Kisah Ahmad Yani dan AH Nasution Tempeleng Soeharto, Tak Lama Kemudian Justru Berkuasa

Monwnews.com, Dalam sejarah panjang Republik Indonesia, hubungan antara dua jenderal besar Abdul Haris (AH) Nasution dan Soeharto bagaikan dua sisi mata uang: awalnya saling menguatkan, namun berakhir dalam jarak yang dingin dan penuh luka.

Pada masa awal karier militer Soeharto, sosok Jenderal AH Nasution adalah atasannya yang disegani. Sebagai Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD), Nasution dikenal tegas dan berdisiplin tinggi. Ia pernah memutuskan untuk memecat Soeharto dari jabatannya karena dianggap melanggar aturan dinas ketika bertugas di Jawa Tengah. Namun, keberuntungan berpihak pada Soeharto ketika Mayjen Gatot Subroto turun tangan dan menyelamatkannya dengan keyakinan bahwa Soeharto masih bisa dibina.

Siapa sangka, keputusan itu menjadi awal dari sebuah kisah penuh ironi.

Setelah tragedi Gerakan 30 September 1965, situasi politik Indonesia berubah drastis. Presiden Soekarno yang sedang terpojok memberikan Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) kepada Soeharto, memberinya wewenang untuk mengembalikan keamanan nasional. Dalam waktu singkat, Soeharto menggunakan mandat itu untuk menumpas PKI hingga ke akar, dan sekaligus mengukuhkan posisinya sebagai penyelamat bangsa.

Dari pahlawan militer, Soeharto naik menjadi Presiden Republik Indonesia pada tahun 1968. Namun di balik kemegahan kekuasaan itu, ada satu nama besar yang mulai tersisih Jenderal Besar AH Nasution.

Dendam masa lalu ternyata belum padam. Soeharto, yang pernah “diselamatkan” dan “dibentuk” oleh Nasution, kini justru membalasnya dengan pengasingan perlahan tapi pasti. Di masa Orde Baru, Nasution tidak lagi memiliki ruang untuk berkiprah. Ia dicekal dari berbagai kegiatan politik dan militer. Bahkan, dilarang tampil dalam acara kenegaraan jika presiden hadir.

Tak hanya itu, harta bendanya pun perlahan disita. Mobil kesayangannya, Holden Premier tua milik Hankam, ditarik kembali. Kehidupannya yang dulu gagah dan disegani berubah menjadi sunyi dan sederhana. Rumahnya di Jalan Teuku Umar, Jakarta, yang dulu menjadi saksi bisu sejarah bangsa, tampak lusuh dan tak terurus. Lebih memilukan lagi, air bersih di rumahnya sempat terputus, membuat kehidupannya semakin sulit di usia senja.

Namun, meski hidupnya berakhir dalam kesederhanaan, kehormatan dan keteguhan prinsip AH Nasution tidak pernah padam. Ia tetap dikenal sebagai jenderal berjiwa rakyat yang tak pernah tunduk pada kekuasaan, seberapa besar pun tekanan yang datang.

Nasution meninggal dunia pada 6 September 2000. Tapi namanya abadi dalam sejarah bukan karena kekuasaan, melainkan karena ketulusan, keberanian, dan kejujurannya dalam berjuang demi bangsa.

Sumber : kontenislam.com
Diunggah di Akun Medsos – Jhon Akbar

Exit mobile version