SUNGSANG BAWONO WALIK/PUTAR ARAH GUNA MEWUJUDKAN CITA LUHUR PERINTIS PENDIRI PENEGAK KEBANGSAAN INDONESIA

Oleh: Gaguk Inaker

Monwnews.com, Gerakan “Sungsang Bawono Walik” adalah falsafah Jawa kuno yang menggambarkan keadaan alam semesta yang terbalik atau tidak wajar, yang secara esensial mengajarkan tentang keseimbangan hidup berlandaskan prinsip Ketuhanan Yang Maha Esa, serta Tuhan tiada merubah nasib suatu kaum kecuali kerja keras cerdas suatu kaum/bangsa/sekumpulan besar itu sendiri dan segera bersama-sama berdamai bangkit tingkat kesadaran mendalam tentang akan rahasia kehidupan, dan kesadaran kecerdasan spiritual akan arah esensi hidup berbangsa dan bernegara.

Konsep ini berhubungan erat dengan hukum kekekalan energi dan massa dalam sains, yang menyatakan bahwa energi dan massa tidak hilang, melainkan bertransformasi.

Dalam konteks 80 tahun Indonesia merdeka, gerakan ini mengandung pesan moral bahwa energi perjuangan bangsa yang tercermin dalam kejujuran dan keberanian harus dipertahankan sebagai bangsa pejuang dan diolah agar terus menerus penuh keajegan bergerak bersinergi bekerja giat keras cerdas tuntas terarah terukur bersama seluruh komponen bangsa menuju tujuan kemerdekaan yang sejati berkeadilan dan berkemakmuran bagi seluruh Rakyat.

Kesadaran kolektif ini merupakan energi moral yang bernilai kekal, membentuk pondasi kokoh dalam pembangunan bangsa.

Indonesia, yang terletak di pertemuan cincin api bumi, digaris katulistiwa, dalam hamparan beribu pantai dan beribu pulau dihiasi beribu gunung berapi terlimpahkan kaya sumber daya alam, harus dan sangat bisa mau mampu punya niat dan waktu guna mengelola kekayaannya secara berkelanjutan dan berkeadilan.

Guna mengoptimalkan sumber daya alam dengan prinsip keberlanjutan dan ramah lingkungan untuk menjaga warisan bagi generasi mendatang.

Mendorong pemerataan ekonomi melalui pemerintahan yang transparan, bebas korupsi, dan pro-Rakyat kecil.

Mengembangkan sumber daya manusia dengan pendidikan, pelatihan keahlian, dan penguatan nilai kejujuran serta keberanian agar mampu mengelola dan mengawasi pemanfaatan sumber daya secara adil.

Menanamkan nilai-nilai kemanusiaan dalam Pancasila, termasuk keadilan sosial dan persatuan, agar pembangunan bersifat inklusif dan merata di seluruh wilayah.

Mendorong pembangunan infrastruktur dan teknologi yang dapat meningkatkan produktivitas daerah-daerah yang kaya akan sumber daya alam namun masih tertinggal kesejahteraan warganya.

Dengan memadukan filosofi Sungsang Bawono Walik yang menuntut kesadaran tinggi dan energi moral kuat serta pemahaman ilmu pengetahuan ilmiah tentang kekekalan energi dan massa, Indonesia dapat melangkah menuju terciptanya keadilan dan kemakmuran yang merata sesuai cita luhur para pendiri bangsa yang sudah berjalan 80 tahun dikemerdekaannya .

Adapun konsep “Sungsang Bawono Walik” dalam penerapan pembangunan nasional dapat dipahami sebagai filosofi untuk membangun keseimbangan dan harmoni dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Dari hasil pencarian, disebutkan bahwa filosofi ini secara simbolik menggambarkan keadaan yang terbalik dan harus diluruskan demi mencapai harmoni yang seimbang.

Dalam konteks pembangunan nasional, filosofi ini mendorong perlunya membalikkan kondisi yang tidak seimbang, seperti ketidakadilan, ketimpangan sosial, dan eksploitasi sumber daya alam yang berlebihan.

Dengan menerapkan konsep ini, maka diperlukan reformasi yang berorientasi pada keadilan sosial, pemerataan pembangunan, serta pengelolaan sumber daya yang berkelanjutan.

Pembangunan harus dilakukan secara seimbang antara ekonomi, sosial, dan lingkungan, agar bangsa mampu menegakkan keadilan sekaligus menjaga keberlanjutan.

Lebih jauh lagi, konsep ini menekan pentingnya nilai keberanian, kejujuran, dan kesatria dalam setiap langkah pembangunan.

Artinya, seluruh pemangku kepentingan harus berani melawan pola-pola yang tidak adil dan berani melakukan perubahan ke arah yang lebih baik, sesuai dengan nilai-nilai luhur bangsa dan berserta kemurnian cita-cita kemerdekaan.

Dengan demikian, penerapan konsep “Sungsang Bawono Walik” dalam pembangunan nasional akan memperkuat fondasi moral, sosial, dan lingkungan yang kokoh agar tercipta keadilan dan kemakmuran bagi seluruh Rakyat Indonesia.

“Sungsang Bawono Walik” dapat memengaruhi perencanaan pembangunan daerah dengan cara memperkenalkan filosofi tentang pentingnya membalik kondisi yang tidak seimbang agar mencapai harmoni dan keseimbangan.

Dalam praktiknya, konsep ini mendorong perencana daerah untuk mengidentifikasi aspek-aspek yang “terbalik” seperti ketimpangan sosial, ekonomi, dan distribusi sumber daya, lalu merancang langkah-langkah strategis yang mengubah kondisi tersebut menjadi lebih adil dan seimbang.

Secara praktis, penerapan konsep ini dalam perencanaan pembangunan daerah meliputi sbb :
Mengutamakan pembangunan yang berorientasi pada keadilan sosial dan pemerataan hasil.

Membalikkan pola eksploitasi sumber daya yang tidak berkelanjutan.

Mengubah kebijakan yang diskriminatif menjadi inklusif.

Menetapkan indikator keberhasilan yang menilai keadilan, keberlanjutan, dan harmoni sosial.

Implementasinya menuntut para perencana untuk tidak hanya fokus pada pencapaian angka ekonomi atau pembangunan fisik, tetapi juga memperhatikan aspek moral, sosial, dan lingkungan.

Dengan filosofi ini, pembangunan daerah tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga pada terciptanya bermasyarakat rukun dimana bagiku agamaku bagimu agamamu saling meningkatkan kesetikawanan sosial yang adil proporsional, transparan, akuntabel dan serta segera tercipta makmur sejahtera serta lingkungan yang damai lestari.

“JANGALAH ADIGANG ADIGUNG ADIGUNA SERTA HINDARI GAMPANG KAGETAN DAN CEPAT KEHERANAN”

#salamsatujiwa
#salamsatunyakatadgnperbuatan
#salamindOnesiabekerja
‍♂️‍♀️‍♂️‍♂️✊

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *