MonWnews.com, Malang – Balaikota sebagai pusat pemerintahan tak boleh ada jarak pemisah. Hal tersebut diucapkan langsung pada awak monwnews.com oleh Sutiaji, selaku Walikota Malang pada Minggu sore (06/08/2023).
Jelas dan tegas dikatakan oleh orang nomer satu di pemerintahan kota malang itu, bahwa terkait pembongkaran penghilangan pagar di depan halaman Balaikota bertujuan semata-mata adalah agar tidak ada kesan berjarak antara rakyat dan pusat pemerintahan.
“Bahwa Tugu dan Balaikota sejatinya harus ‘SIMETRIS TUGU TEGAK LURUS, BALAIKOTA SEBAGAI PUSAT PEMERINTAHAN DALAM NILAI-NILAI SOSIAL’, sehingga tdk boleh ada pembatasan (pagar). Itu filosofi nya,” tutur Sutiaji.
“HABLUMINALLOH (Tegak lurus nya Tugu) DAN HABLUMINNANAS, (gedung pemerintahan Balaikota). Hal itu sesuai koding alam dengan kejadian 2 kali ada mobil menabrak pagar tugu, itu diluar akal manusia, yang harus dicermati,” tegas Walikota Malang itu.
“Jangkauan pandangan antara Tugu dan Balaikota jika ditarik dari garis lurus. Sesungguhnya itu cermin untuk menuju kesejahteraan warga masyarakat yang tanpa sekat. Dan spiritnya adalah siapapun nanti yang duduk menjadi Pemimpin di Balaikota, agar dengan cakrawala ruang berpikirnya cepat menterjemahkan kebijakan semua program yang dijalankan oleh semua OPD dengan tepat waktu,” tutur Sutiaji.
Kebetulan, awak monwnews.com pas akan mengambil foto persis di seberang Balaikota, sang Walikota didampingi asistennya tengah berjalan mengitari bundaran tugu. Akhirnya bersama Sutiaji, penulis mengikuti arah langkah kaki sang Walikota ke dalam bundaran tugu yang masih dalam pengerjaan renovasi.
Tidak ada rekan pers lainnya, Kami berdua berbincang dengan Sutiaji di dalam bundaran tugu. Sehingga penulis mendapat bahan dan masukan, terkait renovasi pembongkaran pagar tugu dan pagar balaikota.
Salah seorang tokoh nasional spiritual enggeneering saat dihubungi lewat selulernya, Senin (07/08/2023)Terkait renovasi bundaran tugu dan balaikota mengatakan, jika dalam nilai-nilai kecerdasan spiritualnya yang disampaikan lewat simbul simbul disamping lisan yah memang seperti itu.
“Dari sisi spiritualnya, memang antara Tugu dan Balaikota tidak harus berpagar, artinya tidak boleh ada jarak antara pemimpin dan yang dan dipimpin di alam keterbukaan informasi serta perencanaan maupun penggunaan politik anggaran dan lain-lain.
Karena itu merupakan dari bagian filosofinya Malangkucecwara. Manakala ada pemimpin yang dolim dan semena mena pada warga masyarakatnya, maka akan mengenai diri pribadinya,” tutur tokoh spiritual dari balik sellulernya.
“Tegak lurus satunya kata dan perbuatan. Itu yang senantiasa saya sampaikan berulang-ulang, terus menerus baik dalam ruang diskusi publik maupun dalam tulisan pencerahan di medsos WhatsApp grup dan lain-lain. Dan untuk diluar kecerdasan emosi, literasi dan serta kecerdasan spritual saya no komen dimas,” tegasnya. (galih)













