Monwnews.com, Malang – Sebanyak 20 siswa Madrasah Aliyah Nahdlatul Ulama Gondanglegi (MANU Gondanglegi) bersama 4 guru melakukan kunjungan edukatif ke Sentra Batik Sukun, Selasa (28/4/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari pembelajaran kontekstual yang mengintegrasikan teori ekonomi dengan praktik pelestarian budaya batik khas Malangan.
Didampingi oleh guru ekonomi, Fitri Hadayani, para siswa tidak hanya mempelajari teknik membatik, tetapi juga memahami penerapan teori ekonomi dalam dunia nyata. Fitri menjelaskan bahwa kegiatan ini sangat relevan untuk menggambarkan konsep Teori Persaingan Monopolistik (Persaingan Monopolistik) melalui diferensiasi strategi produk.
”Produk batik memiliki keunikan motif dan nilai seni tinggi. Di pasar seperti ini, setiap perajin memiliki ‘mini-monopoli’ karena produknya dianggap berbeda oleh konsumen,” jelasnya.

Menurutnya, pengalaman langsung membatik memberikan pemahaman bahwa ekonomi tidak hanya berbicara soal angka, tetapi juga nilai budaya, kreativitas, dan identitas lokal. Dengan demikian, siswa tidak hanya belajar teori, tetapi juga terlibat dalam upaya pelestarian warisan budaya bangsa.
Ketua Sentra Batik Sukun, Nena Bachtian, menyampaikan bahwa saat ini pihaknya terus berupaya meningkatkan kapasitas produksi para anggota. Ia menuturkan bahwa sentra ini secara rutin menggelar Festival Batik Sukun yang kini telah memasuki tahun kelima.
“Selain kegiatan produksi harian yang dilakukan oleh anggota mayoritas ibu rumah tangga kami juga membuka paket kunjungan edukasi. Ke depan, program ini akan kami jadikan agenda rutin, mulai dari tingkat PAUD hingga pelajar, untuk mengenalkan batik sejak dini,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Ketua Asosiasi Perajin Batik Kota Malang, Ki Demang, turut hadir menyapa para siswa. Ia mengapresiasi semangat belajar generasi muda yang terlibat langsung dalam proses kreatif membatik, termasuk menggambar motif topeng khas Malangan.
Sentra Batik Sukun sendiri dikenal sebagai salah satu sentra batik unggulan di Kota Malang yang aktif dalam promosi dan edukasi batik. Selain sering menyelenggarakan berbagai acara, sentra ini juga berperan penting sebagai penjaga motif-motif khas Malangan.
Ke depan, penguatan pendampingan serta digitalisasi menjadi langkah strategi yang diperlukan untuk mengembangkan batik Sukun agar semakin dikenal luas dan mampu bersaing di pasar yang lebih besar, tanpa kehilangan nilai tradisi dan kearifan lokal. (Galih)












