Di Gedung yang Pernah Menolak Manusia

Monwnews.com, Di pintu masuk utama taman Gedung Pemuda Surabaya, menurut keterangan pemandu setempat, pada masa kolonial Belanda pernah terpasang sebuah larangan singkat namun telanjang maknanya:
“Honden en inlanders verboden.” Anjing dan pribumi dilarang masuk.

https://www.instagram.com/ditakencana/
https://www.instagram.com/ditakencana/

Kalimat itu bukan sekadar papan peringatan. Ia adalah cara kolonialisme berbicara apa adanya. Tanpa retorika kemanusiaan, tanpa rasa bersalah. Pribumi tidak hanya dilarang, tetapi disetarakan secara simbolik dengan hewan. Sebuah pernyataan yang menjelaskan seluruh bangunan kolonial lebih jujur daripada seribu pidato peradaban.

Gedung yang dahulu bernama Societeit Concordia itu dibangun sebagai ruang pergaulan orang Eropa. Musik dansa, jamuan makan, pesta, dan percakapan kelas atas berlangsung di dalamnya. Ia adalah etalase “keberadaban Barat” di tanah jajahan. Namun keberadaban itu berdiri di atas satu syarat mutlak: pemisahan manusia.

Pribumi hanya boleh hadir sebagai pelayan. Tubuh mereka dibutuhkan, tetapi kehadiran mereka tidak pernah diakui setara. Mereka masuk bukan melalui pintu depan, melainkan pintu samping atau belakang. Pintu utama disediakan bagi mereka yang layak dilihat, sementara yang lain harus disembunyikan.

Tubuh yang Dianggap Masalah

Dalam etiket kolonial, tubuh pribumi dipandang sebagai sesuatu yang tidak bersih bukan dalam pengertian agama, melainkan rasial. Karena itu, jarak selalu dijaga. Pelayan tidak boleh menyentuh tamu Eropa. Makanan dan minuman sering dihidangkan dengan posisi tubuh menunduk, dijauhkan dari badan, kadang diangkat tinggi, seolah-olah kedekatan fisik dapat mencemari.

Pelayan harus menunggu isyarat tanpa suara. Tatapan mata dihindari. Menatap orang Eropa dianggap kurang ajar. Tubuh boleh hadir, tetapi kehadiran sosial harus dihapuskan.

Di sini kolonialisme bekerja paling efektif: bukan dengan cambuk, tetapi dengan kebiasaan. Dengan aturan tak tertulis yang membuat penghinaan terasa normal.

Bahasa, Musik, dan Siapa yang Boleh Menikmati

Bahasa Belanda menjadi penanda kelas di dalam Concordia. Pribumi yang tidak fasih sering dijadikan bahan ejekan ringan lelucon yang terdengar sopan, tetapi menyimpan keyakinan bahwa mereka memang lebih rendah. Kesalahan pengucapan dianggap bukti ketidaklayakan.

Musik dan hiburan menjadi ironi lain. Concordia dikenal sebagai pusat hiburan Eropa. Orkes kecil, musik dansa, dan pertunjukan sosial kerap digelar. Tidak jarang, yang memainkan alat musik atau mengatur acara adalah pribumi. Namun mereka memainkan, bukan menikmati. Mereka bekerja saat orang lain bersenang-senang.

Kebudayaan dijalankan oleh tangan pribumi, tetapi hanya boleh dinikmati oleh Eropa. Pakaian dan Batas yang Tak Pernah Tepat

Bahkan pakaian menjadi jebakan. Pribumi yang berpakaian sederhana dianggap pantas karena “tahu diri”. Tetapi ketika berpakaian ala Eropa, mereka dipandang lancang, sok, dan melampaui batas.

Apa pun pilihannya, pribumi selalu salah. Terlalu rapi dianggap mengancam hierarki. Terlalu sederhana dianggap memang pantas berada di bawah. Kolonialisme memastikan bahwa pribumi tidak pernah berada di posisi yang benar.

Penghinaan sebagai Sistem

Apa yang terjadi di Societeit Concordia bukan pengecualian. Ia adalah miniatur Hindia Belanda. Masyarakat dibagi secara hukum dan sosial: Eropa di puncak, Timur Asing di tengah, dan inlander di dasar.

Di trem kota, tempat duduk dipisahkan. Di hotel dan klub Eropa, pribumi dilarang masuk lewat pintu depan. Dalam hukum, kesaksian seorang Eropa lebih bernilai daripada nyawa pribumi. Bahkan ketika seorang bumiputra meraih pendidikan tinggi atau jabatan penting, batas itu tetap ada. Ia boleh pandai, tetapi tidak setara. Ia boleh berguna, tetapi tidak sepenuhnya manusia.

Kolonialisme tidak hanya mencuri tanah dan tenaga. Ia menghancurkan harga diri secara sistematis. Ia mengajari yang tertindas untuk menerima posisi rendahnya sebagai sesuatu yang wajar.

Dari Penghinaan ke Kesadaran

Kesadaran kebangsaan Indonesia lahir dari akumulasi pengalaman semacam ini. Dari pintu yang tertutup. Dari kursi yang dilarang diduduki. Dari bahasa yang merendahkan.

Di gedung-gedung seperti Concordia, generasi muda pribumi belajar satu pelajaran pahit: mereka tidak akan pernah benar-benar diterima dalam sistem kolonial. Maka jalan keluar bukan beradaptasi, melainkan menggugat seluruh tatanan.

Ironis sekaligus simbolis, gedung yang dahulu menolak pribumi sebagai manusia justru berubah menjadi Gedung Pemuda. Ruang eksklusif itu berbalik makna. Tempat penghinaan menjadi tempat konsolidasi. Dari ruang yang pernah menutup pintu, lahir tekad untuk membuka masa depan sendiri.

Papan “Honden en inlanders verboden” memang telah lama hilang. Namun pertanyaannya: apakah logikanya benar-benar pergi?

Hari ini, penghinaan tidak lagi ditulis di papan, tetapi sering hidup dalam cara kita memandang sesama. Dalam mudahnya kita mengagungkan apa pun yang berlabel asing, sambil meremehkan karya sendiri. Dalam cara kekuasaan memperlakukan rakyat kecil sebagai angka, bukan manusia. Dalam kecenderungan menunduk ke atas dan menekan ke bawah.

Kolonialisme mungkin telah pergi sebagai sistem politik, tetapi ia sering bertahan sebagai mentalitas.

Mengingat kisah Societeit Concordia bukanlah soal menghidupkan dendam, melainkan menjaga kewaspadaan. Agar kita tidak mengulangi penghinaan itu baik kepada diri sendiri maupun kepada sesama.

Sebab bangsa yang lupa bagaimana ia pernah ditolak sebagai manusia, mudah tergelincir menjadi bangsa yang kembali menolak manusia lain.

Oleh: Dt.Tan Malaka VII, 28/12/25

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *