Monwnews.com – Pandangan Syekh Siti Jenar dan Tao tentang Kematian. Syekh Siti Jenar dan serta Tao sama sama tidak memandang kematian sebagai kehancuran mutlak. Kematian dipahami sebagai perubahan bentuk keberadaan dan serta sebagai kesempatan untuk melepaskan keterikatan pada ego.
Namun, dasar pemikirannya berbeda. Syekh Siti Jenar bergerak dalam kerangka Islam Jawa dan serta pengalaman tasawuf, sedangkan Tao memandang kematian sebagai bagian dari transformasi alamiah dalam Dao.
Kematian Menurut Syekh Siti Jenar.
Dalam tradisi yang mengaitkan ajaran dengan Syekh Siti Jenar, manusia tidak hanya dipahami sebagai tubuh jasmani. Manusia memiliki dimensi batin atau jiwa sejati yang berasal dari Tuhan dan serta pada akhirnya kembali kepada Tuhan.
Karena itu, kematian jasmani bukanlah akhir dari seluruh keberadaan manusia. Kematian merupakan pelepasan dari tubuh, dunia lahiriah, dan serta identitas ego.
Setelah keterikatan terhadap tubuh berakhir, manusia berhadapan dengan hakikat dirinya yang lebih dalam. Sejumlah kajian mengenai pendidikan tauhid Syekh Siti Jenar menjelaskan bahwa ketika manusia menghadap Gusti Allah, hal mana tidak lagi dipahami semata-mata melalui aspek jasmaninya, melainkan melalui jiwa kesejatian.
Dalam kerangka ini, manunggaling kawula Gusti dipahami sebagai perjalanan jiwa menuju kedekatan kemelekatan dengan Tuhan. Mati sebelum mati. Gagasan penting yang sering dikaitkan dengan Siti Jenar adalah mati sebelum mati. Yang dimaksud bukan kematian tubuh, melainkan kematian ego.
Manusia harus mematikan, kesombongan, keserakahan, keterikatan pada harta,keinginan dipuji, ambisi menguasai orang lain,keterikatan pada identitas lahiriah, perasaan sebagai pusat segala sesuatu.
Orang yang mampu mematikan ego sebelum kematian jasmani dianggap telah memperoleh kesadaran yang lebih tinggi. Ia tidak lagi menunggu kematian sebagai peristiwa yang sepenuhnya menakutkan, karena secara kecerdasan spiritual telah mengalami pelepasan dari keakuan.
Dalam pengertian ini, kematian bukan hanya peristiwa yang terjadi di akhir hidup. Kematian juga merupakan proses pembebasan batin yang dapat dimulai sejak seseorang masih hidup. Kematian dan manunggaling kawula Gusti. Manunggaling kawula Gusti sering diterjemahkan sebagai menyatunya hamba dengan Tuhan.
Namun, istilah ini harus digunakan dengan hati-hati. Lantas tidak harus berarti bahwa manusia secara fisik berubah menjadi Tuhan atau bahwa perbedaan antara Tuhan dan serta manusia benar benar hilang.
Penafsiran yang lebih hati-hati melihatnya sebagai keselarasan kehendak manusia dengan kehendak Tuhan, lenyapnya ego yang menghalangi kesadaran Ilahi,kembalinya manusia kepada sumber keberadaan, pengalaman batin tentang kedekatan yang sangat mendalam dengan Tuhan dan seterusnya berselancar dalam spektrum diluar jangkauan manusia.
Dengan demikian, kematian adalah saat ketika batas-batas jasmani, identitas sosial, dan serta ego manusia dilepaskan. Yang tersisa adalah hubungan terdalam antara jiwa dan Tuhan.
Mengapa tokoh Siti Jenar dikisahkan menghadapi kematiannya. Kisah kematian Syekh Siti Jenar memiliki beberapa versi. Dalam sebagian naskah, ia dihukum karena menyebarkan ajaran rahasia kepada masyarakat umum. Dalam versi lain,persoalannya dikaitkan dengan tuduhan penyimpangan ajaran manunggaling kawula Gusti. Oleh karena itu, kematian Siti Jenar memiliki dua makna.
Pertama, kematian sebagai peristiwa historis atau naratif yang berkaitan dengan konflik antara pengalaman mistik dan otoritas keagamaan.
Kedua, kematian sebagai simbol.
Siti Jenar digambarkan sebagai orang yang telah mencapai tahap ketika kematian jasmani tidak lagi menjadi kekalahan, karena ia telah mengalami kematian ego sebelumnya.
Dalam pembacaan simbolik, tokoh Siti Jenar tidak mati karena kehilangan Tuhan.
Hal ini justru mati dalam keadaan menuju kemelekatandiri pada Tuhan.
Kematian Menurut Tao.
Dalam Taoisme, terutama dalam pemikiran Zhuangzi, kematian dipandang sebagai bagian dari perubahan alam semesta.
Kehidupan dan serta kematian bukan dua realitas yang sepenuhnya terpisah, melainkan dua tahap dari proses transformasi yang sama.
Kehidupan dapat dibandingkan dengan musim semi dan musim panas, sedangkan kematian seperti musim gugur dan musim dingin. Musim dingin bukan kehancuran alam, melainkan fase perubahan menuju bentuk kehidupan yang lain.
Karena itu, kematian tidak harus dipandang sebagai musuh kehidupan. Hal itu merupakan bagian dari gerak Dao. Kematian sebagai perubahan. Istilah penting dalam pemikiran Zhuangzi adalah hua, yang berarti perubahan atau transformasi.
Kematian merupakan salah satu bentuk transformasi yang terjadi pada segala sesuatu. Tubuh manusia muncul dari proses alam dan kembali keproses alam.
Bentuk fisik berubah, namun perubahan itu berlangsung dalam keseluruhan jaringan Dao. Dalam kerangka tersebut, kematian seseorang bukanlah penghapusan mutlak dari realitas, melainkan perubahan bentuk dalam arus kehidupan yang lebih luas.
Namun, ini tidak selalu berarti bahwa Taoisme mengajarkan kehidupan setelah mati dalam bentuk surga atau alam akhirat sebagaimana dipahami dalam agama-agama monoteistik.
Yang lebih utama adalah gagasan bahwa hidup dan serta mati merupakan bagian dari satu proses kosmis yang tidak terputus.
Kisah istri Zhuangzi
Salah satu kisah terkenal dalam Zhuangzi menceritakan sikap Zhuangzi ketika istrinya meninggal. Pada awalnya ia tentu berduka, namun kemudian ia memahami bahwa istrinya telah mengalami perubahan dari satu bentuk keberadaan menuju bentuk yang lain.
Dalam membandingkan perubahan itu dengan siklus alam dan serta pergantian musim. Dari sudut pandang manusia, kematian memang menyakitkan. Akan tetapi, dari sudut pandang Dao, kematian merupakan salah satu tahap dari transformasi universal.
Kisah ini tidak berarti Taoisme melarang kesedihan. Beberapa kajian menekankan bahwa Zhuangzi tidak mendorong sikap dingin atau sepenuhnya tanpa perasaan. Kematian tetap dapat menimbulkan duka, terutama ketika yang meninggal adalah orang yang dicintai.
Akan tetapi, kesedihan itu tidak perlu berkembang menjadi penolakan terhadap kenyataan. Wu wei dalam menghadapi kematian. Konsep wu wei juga dapat digunakan untuk memahami sikap Tao terhadap kematian.
Menghadapi kematian secara wu wei berarti tidak melawan kenyataan secara sia-sia, tidak memaksakan bahwa hidup harus berlangsung sesuai keinginan pribadi, tidak menggenggam tubuh dan serta identitas secara berlebihan, menerima perubahan tanpa kehilangan kejernihan,mengikuti alur alam dengan tenang.
Hal ini tidak sama dengan menyerah secara pasif. Seseorang tetap boleh merawat kesehatan, menghindari bahaya, dan serta memperpanjang kehidupan. Namun, tidak boleh menganggap kematian sebagai kesalahan kosmis yang harus ditaklukkan dengan segala cara.
Dalam Taoisme, kebijaksanaan bukanlah hidup selamanya secara biologis, melainkan hidup selaras dengan proses yang tidak dapat dihindari.
Perbedaan Pokok Syekh Siti Jenar dan Tao memiliki kemiripan, namun perbedaannya tetap jelas.
Bagi Syekh Siti Jenar, kematian terutama berkaitan dengan kembali kepada Tuhan.
Ada arah spiritual manusia berasal dari Tuhan, menjalani kehidupan, lalu kembali kepada Tuhan.
Keselamatan berhubungan dengan penyucian jiwa, makrifat, dan serta pelepasan ego.
Bagi Tao, kematian terutama berkaitan dengan transformasi dalam Dao. Tidak selalu terdapat gambaran tentang Tuhan personal yang menjadi tujuan akhir.
Yang ditekankan adalah penerimaan terhadap perubahan dan serta keselarasan dengan tatanan alam.
Syekh Siti Jenar bertanya,
bagaimana jiwa manusia dapat kembali kepada Gustinya.
Sedang Tao bertanya,
bagaimana manusia dapat menerima perubahan hidup dan serta mati sebagai bagian dari Dao.
Keduanya sama-sama menolak keterikatan berlebihan pada ego, namun jawabannya berbeda. Siti Jenar menawarkan orientasi teistik mistik, sedangkan Tao menawarkan orientasi kosmologis-natural.
Kesamaan Keduanya adalah ;
Pertama, kematian bukan kehancuran mutlak. Pada Siti Jenar, manusia kembali kepada Tuhan. Dalam Tao, kehidupan mengalami transformasi dalam Dao.
Kedua, kematian harus dipersiapkan melalui pelepasan ego. Orang yang masih dikuasai kesombongan, nafsu, dan keterikatan akan mengalami kematian sebagai ketakutan yang mendalam.
Ketiga, hidup dan mati tidak dapat dipisahkan. Kematian bukan sesuatu yang sepenuhnya berada di luar kehidupan yang sudah terkandung dalam proses kehidupan sejak awal.
Keempat, manusia tidak sepenuhnya berkuasa atas kematian. Baik Siti Jenar maupun Tao mengkritik kesombongan manusia yang menganggap dirinya dapat menguasai seluruh realitas.
Kelima, kebijaksanaan diukur dari cara seseorang menghadapi keterbatasan. Orang bijaksana bukan orang yang tidak pernah takut, melainkan orang yang mampu memahami ketakutan tanpa dikuasainya.
Hal itu dapat melambangkan runtuhnya kerajaan, hilangnya kebudayaan, dan serta berakhirnya suatu tatanan lama.
Dalam Siti Jenar, kematian lebih bersifat mistik-personal. Fokusnya adalah hubungan kedekatan kecerdasan jiwa dengan Tuhan. Dalam Tao, kematian lebih bersifat kosmologis. Fokusnya adalah perubahan bentuk dalam alam.
Dengan kata lain, kematian dapat dilihat dari tiga sisi yaitu Siti Jenar kematian sebagai perjalanan jiwa, Tao kematian sebagai transformasi alam, sedang Darmo Gandul kematian sebagai keruntuhan tatanan budaya.
Kesimpulannya bahwa Syekh Siti Jenar memandang kematian sebagai pembebasan jiwa dari keterikatan jasmani dan serta ego menuju kedekatan dengan Tuhan.
Kematian yang paling penting bahkan harus dimulai sebelum kematian tubuh, yaitu melalui matinya kesombongan, nafsu, dan serta keakuan.
Tao memandang kematian sebagai bagian alami dari perubahan universal.
Hidup dan mati adalah dua fase dalam satu proses Dao, seperti siang dan malam atau musim panas dan musim dingin.
Sikap yang tepat bukan melawan kematian secara sia-sia, melainkan menerimanya dengan kesadaran, ketenangan, dan serta tanpa keterikatan berlebihan.
Perbedaan utama keduanya terletak pada tujuan akhir. Siti Jenar berbicara tentang kembali kepada Gusti, sedangkan Tao berbicara tentang kembali mengalir dalam Dao.
Namun, keduanya bertemu dalam satu pesan dimana manusia harus belajar melepaskan ego agar kematian tidak semata-mata menjadi kehancuran, melainkan menjadi pintu menuju pemahaman yang lebih bermagna dalam tentang keberadaan.
Kayutangan Heritage, 19/09/2026.













dalam keyakinan ajaran Hindu, manusia terdiri dari 3 badan, yaitu: badan kasar (stula sarira), badan halus (suksma sarira) dan Sang Jiwa/roh/atman (antakarana sarira). ketika saat kematian tiba maka yg lebur atau diaben adalah badan kasar atau wadag yang terbentuk dari panca maha bhuta ( unsur air/apah, api/sinar/teja, udara/angin/bayu, ruang/akasa, tanah/padat/pertiwi), badan halus dipilah dan melalui ritual dikembalikan dan menyatu ke alam/Cosmic, dan roh/atman kembali ke pangkuan Tuhan sebagai Paramatman (sumber atman segala makhluk). ya, jika diilustrasikan dengan zaman teknilogi saat ini, ada hardware, ada software dan ada energy dan jaringan yang menghidupkan dan membuat rangkaian berfungsi sesuai peruntukannya. ketika ganti perangkat karena rusak maka muatannya disimpan/dititip dulu di cloud dan energynya bagian yg terpisah(tersendiri) yang tdk terikat oleh devices. ketika beli Hp baru, dan arus disambung maka muatannya diinstal lagi dari cloud – ya serupa itulah numitis atau numadi kembali ( lahir kembali ke dunia untuk tugas suci menyelesikan “hutang-hutang kemelekatan duniawinya”) dan sampai jika karma wasana dalam kehidupannya telah mampu melunasi/menyelesikan keterikatannya/egonya dengan hal2 keduniawian, maka saat itulah ia mencapai moksa ( lepas sama sekali dari keterikatan duniawi) menyatu/manunggal dengan Tuhan/Ida Sanghyang Widhi Wasa, sehingga tidak terlahir kembali atau lepas/terbebaskan dari punarbhawa atau hukum karma phala.