MonWnews.com, Jakarta – Setiap tanggal 1 Oktober bangsa Indonesia memperingati Kesaktian Pancasila. Kesaktian Pancasila berkaitan dengan sejarah peristiwa pemberontakan Gerakan 30 September (G30S) PKI yang terjadi pada tahun 1965.
Peristiwa tersebut menjadi salah satu sejarah kelam bagi bangsa Indonesia. Pada peristiwa tersebut 6 jenderal dan 1 perwira militer terbunuh dan dimasukkan ke sumur Lubang Buaya.
Tujuh tokoh yang tewas tersebut yakni Jenderal Ahmad Yani, Letjen M.T Haryono, Letjen S. Parman, Letjen R.Soeprapto, Mayjen Sutoyo Siswomiharjo, Mayjen D.I. Pandjaitan dan Kapten Pierre Tendean.
Yang akhirnya ketujuh tokoh tersebut diberi Gelar Pahlawan revolusi berdasarkan Keputusan Presiden pada tahun 1965. Sejak ditetapkannya Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2009 tentang Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan, gelar Pahlawan Revolusi juga diakui sebagai Pahlawan Nasional.
Lalu apa hikmah dibalik sejarah kelam tersebut bagi bangsa dan negara Indonesia?
Menurut Agung Nugroho, S.H., M.H. salah satu anggota Dewan Pengawas BPJS Ketenagakerjaan mengatakan bahwa setiap persaingan kekuasaan dalam suatu negara berpotensi menimbulkan persaingan yang tidak sehat, apalagi disaat-saat tahun pelitik seperti sekarang ini dimana Indonesia akan menghadapi Pemilu di 2024 nanti.
“Persatuan dan kesatuan perlu dikedepankan dalam menghadapi Pemilu 2024, karena dengan persatuan persaingan diantara partai menjadi sehat dan saling menghargai satu dengan yang lainnya,” ucapnya.
Setiap peserta Pemilu baik itu partai, rakyat bahkan calon Presiden, penting menjaga stabilitas demokrasI dengan tidak mengeluarkan ucapan yang mengandung perpecahan baik secara lisan maupun tulisan. “Agar Pemilu nanti benar-benar menjadi pesta demokrasi yang menyenangkan dan menyejukkan,” ujar alumni GMNI Unej ini.
Lebih lanjut Agung menegaskan bahwa pemahaman komunis sangat bertentangan dengan ideologi Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia.
Setiap warga negara Indonesia harus meyakini bahwa Pancasila adalah rahmat yang diridhoi oleh ALLAH SWT sebagai dasar negara dalam berbangsa dan bernegara. Sehingga setiap warga negara dalam perilakunya berusaha untuk tidak merusak atau mengurangi nilai-nilai Pancasila.
Dalam Pemilu nanti, menurut Agung, masyarakat harus bisa memahami pentingnya memilih kepemimpinan yang kuat dan efektif dalam menjaga stabilitas dan keberlanjutan dalam membangun negara, sebagaimana kepemimpinan saat ini yang sudah bagus.
Diakhir kata Agung Nugroho sekali lagi menegaskan, bahwa Pancasila adalah Pemersatu Bangsa dan mengingatkan kepada setiap warga negara bahwa Pancasila adalah sebagai fondasi kehidupan bangsa yang tidak dapat digantikan dengan ideologi apapun.
“Menuju Indonesia Maju, mari kita jaga dan jalankan nilai-nilai yang berlandaskan pada Pancasila,” pungkasnya. (an)












