UNIKNYA POLITIK DUNIA: Ketika Kepentingan Melampaui Keyakinan Ideologis dan Agama

Oleh: Chrisman Hadi - Ketua DKS, Pengajar Pengantar Filsafat.

Chriman Hadi - Ketua Dewan Kesenian Surabaya, Pengajar Pengantar Filsafat
Chriman Hadi - Ketua Dewan Kesenian Surabaya, Pengajar Pengantar Filsafat

Paradoks Aliansi dalam Politik Global

Panggung politik internasional sering kali menyajikan pemandangan yang tampak kontradiktif bagi logika awam.
Fenomena negara-negara dengan fondasi ideologi dan keyakinan agama yang bertolak belakang justru bisa menjalin kemitraan strategis erat menjadi bukti nyata bahwa dinamika global tidak digerakkan oleh sentimen ideologis spiritual melainkan oleh kepentingan2 pragmatis negara bangsa

Kasus koalisi antara Iran, Rusia en China serta aliansi historis antara Amerika Serikat dan Israel– merupakan dua studi kasus utama yang menonjolkan keunikan ini.
Fenomena ini patut dianalisis karena menantang asumsi bahwa kesamaan nilai adalah prasyarat utama kerja sama internasional sekaligus membuktikan bahwa dalam anarki sistem global; kelangsungan hidup dan kepentingan nasional adalah hukum tertinggi yang melampaui dogma agama maupun doktrin politik.

Koalisi Teokrasi-Komunis: Iran, China en Rusia

Koalisi antara Republik Islam Iran, Republik Rakyat China, dan Federasi Rusia sering disebut sebagai “aliansi kenyamanan” yang menyatukan tiga sistem nilai yang sangat berbeda: teokrasi Islam Syiah –: komunisme dengan karakteristik China dengan otoritarianisme pasca-komunis Rusia. Meskipun secara ideologis tidak memiliki titik temu—bahkan cenderung bertentangan dalam hal pandangan terhadap agama dan peran negara—ketiganya diikat oleh kepentingan strategis yang sangat kuat untuk melawan hegemoni Barat yang dipimpin oleh Amerika Serikat.

Kemitraan Strategis dan Ekonomi: China dan Iran telah menandatangani perjanjian kerja sama strategis selama 25 tahun senilai $400 miliar yang mencakup investasi besar di sektor energi infrastruktur, dan perbankan. Kesepakatan ini memberikan Iran napas ekonomi di tengah sanksi Barat, sementara China mendapatkan jaminan pasokan energi jangka panjang dan memperluas pengaruhnya di Timur Tengah melalui Inisiatif Sabuk dan Jalan (Belt and Road Initiative)
.
Kerja Sama Keamanan dan Militer: Ketiga negara ini secara rutin mengadakan latihan angkatan laut bersama, seperti latihan “Marine Security Belt di Teluk Oman dan Samudra Hindia.
Latihan ini bukan sekadar uji koordinasi taktis, melainkan pernyataan geopolitik yang jelas untuk menunjukkan kehadiran kekuatan tandingan terhadap dominasi angkatan laut AS di wilayah strategis tersebut.
Visi Multipolaritas: Aliansi ini didorong oleh keinginan bersama untuk membentuk arsitektur komersial dan politik multipolar di Eurasia.

Bagi Rusia dan China — Iran adalah mitra kunci yang membantu mengimbangi pengaruh Barat. Sementara bagi Iran dukungan dari dua kekuatan besar anggota tetap Dewan Keamanan PBB memberikan perlindungan diplomatik dan akses teknologi militer yang krusial.

Koalisi Kristen-Yahudi: Amerika Serikat dan Israel

Di sisi lain — hubungan antara Amerika Serikat dan Israel menyajikan paradoks yang berbeda namun sama kuatnya.

Amerika Serikat sebuah negara dengan populasi mayoritas Kristen Protestan — menjalin aliansi yang tak tergoyahkan dengan Israel — sebuah negara Yahudi yang secara teologis tidak mengakui Yesus sebagai Mesias—sebuah perbedaan fundamental dalam keyakinan agama.

Namun aliansi ini tetap menjadi salah satu hubungan bilateral paling stabil di dunia modern.

Kepentingan Keamanan Regiona ; Sejak Perang Enam Hari tahun 1967 — Israel telah membuktikan kapasitas militernya dan menjadi aset strategis bagi Amerika Serikat sebagai benteng melawan pengaruh Uni Soviet (dahulu) dan pengaruh Iran (saat ini) di Timur Tengah. Dukungan militer AS yang mencapai lebih dari $22 miliar dalam periode konflik terbaru menunjukkan betapa krusialnya peran Israel dalam arsitektur keamanan AS di kawasan tersebut.

Dimensi Politik Domestik dan Budaya: Dukungan Amerika terhadap Israel sering kali digambarkan sebagai agama politik yang melampaui diplomasi biasa. Hal ini diperkuat oleh dukungan dari kelompok Kristen Evangelis di AS yang melihat keberadaan negara Israel melalui lensa nubuat alkitabiah ; menciptakan basis dukungan domestik yang sangat kuat bagi para politisi Amerika.

Meskipun ada perbedaan teologis kedua negara menekankan pada nilai-nilai demokrasi dan netralitas agama konstitusional sebagai dasar hubungan mereka. Aliansi ini tetap kokoh meskipun sering terjadi perselisihan antara pemimpin kedua negara mengenai isu-isu spesifik seperti bantuan kemanusiaan atau hukum internasional.

Hierarki Kepentingan: Politik Melawan Agama dan Ideologi

Perbandingan antara kedua koalisi besar ini membuktikan tesis bahwa kepentingan politik, keamanan nasional en ekonomi menempati hierarki yang lebih tinggi daripada keselarasan ideologis atau agama. Dalam politik internasional, negara bertindak sebagai aktor rasional yang memprioritaskan stabilitas dan kekuasaan di atas sentimen spiritual.

Aspek Perbandingan: Koalisi Iran-China-Rusia Versus Koalisi AS-Israel

Fenomena ini menunjukkan bahwa perbedaan keyakinan yang paling mendasar sekalipun dapat dikesampingkan ketika ada ancaman bersama atau keuntungan ekonomi yang signifikan. Iran yang teokratis dapat bekerja sama dengan China yang ateis-komunis karena keduanya membutuhkan satu sama lain untuk bertahan dari tekanan ekonomi global.

Demikian pula Amerika Serikat dapat mendukung Israel sepenuhnya karena kepentingan strategis di Timur Tengah jauh lebih mendesak daripada perdebatan teologis mengenai sosok Mesias.

Implikasi dan Proyeksi Masa Depan Hubungan Internasional

Dominasi kepentingan politik dalam pembentukan aliansi ini membentuk kembali tatanan dunia menjadi lebih pragmatis dan transaksional. Hal ini membawa tantangan besar bagi diplomasi tradisional yang sering kali mengandalkan kesamaan nilai sebagai jembatan komunikasi. Di masa depan, stabilitas global akan sangat bergantung pada bagaimana negara-negara besar mengelola aliansi kepentingan ini agar tidak berujung pada konflik terbuka.

Munculnya blok-blok kekuatan baru seperti poros Eurasia (Iran-Rusia-China) menandakan pergeseran menuju dunia multipolar yang lebih kompleks. Persaingan geopolitik yang intens akan membuat institusi multilateral sering kali menjadi arena posisi strategis daripada tempat penyelesaian konflik yang tulus. Dalam lingkungan seperti ini, fleksibilitas diplomatik menjadi kunci en negara2 akan terus mencari mitra berdasarkan keuntungan fungsional daripada kesamaan dogma

Berdasarkan analisis dinamika geopolitik kontemporer ; dapat disimpulkan beberapa poin utama:

Pragmatisme Mengalahkan Dogma

Kepentingan nasional, terutama keamanan dan ekonomi secara konsisten menempati prioritas yang lebih tinggi daripada keselarasan agama atau ideologi dalam pembentukan aliansi internasional.

Aliansi sebagai Alat Perimbangan Kekuatan

Koalisi seperti Iran-China-Rusia terbentuk bukan karena kesamaan visi sosial, melainkan sebagai respons strategis terhadap dominasi kekuatan Barat.

Dukungan Domestik yang Kompleks

Dalam kasus AS-Israel — faktor budaya dan dukungan domestik (seperti dari kelompok religius tertentu) dapat memperkuat aliansi politik meskipun terdapat perbedaan keyakinan fundamental.

Dunia yang Semakin Transaksional

Hubungan internasional masa depan akan semakin didorong oleh kesepakatan strategis jangka panjang (seperti pakta 25 tahun Iran-China) daripada ikatan emosional atau ideologis tradisional.

Secara keseluruhan, keunikan politik dunia saat ini menegaskan bahwa di balik retorika agama dan ideologi yang sering digaungkan —mesin penggerak utama sejarah tetaplah kepentingan kekuasaan dan kelangsungan hidup negara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *