Supernova dan Demokrasi

Oleh: Djoko Sukmono

Terdapat sebuah ungkapan eksistensial tentang para Supernova yang berbunyi: “Hidup sebagai legenda yang tidak pernah dimengerti oleh zamannya.” Hidup sebagai manusia konkret yang tidak pernah dimengerti oleh zamannya, sebagai manusia sosial konkret yang tidak pernah dimengerti oleh zamannya. Hidup dengan cara ini mengakibatkan terjadinya berbagai tragedi kemanusiaan yang tragis, seperti dalam tragedi filosofis pemancungan SOCRATES sebagai tumbal FILSAFAT dan penyaliban YESUS sebagai tumbal penebusan dosa. Keduanya merupakan simbol tragedi kemanusiaan yang mendalam yang termanifestasi dalam budaya pemikiran dan budaya religius.

Dalam perjalanan sejarah, manusia yang hidup di muka bumi telah melahirkan sederet nama besar (Supernova) yang mampu mengguncang kehidupan sosial manusia. Supernova yang hidup pada zaman tertentu seharusnya diperuntukkan bagi zamannya sendiri, namun ketika mereka menjalani hidup di kehidupan sosialnya, terutama dalam situasi psiko-sosial yang tidak bisa dimengerti oleh zamannya saat itu.

Pada tahun-tahun berikutnya, dalam dekade-dekade berikutnya, bahkan dalam abad-abad berikutnya, keberadaan para Supernova ini ada yang semakin tumbuh dan berkembang menjadi substansi yang paradoksal dan kontroversial, menjadikannya tetap hidup dalam jiwa anak-anak manusia yang mengaguminya. Secara eksistensial, Supernova-Supernova ini telah menjadi esensi yang mampu membawa pola pikir manusia kembali ke masa lalu, ketika para Supernova hidup, bahkan beberapa Supernova telah menjadi tempat menambatkan segala dambaan dan harapan akan masa depan, meskipun kemampuan manusia untuk mengerti dan memahami keberadaan Supernova tersebut terbatas.

Pertanyaan mendasar yang muncul adalah: Mengapa para Supernova ini ada? Mengapa mereka menjadi seperti itu? Mengapa para Supernova dalam transhistorisnya menimbulkan pergolakan dunia? Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, diperlukan perenungan yang mendalam dan radikal. Berikut adalah ilustrasinya:

Ilustrasi historis tragedi filosofis

Ketika filsafat mohon pamit kepada teologi sebagai induknya, para teolog terkejut, karena selama ribuan tahun filsafat diasuh oleh teologi. Mendadak, petir menyambar di siang hari, mendung menutup bumi. Sebuah kejadian fenomenal terjadi ketika Plato membela Socrates. Tak peduli bahwa Plato adalah seorang bangsawan, tak peduli bahwa Socrates adalah “anjing”. Semua diam, tanpa kata, tanpa bahasa, dan sekejap terlihat potret Plato berjabat tangan dengan Socrates. Sebuah peristiwa tragis, manakala Socrates harus dipancung karena mengajarkan filsafat kepada khalayak. Senja kehidupan telah menghantam martir kebijaksanaan.

Ilustrasi historis tragedi spiritual

Sekali dalam sejarah, sekali dalam waktu, Tuhan konkret dalam ruang sebagai manusia dalam diri Yesus penuh anugerah, kebenaran, dan kasih karunia. Ini adalah ungkapan eksistensial filosofis dari seorang filsuf eksistensialis, Kierkegaard, yang mengklaim bahwa dalam kehidupan sosial, manusia hanya mendapatkan estetika dan etika. Kedua dimensi ini adalah proses awal dalam pencapaian berikutnya, yaitu sebuah lompatan eksistensial menuju yang religius (sebuah totalitas tanpa syarat dalam menerima Yesus sebagai Tuhan, yang daripadanya seseorang menjadi kekal dalam ruang dan waktu).

Itulah gambaran ilustrasi dari tragedi filosofis dan tragedi spiritual yang hingga saat ini, pada tahun 2024, jejak historisnya masih mampu memberikan pengaruh psikologis yang laten kepada sebagian besar manusia yang tinggal di muka bumi ini. Kedua Supernova ini telah merintis jalan sejarah masing-masing, yang kemudian hari menjadi jalan sejarah yang diikuti oleh para pengagumnya.

Sementara itu, kekuasaan dengan singgasananya terus bergerak menjalankan tugas dan fungsinya sebagai kekuatan sosial formal, tanpa peduli dengan segala romantika transfilosofis maupun transreligiusitas. Bagi kekuasaan, apa pun dan siapa pun yang nyata-nyata merongrong kekuasaan, akan dihadapi dengan tindakan tegas, meskipun harus dengan tangan besi. Inilah kekuasaan yang memiliki semboyan: “Gold, Gospel, War, Glory, and Victory.”

Ilustrasi historis tentang tragedi politik

Pada suatu waktu, terjadi sebuah kejadian fundamental, yaitu tentang adanya lembaga baru yang dibatasi oleh tembok-tembok raksasa, gedung-gedung putih, rumput hijau, dan kebun binatang yang berwujud manusia. Sementara itu, sesosok kampus biru berubah menjadi kelabu. Semangat merah, api revolusi, api kemarahan dibakar habis oleh bom atom. Kampus itu menjadi saksi bisu, diam tanpa suara, bahkan tanpa bahasa. Mendadak, Hitler dan Stalin berkata, “Ayo kita kuasai dunia!” Stalin berkata demikian, dan Hitler membentak, “Pergilah ke Timur, hai Komunis, dan aku akan pergi ke Barat.” Secepat kilat, momen historis terjadi. Gemuruh sejuta marinir mendarat di Normandia, konspirasi Hitler dan Stalin gagal. Hiroshima dan Nagasaki dibakar bom atom. “Benar-benar hebat, si keparat Amerika…” Tetapi, di sebelah tenggara bumi ini, ada yang meledakkan revolusi sosial dengan kulminasi proklamasi kemerdekaan Indonesia.

Oleh karena itu, seluruh anak bangsa Indonesia, jangan terjebak pada dukung-mendukung. Demokrasi di negara Indonesia ini adalah demokrasi yang manipulatif, demokrasi yang tidak terhubung dengan Pancasila, demokrasi yang tidak terhubung dengan kepentingan rakyat, demokrasi yang tidak terhubung dengan kesejahteraan rakyat, demokrasi yang tidak terhubung dengan kebahagiaan masyarakat. Demokrasi yang dijalankan di negara Indonesia ini adalah dalam rangka kehancuran negara. Demokrasi di Indonesia ini hanyalah payung hukum bagi eksploitasi manusia terhadap manusia dan eksplorasi sumber daya alam sebesar-besarnya bagi kepentingan komplotan begundal politik dan boneka imperialis kapitalis belaka. Jika komponen bangsa Indonesia dan elemen masyarakat menghendaki perubahan, jangan tanggung-tanggung, lakukan perubahan sosial yang radikal dan total di seluruh aspek kehidupan berbangsa dan bernegara. Sekali lagi, letakkan Pancasila sebagai landasan ideal dan UUD 1945 sebagai landasan struktural bagi negara Indonesia. Selain itu, tidak ada pilihan lain.

Namun, sejarah demokrasi yang berlangsung di Indonesia ini benar-benar tidak sejalan dengan prinsip-prinsip demokrasi yang sesungguhnya. Jika negara Indonesia ini memilih menjadi negara demokrasi, maka pilihan itu harus diawali dengan pembentukan kepribadian bangsa yang demokratis terlebih dahulu. Artinya, penggemblengan anak-anak bangsa agar menjadi manusia konkret yang berperilaku demokratis. Apa itu? Dia adalah rakyat. Rakyat ini harus konkret dalam ruang dan waktu serta dalam sejarah perjalanan bangsa. Tidak boleh tidak, karena dalam negara demokrasi, rakyat adalah pemilik kekuasaan tertinggi. Sudahkah setiap anak bangsa Indonesia ini menjadi rakyat? BELUM.

Dan perlu diingat bahwa fungsi pokok sebuah negara demokrasi adalah perlindungan, yaitu melindungi agama dan kepercayaan yang ada, sehingga setiap anak bangsa yang beragama dan berkepercayaan apa pun mendapatkan perlindungan dari negara, melindungi budaya yang ada dan bertumbuh serta berkembang di masyarakat bangsa tanpa kecuali, melindungi dan menjamin setiap anak bangsa untuk menyampaikan pendapat sepanjang tidak bertentangan dengan Pancasila, menjamin terdistribusinya kesejahteraan dan keadilan dalam rangka kebahagiaan masyarakat. Memberikan penjelasan yang gamblang tentang kebhinekaan bahwa Bhinneka Tunggal Ika, Tan Hana Dharma Mangrwa, adalah kebanggaan sebagai sebuah bangsa yang besar. Memberikan peluang seluas-luasnya kepada setiap anak bangsa untuk beraktivitas sosial-ekonomi dengan menerbitkan regulasi yang mudah, cepat, dan tepat dalam menumbuhkan pertumbuhan ekonomi yang ramah lingkungan. Memberikan stimulus yang besar bagi anak bangsa untuk merangkai tindakan-tindakan produktif yang penuh inisiatif. Tentunya masih banyak lagi, karena hal-hal yang bersifat demokratis itu pro-kemajuan, pro-pembaruan, serta pro-perubahan.

Akan tetapi, dalam kehidupan sosial manusia, anak-anak bangsa belum sepenuhnya menjadi manusia yang tangguh, yang menjadi harapan dari sebuah negara demokrasi. Hal ini disebabkan oleh adanya kompetisi dari berbagai rezim yang ada di Indonesia, yaitu masih adanya negara dalam negara. Inilah yang membuat terlambatnya anak-anak bangsa memiliki identitas konkret, yaitu identitas politik, ideologis, maupun sosial. Sehingga dalam rangka pembentukan identitas tersebut, masih dibutuhkan figur-figur pelindung maupun figur-figur yang dianggap agung. Siapakah mereka? Mereka adalah para Supernova yang hidup di masa lampau.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *