Awal Para Calon Walikota

Sebuah Tulisan yang Mengungkap Tentang Jabatan Publik untuk Eksekutif Lewat Jalur Politik

Politisi dari PAN. Lookh Mahfudz

Oleh: Lookh Makhfudz
(Tokoh Politisi Partai Amanat Nasional/PAN)

POSISI jabatan diperebutkan sebagai representasi negara demokrasi, so pasti apapun dipersiapkan dalam ajang kompetisi. Jaringan dan tim sukses menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan; dibentuk dan dipersiapkan dana operasioanl. Optimalisasi sosmed tak terlupakan, dan segala aktifitas calon diupload setia saat.

Netizenpun berkomentar seenaknya, sebagai uji mental bagi si calon. Sakit hati, sebaiknya mundur saja dari seleksi alam kali yang pertama. Seakan semua tak ada yang ditutupi, terbuka aurat; karena masyarakat pemilih tak mau hanya sekedar pilih pemimpin. Tapi kadang kebablasan, netizen merambah hal yang tak perlu ditanyakan dan diketahui; aib si calon diblejeti.

Indonesia sebagai negara yang menjunjung etika dan moral tak lagi ditaati. Pancasila sebagai dasar bernegara acap kali hanya sebagai simbol ?

Demokrasi saat itu berubah menjadi demo-crazy, gila tanpa batas norma, edan tak memilah makna. Bahwa pemimpin adalah simbol dan mewakili karakter sebuah komunitas tak lagi diperhatikan. Kegilaan selanjutnya kala bicara dana? Dan akhir sentuhan sebelum masuk bilik, dengan dalih ganti upah harian, ganti libur, ganti uang rokok, ganti ngopi dll. Jadilah terhitung menjadi cost politic (biaya politik).

Terlupakan, bahkan diabaikan… semua fokus pada bagaimana menang. Pendekatan hasil lebih diutamakan, sedangkan pendekatan proses cukup menjadi syarat. Padahal, seorang calon kepala daerah, harus mempersiapkan kerangka RPJMD, yang memuat sisi politis dalam kepemimpinannya. Ide dan gagasan termaktud detail sampai estimasi pembiayaan, yang terangkum dalam APBD.

Kerangka pikir sebagai representasi dari keinginan rakyat, serta kebutuhan pembangunan kota seutuhnya seharusnya dimulai bulan mei ini. Namun media belum mengungkap sosok dan gagasannya.

Layaknya beli kucing dalam karung, kelihatan berat; berarti kucingnya gemuk, dan sebaliknya ringan menandakan kurus. Media sedikit absen membawa masyarakat kota malang lebih detail melihat calonnya. Karena sementara yang ditampilkan sosok gambar; ganteng, cantik, gemuk, kurus……untung mereka tidak dalam karung….

Idealnya, masyarakat hari ini sudah bisa melakukan tracking sosok pemimpinnya? Dari mulai parameter sederhana, sampai pada kompetensinya. Di jaman orba, ada istilah listus ( penelitian khusus ) mulai dari ideologi, beragamanya dan cara hidup di rumah; detail dirinci, hingga sosok yang dimaksud benar- benar tidak bermasalah dan layak untuk diajukan sebagai calon?

Mungkin zaman sudah berubah, dan mind set masyarakat cepat berubah seiring derasnya informasi dan media elektronik yang sulit dibendung. (**)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *