Monwnews.com, Kalimat mengusir penjajah mudah, musuh bangsa sendiri sulit sangat relevan dengan kajian filsafat nilai‑etika dalam konsep Ewuh Oyo Ing Pambudi yang biasa dikaitkan dengan Kiai Kanjeng Haji. Ahmad Dahlan dan serta tradisi Jawa‑Islam.
Frasa ini menggambarkan cara berpikir yang mendalam, penuh pertimbangan, dan tidak terburu‑buru, terutama ketika berhadapan dengan persoalan batin dan sosial yang rumit.
Makna ewuh oyo ing pambudi.
Secara harfiah, ewuh oyo ing pambudi bisa diartikan sebagai sulit namun masih bisa dipikirkan atau kompleks namun tetap mungkin dipahami dengan akal budi.
Dalam filsafat praktis‑etis, ini menekankan bahwa soal moral dan sosial tidak cukup diselesaikan dengan emosi atau kekerasan, tetapi perlu perenungan, analisis, dan kebijaksanaan.
Relevansi dengan musuh bangsa sendiri.
Mengusir penjajah biasanya melibatkan ancaman eksternal yang jelas, sehingga motivasi dan sasaran perjuangan lebih mudah disatukan.
Namun, musuh bangsa sendiri justru adalah persoalan internal terhadap kepemimpinan korup, keserakahan, egoisme kelompok, dan ketidakadilan sosial yang akar‑akarnya sangat dalam dan sulit diurai.
Disinilah ewuh oyo ing pambudi sangat berguna sehingga kompleksitas ini harus dihadapi dengan pemikiran kritis, refleksi moral, dan rekonstruksi nilai, bukan hanya dengan kekuatan fisik.
Filsafat membantu mengkritisi kekuasaan, membangun kesadaran kolektif, dan mengembalikan makna kemerdekaan sebagai kebebasan etis, bukan sekadar lepas dari penjajah.
Inti filsafat dalam konteks ini dimana filsafat memberi alat refleksi untuk membedakan antara penjajah asing dan penjajahan oleh kekuasaan bangsa sendiri.
Dengan ewuh oyo ing pambudi, masyarakat diajak untuk tidak puas pada kemerdekaan formal, tetapi terus menggali nilai keadilan, kejujuran, dan keadaban dalam bernegara dan bermasyarakat.
Dengan kata lain, relevansi kajiannya adalah semakin dalam musuh bangsa sendiri , semakin dibutuhkan kedalaman budi pekerti dan serta kesauri tauladanan kepemimpinan maupun pemikiran filsafat untuk menyelesaikannya.
Beberapa contoh konflik internal bangsa Indonesia yang masih mengemuka saat ini antara lain sbb ;
1.Konflik politik kepentingan pragmatis dan kekuasaan.
Konflik internal dikepartai politik besar ( misalnya PDIP, Golkar, Gerindra ) terkait perebutan posisi elite, calon presiden/wakil presiden, dan kebijakan strategis.
Beda kepentingan dengan para pemimpin partai koalisi terkait arah kebijakan ekonomi dan reformasi politik.
2.Konflik sosial dan identitas.
Bentrokan antar‑organisasi massa ( Ormas ) berbasis agama, suku, atau ideologi, misalnya perselisihan antar‑ormas di Jawa Barat dan Jabodetabek yang kerap berbau isu agama atau politik.
Konflik keberagaman akibat perbedaan agama, etnis, dan ras, misalnya gesekan di beberapa daerah yang sensitif terhadap keberadaan kelompok minoritas ( non‑muslim, etnis tertentu ).
3.Konflik etnis dan daerah
Konflik Papua terjadi ketegangan antara kelompok separatis bersenjata ( KKSB ) dengan aparat keamanan, disertai isu diskriminasi, hak tanah adat, dan pembangunan infrastruktur.
Gesekan antar‑suku di daerah seperti Papua, Kalimantan, dan Maluku, terutama ketika terjadi pergeseran demografi akibat migrasi dan proyek pembangunan.
4.Konflik agraria dan lingkungan
Konflik lahan antara petani/masyarakat adat dengan perusahaan ( perkebunan, tambang, industri ) di Karawang, Jawa Tengah, dan sejumlah provinsi lain.
Konflik penolakan proyek pembangunan infrastruktur (jalan, bendungan, Kawasan Ekonomi Khusus) karena klaim tanah adat dan dampak lingkungan.
5.Konflik hukum dan kebijakan publik
Konflik terkait revisi UU KPK dan KUHP, serta RUU maupun UU bermasalah lainnya, yang memicu demonstrasi mahasiswa dan masyarakat sipil.
Konflik regulasi ketenagakerjaan dan investasi (misalnya Omnibus Law) yang menimbulkan protes serikat buruh dan kelompok dinamika sosial lain.
Secara umum, konflik internal ini bersumber pada keadilan sosial, distribusi kekuasaan, ekonomi, dan identitas, sehingga membutuhkan penanganan yang tidak hanya represif, tetapi juga melalui dialog, reformasi kelembagaan, dan pendidikan nilai kebangsaan.
Konflik agraria di Karawang sangat merugikan petani, terutama dalam hal kehidupan ekonomi, sosial, dan keamanan. Berikut dampak ‑ dampak utamanya sbb ;
1.Dampak ekonomi
Petani kehilangan akses ke lahan pertanian seluas ratusan hektare ( misalnya 350 ha di Kecamatan Telukjambe Barat ), sehingga tidak lagi bisa bercocok tanam dan kehilangan sumber mata pencaharian utama.
Tanpa lahan dan ganti rugi yang adil, kondisi banyak rumah tangga petani terancam kemiskinan baru karena kehilangan produksi pangan dan pendapatan.
2.Dampak sosial dan kehidupan rumah tangga
Sekitar 420 Kepala Keluarga ( sekitar 1.200 jiwa ) yang sebagian besar berstatus petani terancam kehidupan sosial, politik, dan keadilan setelah lahan mereka dirampas korporasi.
Beberapa warga terpaksa mengungsi dan tinggal di tempat penampungan sementara ( misalnya kompleks gedung Islamic Center ), sehingga struktur sosial dan jaringan komunitas petani rusak.
3.Dampak fisik, psikologis, dan keamanan.
Proses eksekusi lahan pada 2014 dikenal brutal terjadi penangkapan, luka‑luka, dan bahkan luka tembak pada petani, buruh, dan mahasiswa yang menolak eksekusi.
Petani mengalami stres, trauma, dan rasa ketidak‑terlindungi karena menghadapi aparat kepolisian bersenjata lengkap dan intimidasi dari pihak korporasi.
4.Dampak terhadap pendidikan dan fasilitas publik.
Dilahan yang menjadi situs konflik terdapat sekolah negeri dan fasilitas umum desa milik masyarakat; penguasaan lahan oleh korporasi mengancam keberlangsungan fasilitas pendidikan dan sosial ini.
Secara keseluruhan, konflik agraria di Karawang tidak hanya menggusur lahan, tetapi juga menggusur hak, martabat, dan masa depan ratusan keluarga petani.
JANGAN KAGETAN, JANGAN CEPAT KEHERANAN
Maka sauri tauladan satunya kata dengan perbuatan dalam kepemimpinan formal maupun informal dari tingkat desa, kota, regional maupun nasional sangat diperlukan.
Tetap trus bergerak bergerak bergerak berkehendak bersinergi bekerja giat keras cerdas tuntas terarah terukur bersama-sama dengan akal nalar pikir ilmu dan serta derajad keimanan hingga tiba pada waktu NYA nyata-nyata Keadilan, Kemakmuran dari oleh untuk bagi seluruh Rakyat Indonesia.
MAN JADDA WA JADDA
Jangan lupa bahagia sesuai cara dan serta gaya, saling berbagi , berkumpul saling silang bersolusi terbaiknya.
#salamsatujiwa
#salamindOnesiabekerja
🏃🏽♂️🏃♀️🕺🏻💃🤝✊💪🥰
🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩












