Umum  

Kohesi Sosial Ibn Khaldun Diantara Gotong Royong

Oleh: Gagoek INAKER

Monwnews.com, Gotong Royong adalah bentuk paling konkret dari asabiyyah yang sehat dalam konteks Indonesia sehingga solidaritas yang memampukan orang bekerja bersama-sama, saling menggotong meroyong tolong menolong, dan serta memenuhi kebutuhan kolektif.

Dalam kerangka Ibn Khaldun, hal itu selaras dengan gagasannya bahwa manusia lemah bila sendiri, tetapi kuat ketika melebur dalam kerja bersama-sama dalam sosial-ekonomis.

Adanya titik temu utama pada kohesi sosial Ibn Khaldun dengan gotong royong, karenanya kohesi sosial lahir dari kebutuhan hidup bersama, pembagian kerja, dan serta tujuan kolektif dimana gotong royong persis bekerja dilevel itu, dari kampung oleh kampung untuk kampung dan serta kampung lainnya hingga berkepentingan bersama berbangsa bernegara.

Gotong Royong bukan sekadar moralitas adat, tetapi mekanisme sosial yang mengikat komunitas dan membuat kerja kolektif menjadi mungkin.

Karena itu, gotong royong bisa dibaca sebagai wajah lokal dari asabiyyah yang tidak sempit dan tidak fanatik.

Fungsi sosial atas gotong royong memperkuat kepercayaan, menurunkan biaya sosial, dan mempercepat penyelesaian masalah bersama, sehingga kohesi sosial menjadi lebih tahan terhadap konflik.

Hal itu dekat dengan Ibn Khaldun yang menekankan bahwa negara dan serta masyarakat bertahan ketika ikatan sosialnya kuat dan adil.

Dalam bahasa kontemporer, gotong royong adalah infrastruktur sosial yang menjaga masyarakat tetap kooperatif di tengah perbedaan.

Namun, jika gotong royong hanya menjadi slogan tanpa keadilan distribusi, ia bisa berubah menjadi beban sepihak bagi warga bawah sementara elite menikmati hasilnya.

Ibn Khaldun justru mengingatkan bahwa solidaritas yang sehat harus ditopang keadilan penguasa dan tidak boleh dirusak oleh kemewahan serta dominasi politik.

Sehingga gotong royong yang relevan hari ini adalah gotong royong yang institusional, adil, dan tidak menutup ruang kritik.

Relevansi gotong royong dengan kohesi sosial Ibn Khaldun adalah praktik sosial yang menghidupkan asabiyyah positif, yaitu solidaritas yang memperkuat komunitas tanpa jatuh ke kubangan fanatisme kelompok.

Dalam konteks Indonesia, gotong royong paling berguna sebagai dasar etika kebangsaan, kerja publik, dan serta daya tahan sosial ditengah polarisasi maupun Multipolar Global tsb.

“MAN JADDA WAJADA”

Tetap bersyukur, saling berbagi, saling silang bergerak bersinergi berkumpul bersolusi bersama hingga sesegera secara seksama nyata terwujud keadilan, kemakmuran bagi seluruh Rakyat Indonesia.

#salamsatujiwa
#salamnusantar@bekerja
🏃🏽‍♂️🏃‍♀️🏃🏽‍♂️🏃‍♀️🤝✊💪🥰
🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *