Intelejen AS Tuduh Rusia Tingkatkan Ancaman Nuklir Untuk Cegah Pergerakan Ukrania dan Sekutu Negara Barat

Monwnews.com, Intelejen Amerika Serikat (AS) menuduh Presiden Rusia Vladimir Putin kemungkinan akan meningkatkan persenjataan rudal berkemampuan nuklir jarak jauh Kremlin untuk mencegah Ukrania dan sekutu negara-negara barat

Tuduhan itu muncul ketika Rusia mengintensifkan perang berusia satu tahun dengan Ukraina dan Putin mengancam menarik diri dari perjanjian senjata nuklir utama dengan AS.

“Moskow terus menunjukkan bahwa ia memandang kemampuan nuklirnya diperlukan untuk menjaga pencegahan dan mencapai tujuannya dalam potensi konflik melawan AS dan NATO dan memandang persenjataan nuklirnya sebagai penjamin utama Rusia. Federation,” tulis badan intelijen AS dalam laporan ancaman tahunannya, Kamis (9/3/2023).

Penilaian intelijen setebal 35 halaman menyebutkan bahwa Moskow akan menjadi lebih bergantung pada senjata nuklir Akibat perkembangan yang signifikan di medan perang Rusia vs Ukrania dan sanksi-sanksi dari Barat yang telah melumpuhkan kemampuan Kremlin untuk membiayai senjatanya.

“Kerugian besar bagi pasukan daratnya dan pengeluaran besar-besaran amunisi berpemandu presisi selama konflik telah menurunkan kemampuan konvensional berbasis darat dan udara Moskow dan meningkatkan ketergantungannya pada senjata nuklir,” tulis komunitas intelijen.

Dalam proses yang sedang berlangsung, pihak Barat terus memberikan opini bahwa tindakan Putin adalah bentuk ancaman untuk menggunakan senjata nuklir dan menyebutnya sebagai tindakan yang tidak bertanggung jawab.

Bulan lalu, Putin mengumumkan dia akan menangguhkan partisipasi dalam New START, perjanjian pengurangan senjata nuklir dengan AS. Perjanjian tersebut adalah satu-satunya perjanjian kontrol senjata yang berlaku antara Washington dan Moskow setelah penarikan mantan Presiden Donald Trump dari perjanjian Pasukan Nuklir Jangka Menengah (INF).

Menteri Luar Negeri Antony Blinken menyebut sangat menyayangkan keputusan Putin dan mengatakan pemerintahan Biden tetap siap untuk bernegosiasi kapan saja dengan Rusia, terlepas dari apapun yang terjadi.

Sementara Avril Haines, direktur intelijen nasional AS, sebagaimana dilansir CNBC mengatakan kepada anggota parlemen bahwa pada perang melawan Ukrania, militer Rusia tidak mungkin membuat pencapaian besar tahun ini. Hal inilah yang mendasari tuduhan pada Rusia yang dapat menghadirkan peluang untuk tambahan ancaman nuklir.

“Putin kemungkinan besar menghitung bahwa waktu menguntungkannya dan bahwa memperpanjang perang termasuk dengan potensi jeda dalam pertempuran, mungkin merupakan jalur terbaiknya yang tersisa untuk mengamankan kepentingan strategis Rusia di Ukraina, bahkan jika itu membutuhkan waktu bertahun-tahun,” kata Haines, yang memimpin 18 badan intelijen Amerika, di hadapan Komite Intelijen Senat.

Kepala intelijen menulis bahwa pada perang Rusia – Ukrania,  Putin belum memberikan hasil yang dia harapkan dan dia salah menghitung kemampuan Angkatan Bersenjata Ukraina.

Sebagaimana diketahui, pada perang melawan Rusia ini, Ukrania mendapat bantuan logistik serta persenjataan yang sangat besar dari AS dan negara-negara kelompok Barat

Para kepala intel AS ini juga mengatakan militer Rusia akan terus menghadapi kekurangan personel, kemunduran logistik, serta tantangan moral.

Berbicara bersama Direktur CIA William Burns, Direktur FBI Christopher Wray, Direktur NSA Jenderal Paul Nakasone dan Direktur DIA Letnan Jenderal Scott Berrier, Haines juga mengatakan komunitas intelijen terus memantau ancaman nuklir Rusia. (tim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *