Monwnews.com, Malang – Alumni santriwati Pondok Pesantren PPAI Mamba’ Unnur Gading Krebet, Bululawang, Kabupaten Malang, Nurul Hasanah atau yang akrab disapa Nurul Inaker menegaskan pentingnya peran alumni santri dalam mengimplementasikan ilmu agama ke dalam kehidupan sosial kemasyarakatan yang nyata.
Pernyataan tersebut disampaikan Nurul saat menghadiri rangkaian acara sakral pengiriman doa, pembacaan tahlil, dan yasin untuk memperingati wafatnya sang guru sekaligus Pendiri & Pengasuh PPAI Mamba’ Unnur, Romo K.H. Ahmad Muhammad Nur, pada Minggu (24/05/2026) malam.

Nurul setidaknya telah mengikuti prosesi khidmat tersebut sejak hari Jumat (22/05/2026), di mana malam Senin merupakan hari ketiga dari rangkaian acara kirim doa di lingkungan pondok.
”Selain menyampaikan rasa duka yang mendalam atas berpulangnya guru kami tercinta, Romo K.H. Ahmad Muhammad Nur, sebagai alumni santriwati sudah semestinya kita melaksanakan dan mengamalkan ilmu kehidupan pondok di tengah masyarakat yang lebih luas dan kompleks,” ujar Nurul Inaker kepada awak media, Senin (25/05/2026).
Nurul, yang menghabiskan waktu lebih dari sembilan tahun menimba ilmu di PPAI Mamba’ Unnur hingga dipercaya membantu urusan ndalem (keluarga pondok) sampai saat ini, mengaku mendapat banyak bekal kehidupan berharga dari almarhum.
”Banyak hal yang kami dapatkan dari Almarhum Romo K.H. Ahmad Muhammad Nur, terutama cara mengelola kesabaran dan keikhlasan. Di luar pondok, kita akan menghadapi gelombang kehidupan bermasyarakat yang tidak lepas dari intrik dan fitnah. Kuncinya, kita harus tetap maju tegak lurus, menyatukan kata dengan perbuatan, menjaga kerukunan, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” tegasnya.
Ketika ditanya mengenai formula konkret penerapan ilmu pesantren di tengah masyarakat modern, Nurul memberikan sebuah perumpamaan yang menarik. Menurutnya, ilmu pesantren sejatinya adalah “kitab kuning yang turun ke jalan.” Artinya, ilmu tersebut tidak boleh berhenti di ruang kelas, masjid, atau mushala saja, melainkan harus dipraktikkan demi kemaslahatan publik.
Nurul memaparkan empat pilar penerapan ilmu santri dalam ranah sosial-kemasyarakatan:
1. Ilmu Fiqih: Bertransformasi Menjadi Keadilan Sosial
Fiqih yang mengajarkan hukum halal-haram dan hak-kewajiban (muamalah) harus diwujudkan dalam tindakan nyata:
- Menjadi basis penyelesaian sengketa warga (seperti pembagian air irigasi atau waris) dengan prinsip adil dan ojo dumeh (jangan sombong).
- Menjadi fondasi penggerak ekonomi kerakyatan melalui BUMDes, koperasi, atau arisan yang bersih dari sistem riba yang mencekik.
2. Ilmu Akhlak & Tasawuf: Menjadi Perekat Sosial
Nilai-nilai tawadhu’ (rendah hati), tepo seliro (tenggang rasa), sabar, dan ikhlas diposisikan sebagai peredam konflik:
- Alumni santri harus mampu tampil sebagai penengah friksi sosial antartetangga.
- Membentuk karakter generasi muda yang memiliki rasa sungkan (hormat), anti-perundungan (bullying) baik di sekolah maupun media sosial.
- Menjaga kohesi sosial agar masyarakat tidak mudah terpecah belah hanya karena perbedaan pilihan politik.
3. Ilmu Tafsir & Hadits: Menumbuhkan Kesadaran Kritis
Tradisi pesantren yang terbiasa membedah teks dan mencari konteks membuat santri tidak mudah menelan informasi mentah-mentah:
- Mendorong alumni santri menjadi benteng penangkal hoaks dan adu domba politik.
- Mengubah forum pengajian atau perkumpulan warga menjadi ruang “ngopi bareng” yang solutif untuk membahas isu-isu krusial desa, seperti penanganan stunting, bahaya judi online, hingga kenakalan remaja.
4. Manajemen Pondok: Menjadi ‘Jari-Jari Roda’ Organisasi
Pesantren merupakan miniatur negara yang memiliki struktur, kedisiplinan, dan semangat gotong royong yang kuat.
- Nilai-nilai kebersamaan (saiyeg saeka praya) ini harus ditularkan ke lembaga lokal seperti RT/RW, Karang Taruna, Posyandu, ormas, hingga organisasi politik.
- Alumni santri wajib menjadi motor penggerak pembangunan sesuai kapasitas dan kapabilitas di bidangnya masing-masing.
Nurul Inaker menyimpulkan bahwa bekal dari pondok pesantren tidak akan membuat seorang santri menjadi kaku atau eksklusif di era modern ini.
”Justru ilmu pesantren membuat masyarakat kita memiliki ‘rem’ akhlak, ‘kemudi’ fiqih, dan ‘bensin’ semangat gotong royong dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” pungkasnya.
Ia berharap kolaborasi energi positif dari aspek pikiran, tenaga, sosial, dan budaya ini dapat terus diintegrasikan secara nyata di berbagai lini kehidupan, baik dalam sektor politik, ekonomi, sosial, budaya, hukum, hingga keamanan (Poleksosbudhankam). (Red)












