuhan objektif Polri hari ini, maka posisi saya jelas dan tidak ambigu:
> Polri tidak boleh dipimpin oleh figur yang menjadikan penindakan sebagai pendekatan utama dalam membangun keamanan.
Ini bukan penolakan terhadap individu.
Ini adalah penolakan terhadap paradigma yang secara logis tidak mampu menyelesaikan akar persoalan.
Penutup: Pilihan yang Menentukan Arah Bangsa
Bangsa ini tidak sedang memilih siapa yang paling tegas.
Bangsa ini sedang memilih arah:
– Apakah Polri akan terus kuat tapi tidak dipercaya?
– atau menjadi institusi yang dipercaya karena kuat bersama masyarakat?
Sejarah tidak mencatat siapa yang paling banyak menangkap pelaku kejahatan.
Sejarah mencatat siapa yang mampu mengubah arah sebuah institusi.
Dan arah itu hari ini sedang kita tentukan.
Dodi Ilham
Ketua Umum New Emerging Forces Activist 98 (NEFA’98)
Email: dodi.il.ham98@gmail.com
📞 0816.1717.9779
Jakarta, 18 Maret 2026












