Gus Dur dan Jejak Para Wali: Menggapai Tuhan yang Maha Luas

Oleh: H. Tri Prakoso - Perkumpulan Pendoa Nusantara

Monwnews.com, Di sebuah sudut pasar, seorang lelaki awam bertanya kepada Nabi Muhammad SAW, “Di manakah Tuhan?” Nabi balik bertanya, “Menurutmu, di mana Dia?” Lelaki itu mengacungkan jari ke langit, “Di atas, nun jauh di sana.” Nabi terdiam, lalu mengangguk, “Benar.” Para sahabat yang mendengar terkejut. Bagaimana mungkin Rasulullah membenarkan jawaban yang seolah-olah membatasi Tuhan, Zat yang tidak terikat ruang dan waktu? Namun Nabi justru bersabda, “Bagi dia, Tuhan memang di atas, dan itu sudah cukup baginya.”

 H. Tri Prakoso - Perkumpulan Pendoa Nusantara
H. Tri Prakoso – Perkumpulan Pendoa Nusantara

Kisah inilah yang membuka artikel mendiang K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) berjudul “Gus Dur Tentang Tuhan dan Ketuhanan” di laman islami.co. Bagi Gus Dur, peristiwa itu adalah pintu masuk untuk memahami bahwa pemahaman manusia tentang Tuhan tidak tunggal, melainkan berlapis-lapis, bergradasi, dan sangat bergantung pada kapasitas spiritual masing-masing. Sebagaimana Nabi tidak menolak jawaban si lelaki pasar, demikian pula kita tidak bisa memaksakan rumusan teologis tingkat tinggi kepada mereka yang jiwanya masih berada di tangga awal perjalanan menuju-Nya.

Pandangan Gus Dur ini tidak lahir dari ruang hampa. Jika kita menyelaminya dengan lensa ilmu tasawuf, khususnya melalui dua kitab klasik rujukan utama para pencari hakikat—Jāmi‘ al-Uṣūl fī al-Awliyā’ karya Maulana Ahmad Dhiya’uddin al-Kamasykhanawi an-Naqsyabandi dan Ḥilyat al-Awliyā’ wa Ṭabaqāt al-Aṣfiyā’ karya Abu Nu‘aim al-Ashfahani—maka kita akan menemukan bahwa apa yang diuraikan Gus Dur adalah gema dari samudra hikmah para wali. Pemikiran Gus Dur tentang Tuhan yang Maha Luas, penolakannya terhadap pemahaman ketuhanan yang “sesisi”, serta seruannya agar keimanan dipertanggungjawabkan dalam kehidupan, semuanya menemukan akarnya yang sangat kokoh dalam tradisi sufi klasik.

Tangga Spiritual dan Gradasi Pemahaman

Dalam disiplin tasawuf, perjalanan menuju Allah bukanlah lompatan tiba-tiba, melainkan pendakian melalui serangkaian maqāmāt (tingkatan spiritual) dan aḥwāl (kondisi spiritual). Maqām adalah stasiun yang harus ditempuh seorang sālik (pejalan ruhani) melalui kerja keras, latihan rohani (riyāḍah), dan pengendalian diri (mujāhadah). Al-Ghazali dalam Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn menyebutkan maqām-maqām seperti taubat, zuhud, wara‘, sabar, faqr, tawakal, ridha, mahabbah, dan ma‘rifat. Setiap maqām memberikan cara pandang yang berbeda terhadap Tuhan, dan setiap pendakian membuka cakrawala baru yang sebelumnya tersembunyi.

Jāmi‘ al-Uṣūl fī al-Awliyā’, magnum opus Syekh al-Kamasykhanawi, mendefinisikan tarekat sebagai “cara tertentu yang ditempuh para pelaku suluk menuju Allah dengan menempuh berbagai tahapan (manāzil) dan maqāmāt.” Di sini, pemahaman tentang Tuhan bukanlah sesuatu yang seragam. Sebagaimana tangga memiliki anak-anak tangga, demikian pula pemahaman manusia akan Tuhannya memiliki derajat-derajat. Nabi membenarkan jawaban si lelaki pasar karena beliau memahami bahwa pemahaman “Tuhan di langit” adalah maqām yang sedang dihuni oleh lelaki itu. Beliau tidak memaksakan maqām ma‘rifat kepada orang yang jiwanya masih bergulat dengan maqām al-khawf (takut).

Hal ini dipertegas oleh Gus Dur: “Pemahaman akan hakikat Tuhan mau tidak mau lalu mengambil bentuk berbeda-beda, dan dengan sendirinya pemahaman itu sendiri lalu berderajat. Tidak sama tingkat pemahaman Tuhan dari manusia ke manusia lainnya. Karena itu, upaya pemaksaan sebuah rumusan keagamaan formal kepada semua orang secara seragam adalah tindakan yang sama sekali tidak memiliki pijakan dalam kenyataan hidup kemasyarakatan maupun dalam pemahaman keagamaan.”

Konsep gradasi ini sejatinya adalah penolakan halus terhadap dogmatisme buta yang kerap memonopoli kebenaran. Dalam kerangka sufistik, seorang yang berada di maqām al-khawf akan melihat Tuhan sebagai Zat Yang Maha Menghukum dan Maha Pemarah. Di maqām ini, hubungan dengan Tuhan bersifat mekanistik: jika berbuat baik, berpahala; jika berbuat dosa, disiksa. Gus Dur menyebutnya sebagai “pola hubungan hitam-putih, dengan spektrum sangat sempit.” Pemahaman semacam ini, meskipun sah sebagai tahap awal, akan menjadi problematis jika ia membeku dan menolak untuk naik ke maqām yang lebih tinggi. Sebab, di maqām yang lebih tinggi, Tuhan tidak lagi dipahami secara fragmentaris; Dia adalah Zat yang Maha Pengasih, Maha Pemaaf, Maha Indah, dan kasih sayang-Nya melampaui murka-Nya.

Dua Kitab Rujukan: Memotret Derajat Para Kekasih Allah

Untuk memahami lebih dalam, kita perlu menengok dua kitab klasik yang secara khusus merekam kehidupan dan ajaran para wali: Jāmi‘ al-Uṣūl fī al-Awliyā’ dan Ḥilyat al-Awliyā’ wa Ṭabaqāt al-Aṣfiyā’. Kedua kitab ini ibarat ensiklopedia kewalian yang memetakan bagaimana para kekasih Allah menempuh berbagai maqām hingga mencapai puncak kedekatan dengan-Nya. Dari sini kita bisa melihat bahwa pemikiran Gus Dur sesungguhnya adalah wajah kontemporer dari kearifan para wali yang telah berabad-abad lamanya terpendam dalam khazanah kuning.

Jāmi‘ al-Uṣūl fī al-Awliyā’ karya Syekh Ahmad al-Kamasykhanawi (w. 1311 H) adalah kitab yang secara sistematis menjabarkan sifat-sifat para wali, dari cara mereka beribadah hingga cara mereka bergaul dengan sesama makhluk. Syekh al-Kamasykhanawi, seorang mursyid Naqsyabandi, menekankan bahwa para wali tidak hanya diuji keimanannya di atas sajadah, tetapi juga di dapur, di ruang keluarga, dan di tengah keramaian pasar. Akhlak kepada Allah meliputi taqwa, tawakal, qana‘ah, ikhlas, ridha, wara‘, dan sabar. Sementara akhlak kepada sesama manusia meliputi kejujuran (ṣidq), rendah hati (tawāḍu‘), dan mencari nafkah yang halal (ṭalab al-ḥalāl). Di sini terlihat dengan jelas bahwa kewalian bukanlah sekadar pencapaian ekstatik personal, melainkan sebuah tanggung jawab sosial.

Adapun Ḥilyat al-Awliyā’ karya Abu Nu‘aim al-Ashfahani (w. 430 H) adalah ensiklopedia monumental yang menghimpun biografi 689 orang sufi-wali dari masa sahabat hingga abad kelima Hijriah. Abu Nu‘aim menulis kitab ini di tengah maraknya orang-orang yang mengaku sebagai sufi namun tidak mencerminkan akhlak kewalian. Ia menulis, “Ada sekelompok orang fasik, jahat, penghalal segala sesuatu, dan pengikut paham ḥulūl yang kafir. Mereka menisbatkan diri pada ahli ilmu, kebajikan, ketakwaan, dan menggunakan simbol-simbol kemuliaan mereka sampai masyarakat awam tertipu oleh penampilan mereka.” Baginya, wilāyah (kewalian) adalah “kejernihan dalam bermuamalah, keikhlasan dalam ketaatan, dan kesadaran dalam kesendirian.”

Definisi ini sangat penting. Sebab, ia menegaskan bahwa kewalian tidak diukur dari klaim-klaim luar biasa (karāmah), melainkan dari kejernihan akhlak dan kualitas interaksi sosial. Seorang wali sejati adalah ia yang dapat dipercaya, yang membawa rahmat, dan yang menjadi cermin kasih sayang Tuhan di muka bumi. Pemahaman inilah yang secara konsisten dihidupi oleh Gus Dur. Ketika Gus Dur membela kaum minoritas, membongkar sekat-sekat primordial, dan mengampuni lawan-lawan politiknya, ia sesungguhnya sedang menapaki jejak para wali yang direkam oleh al-Kamasykhanawi dan Abu Nu‘aim.

Dari Takut Menuju Cinta: Rabi‘ah al-‘Adawiyah dan Revolusi Maḥabbah

Salah satu tonggak revolusioner dalam sejarah perjalanan maqāmāt adalah konsep maḥabbah (cinta Ilahi) yang diperkenalkan oleh Rabi‘ah al-‘Adawiyah (w. 185 H). Dalam artikelnya, Gus Dur juga merujuk kepada sufi perempuan dari Bashrah ini. Rabi‘ah berdoa, “Ya Allah, tiadalah kusembah Engkau karena takut neraka-Mu atau tamak surga-Mu, melainkan kusembah Engkau karena Kau-lah Zat Tunggal yang patut kusembah.” Doa ini adalah manifesto cinta tanpa pamrih. Ia tidak menyembah Tuhan karena mengharap imbalan atau menghindari siksa, melainkan karena Tuhan semata.

Dalam perspektif Ḥilyat al-Awliyā’, Rabi‘ah adalah salah satu wali agung yang merevolusi cara pandang terhadap Tuhan. Abu Nu‘aim meriwayatkan banyak kisah tentang ketulusan dan kemurnian cinta Rabi‘ah. Ia tidak pernah menikah karena seluruh hatinya telah dipenuhi oleh Sang Kekasih Abadi. Ia tidak butuh surga, tidak takut neraka. Baginya, cukuplah Allah sebagai tujuan. Inilah yang oleh para sufi disebut sebagai maqām al-maḥabbah murni, yang kemudian menjadi pintu menuju ma‘rifat—pengetahuan langsung dan intuitif tentang realitas Ilahi.

Gus Dur menyebut ungkapan Rabi‘ah ini sebagai “tolok ukur ideal bagi pemahaman yang seharusnya dimiliki manusia akan Tuhannya.” Di sini Gus Dur menunjukkan bahwa puncak pemahaman tentang Tuhan bukanlah pemahaman yang dilandasi oleh ketakutan atau ketamakan, melainkan oleh cinta yang mendalam. Dan cinta ini, pada gilirannya, harus mewujud dalam tindakan nyata. Seorang yang mencintai Tuhan akan mencintai semua ciptaan-Nya. Seorang yang mengaku cinta kepada Allah tetapi membenci sesama makhluk adalah pendusta dalam cintanya. Inilah esensi yang hendak ditekankan oleh Gus Dur: bahwa keimanan yang sejati adalah keimanan yang menghasilkan kasih sayang universal (raḥmatan lil-‘ālamīn).

Ketika Tuhan Menjadi “Sesisi”: Kritik atas Formalisme Beragama

Salah satu kritik paling tajam yang dilontarkan Gus Dur dalam artikelnya adalah tentang pemahaman Tuhan yang “sesisi” (satu dimensi). Ia menulis, “Ternyata yang lebih banyak ‘dikuasai’ manusia adalah Tuhan yang ‘sesisi’: Maha Pemarah, Maha Penghukum, Maha Pembalas. Tuhan yang jarang tersenyum, karena selalu dianggap dalam keadaan siap-sedia dengan hukuman dan siksaan-Nya.”

Pemahaman Tuhan yang demikian, dalam analisis Gus Dur, menjadikan hubungan manusia dengan Tuhan bersifat perdagangan: pahala dan dosa dihitung layaknya neraca keuangan. Jika saldo kebaikan lebih banyak, surga menanti. Jika saldo keburukan lebih besar, neraka menganga. Pola pikir seperti ini, meskipun memiliki dasar dalam syariat, akan sangat mereduksi keluasan dan kemahaluasan Tuhan. Tuhan yang sesungguhnya adalah Tuhan yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, yang kasih sayang-Nya mendahului murka-Nya, dan yang rahmat-Nya meliputi segala sesuatu.

Dalam kerangka Jāmi‘ al-Uṣūl fī al-Awliyā’, pemahaman Tuhan yang sesisi ini dapat dikategorikan sebagai bentuk “terjebak” di maqām al-khawf tanpa mau melangkah ke maqām al-maḥabbah. Syekh al-Kamasykhanawi menekankan bahwa seorang sālik harus terus bergerak naik. Ia tidak boleh berhenti pada satu maqām, apalagi jika maqām itu membuatnya memandang rendah orang lain yang belum memahaminya. Justru, semakin tinggi maqām seseorang, semakin luas hatinya, semakin dalam toleransinya, dan semakin lembut tutur katanya. Inilah yang terlihat pada diri Gus Dur: seorang kiai yang meskipun menguasai seluk-beluk fikih dan teologi, justru lebih memilih menampilkan wajah Islam yang tersenyum, merangkul, dan membebaskan.

Gus Dur mengingatkan bahwa “keserbaagungan Tuhan dan kemaha-mahaan lainnya yang dimiliki-Nya, tak dapat dijelaskan secara tepat kepada manusia. Sebabnya mudah saja: keterbatasan kemampuan manusia untuk menangkap kebesaran Tuhan.” Karena itu, setiap rumusan teologis, setiap dogma, setiap definisi, pada hakikatnya hanyalah pendekatan. Tuhan melampaui segala rumusan. Dia adalah “sebagaimana dibayangkan oleh kawula-Nya” (anā ‘inda ẓann ‘abdī bī), tetapi juga “lebih besar dari apa pun rumusan manusia akan hakikat-Nya yang Mahasempurna.”

Meneladani Sifat-Sifat Tuhan: Aktualisasi Cinta dalam Kehidupan

Bagi Gus Dur, pemahaman tentang Tuhan yang Maha Baik, Maha Pemaaf, Maha Pemurah, dan Maha Pengasih tidak boleh berhenti sebagai konsep abstrak. Ia harus mewujud dalam diri manusia. Gus Dur menulis, “Karena Tuhan adalah Tuhan yang Baik, Pemaaf, Pemurah, dan Pengasih, maka manusia tidak dapat lepas dari keharusan mewujudkan dalam dirinya sifat-sifat tersebut.” Ini adalah apa yang dalam tradisi sufi klasik dikenal sebagai takhallaqū bi akhlāq Allāh (berakhlaklah dengan akhlak Allah).

Dalam Jāmi‘ al-Uṣūl, akhlak kepada Allah dan akhlak kepada sesama makhluk adalah dua sisi mata uang yang tidak terpisahkan. Seorang wali, kata al-Kamasykhanawi, harus jujur, rendah hati, dan mencari nafkah yang halal. Ia tidak boleh menipu, tidak boleh sombong, dan tidak boleh mengeksploitasi orang lain. Ini adalah pengejawantahan dari sifat-sifat Ilahi. Allah Maha Jujur, maka wali harus jujur. Allah Maha Rendah Hati (al-Mutawāḍi‘), maka wali harus rendah hati. Allah Maha Pemberi Rezeki yang Baik, maka wali harus mencari rezeki yang baik.

Gus Dur membawa ajaran ini ke tingkat yang lebih konkret. Menurutnya, keimanan kepada Tuhan harus melahirkan “religiositas yang mampu mempertanggungjawabkan keimanan kepada kehidupan.” Artinya, iman tidak boleh menjadi entitas abstrak yang mengawang-awang. Ia harus teraktualisasi dalam sikap-sikap yang menghargai kehidupan, memuliakan manusia, dan menjaga kelestarian alam semesta. “Tuntutan itu berujung pada keharusan manusia untuk senantiasa memikirkan kesejahteraan bersama seluruh umat manusia, bahkan kesejahteraan seluruh isi alam dan jagad raya ini,” tulis Gus Dur.

Di sinilah spiritualitas humanis Gus Dur menemukan bentuknya yang paling otentik. Sebagai seorang Muslim yang menghayati tasawuf, ia tidak hanya sibuk dengan urusan langit, tetapi juga sangat peduli dengan urusan bumi. Ia membongkar ketidakadilan, membela kaum tertindas, dan memperjuangkan kesetaraan. Ia melakukan semua itu bukan semata-mata karena alasan politik, melainkan karena ia meyakini bahwa itulah panggilan cinta Ilahi. Sebagaimana Tuhan mencintai semua makhluk tanpa pandang bulu, demikian pula manusia harus mencintai sesama tanpa sekat.

Kisah Wanita Saleh dan Pelacur: Paradoks Religiositas Formal

Salah satu bagian paling menyentuh dari artikel Gus Dur adalah ketika ia menuturkan kisah dari khazanah sufi. Seorang wanita saleh, yang rajin beribadah, tega membiarkan seekor kucing kehausan hingga mati. Sementara itu, seorang pelacur, dalam perjalanannya, melihat seekor anjing yang tersesat dan kehausan. Dengan penuh kasih, ia melepas sepatunya, menimbanya ke sumur, dan memberi minum anjing itu. Pada hari kiamat, wanita saleh itu dimasukkan ke neraka karena kekejamannya terhadap makhluk Tuhan, sedangkan si pelacur diampuni dan dimasukkan ke surga karena setetes kasih sayang yang ia berikan.

Kisah seperti ini banyak ditemukan dalam Ḥilyat al-Awliyā’. Abu Nu‘aim meriwayatkan berbagai cerita tentang orang-orang yang diampuni dosanya bukan karena banyaknya ibadah ritual, melainkan karena ketulusan hatinya dalam mengasihi makhluk lain. Pesannya jelas: “Ajaran formal agama belaka tidak akan mampu membentuk keimanan yang mampu meneropong kehidupan dalam segala keluasan dan kelapangannya. Ajaran formal itu masih harus dikongkretkan dalam sikap-sikap yang menghargai kehidupan dan memuliakan kedudukan manusia,” tulis Gus Dur.

Kritik ini bukan berarti Gus Dur meremehkan ibadah formal. Sebagai seorang kiai yang lahir dan besar di pesantren, beliau sangat taat menjalankan syariat. Namun, ia menolak formalisme yang kosong dari ruh. Ritual tanpa cinta adalah cangkang tanpa isi. Shalat yang khusyuk tidak ada artinya jika di luar masjid kita menindas orang lain. Puasa yang menahan lapar dan dahaga menjadi sia-sia jika kita memakan harta anak yatim. Ibadah haji yang berkali-kali tidak akan menyelamatkan jika kita menjadi penyebab penderitaan tetangga.

Dalam perspektif Jāmi‘ al-Uṣūl, keimanan yang sejati adalah keimanan yang teruji dalam ikhtilāṭ (pergaulan sosial). Seorang sālik diuji bukan hanya di atas sajadah, tetapi juga di dapur, di pasar, di jalanan. Bagaimana ia memperlakukan pembantunya, bagaimana ia berbicara kepada orang yang lebih rendah status sosialnya, bagaimana ia menyikapi perbedaan—itulah cermin sejati dari maqām spiritualnya. Gus Dur, dengan hidupnya yang sederhana, kedekatannya dengan rakyat kecil, dan keteladanannya dalam mengampuni musuh, telah membuktikan dirinya sebagai seorang sālik yang lulus dari ujian-ujian itu.

Gus Dur dan Jejak Para Wali: Sebuah Refleksi

Tidak sedikit kalangan yang memandang Gus Dur sebagai seorang wali, meskipun ia sendiri tidak pernah mengklaim demikian. Romo Benny Susetyo, seorang pastur Katolik, suatu ketika mengakui kemampuan spiritualitas Gus Dur yang mampu membaca tanda-tanda zaman, termasuk firasatnya tentang tsunami Aceh. Pengakuan serupa juga datang dari banyak tokoh lintas agama yang merasakan kedalaman batin Gus Dur.

Jika kita mengukur dengan kriteria Ḥilyat al-Awliyā’, maka kita akan menemukan banyak kesesuaian. Abu Nu‘aim mendefinisikan wali sebagai orang yang memiliki “kejernihan dalam bermuamalah, keikhlasan dalam ketaatan, dan kesadaran dalam kesendirian.” Gus Dur memenuhi semua kriteria itu. Ia jernih dalam bermuamalah: tidak korup, tidak nepotis, tidak menyalahgunakan jabatan. Ia ikhlas dalam ketaatan: mencintai Tuhan tanpa pamrih, beribadah dengan tulus. Ia memiliki kesadaran dalam kesendirian: sering menyepi, merenung, dan menulis.

Jāmi‘ al-Uṣūl menyebutkan bahwa di antara ciri wali adalah istiqamah melakukan perkara sunnah dan meninggalkan sebagian perkara mubah karena khawatir terjatuh ke dalam perkara haram. Gus Dur, yang dikenal sangat sederhana, tidak tertarik pada kemewahan, dan selalu berpihak kepada kaum papa, mencerminkan ciri-ciri ini. Ia juga sangat menjaga adab: kepada guru-gurunya, kepada orang tua, dan kepada sesama. Semua ini adalah buah dari perjalanan spiritual yang panjang, yang ia mulai dari pesantren hingga ke dunia internasional.

Namun, kewalian dalam perspektif Gus Dur dan tradisi sufi bukanlah tentang status eksklusif yang membuat seseorang merasa lebih suci dari yang lain. Sebaliknya, semakin tinggi maqām kewalian seseorang, semakin ia merasa hina di hadapan Tuhan dan semakin ia mencintai sesama makhluk. Al-faqru syakhsiyyatī, wal-iftiqāru nisbatī—kefakiran adalah jati diriku, dan keberhajatan adalah atributku. Inilah yang membuat seorang wali tidak pernah menghakimi, tidak pernah merasa paling benar, dan selalu membuka pintu maaf.

Menjadikan Tuhan Milik Anak: Pendidikan Spiritual Sejak Dini

Salah satu gagasan Gus Dur dalam artikelnya yang sering luput dari perhatian adalah tentang pendidikan ketuhanan kepada anak-anak. Ia menulis, “Tuhan yang abstrak tidak akan menciptakan religiositas, karena Ia tidak tergambar dalam keteladanan yang kongkret.” Bagi Gus Dur, anak-anak perlu diperkenalkan kepada Tuhan dengan cara yang sesuai dengan dunia mereka. Tuhan harus menjadi “milik” anak, bukan sekadar rumusan abstrak yang menakut-nakuti.

Dalam konteks ini, Gus Dur mengingatkan bagaimana Nabi memperlakukan lelaki pasar tadi. Nabi tidak memaksakan konsep tanzih (penyucian) kepada orang yang akalnya belum mampu menjangkau. Demikian pula kepada anak-anak, orang tua dan guru harus bijak. Jika Tuhan sejak awal digambarkan sebagai Zat yang menakutkan, maka anak akan tumbuh dengan kecemasan, bukan cinta. Pendidikan agama harus dimulai dengan menanamkan kasih sayang Tuhan, keindahan ciptaan-Nya, dan kemurahan-Nya, sehingga anak tumbuh dengan perasaan aman dan dicintai.

Dalam kerangka Jāmi‘ al-Uṣūl, pendidikan adab adalah tahapan pertama yang harus ditempuh oleh seorang sālik. Adab kepada diri sendiri, adab kepada sesama, adab kepada alam, dan adab kepada Allah. Jika pondasi adab ini ditanamkan dengan baik, maka ketika dewasa, anak akan memiliki spiritualitas yang matang, tidak rapuh, dan tidak reaktif terhadap perbedaan. Inilah yang tampak pada diri Gus Dur: ia adalah produk dari pendidikan spiritual yang matang, yang membuatnya tidak gamang menghadapi pluralitas dan tidak takut kehilangan identitas.

Penutup: Menuju Tuhan yang Membebaskan

Artikel “Gus Dur Tentang Tuhan dan Ketuhanan” sesungguhnya adalah sebuah manifesto spiritual. Gus Dur mengajak kita untuk berani mendaki tangga maqāmāt, meninggalkan pemahaman yang sempit dan sesisi, menuju pemahaman yang luas dan penuh cinta. Ia mengingatkan bahwa Tuhan tidak bisa dijaring hanya ke dalam satu pengertian; Dia Maha Luas, dan justru karena itulah manusia harus rendah hati. “Sia-sialah upaya menjaring Tuhan hanya ke dalam sebuah pengertian saja,” tulisnya.

Dengan membaca kembali pemikiran Gus Dur melalui lensa Jāmi‘ al-Uṣūl fī al-Awliyā’ dan Ḥilyat al-Awliyā’, kita menemukan bahwa apa yang ia sampaikan adalah kelanjutan dari tradisi para wali. Ia adalah sufi modern yang menempuh jalan cinta (ṭarīq al-maḥabbah), yang meyakini bahwa kasih sayang adalah bahasa tertinggi dari agama. Ia tidak hanya meyakini, tetapi juga menghidupinya dalam setiap langkahnya.

Gus Dur telah membuktikan bahwa spiritualitas yang mendalam tidak membuat seseorang melarikan diri dari realitas sosial, melainkan justru menceburkannya ke dalam palung penderitaan manusia untuk membawa secercah rahmat. Ia adalah cermin dari maqām al-iḥsān: engkau menyembah Tuhan seakan-akan engkau melihat-Nya, dan jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu. Dalam kesadaran itulah, Gus Dur melayani manusia tanpa lelah, membela yang lemah tanpa pamrih, dan mencintai tanpa syarat.

Pada akhirnya, Tuhan yang diperkenalkan Gus Dur adalah Tuhan yang membebaskan—bebas dari rasa takut, bebas dari sekat-sekat ego, bebas dari klaim-klaim kebenaran tunggal. Tuhan yang menjanjikan surga bukan hanya bagi mereka yang rajin salat, tetapi juga bagi pelacur yang memberi minum anjing yang kehausan. Tuhan yang melihat hati, bukan penampilan. Tuhan yang rahmat-Nya seluas langit, yang mengalir kepada siapa pun yang memiliki setetes cinta untuk sesama. Inilah warisan terpenting dari seorang Gus Dur: sebuah jalan menuju Tuhan yang tak lagi menakutkan, melainkan merindukan.

Wallāhu a‘lam bi al-ṣawāb.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *