BEM Unesa Soal Bekunya BEM FISIP Unair: Praktik Opresif Ala Orde Baru

Surabaya – BEM FISIP Universitas Negeri Surabaya (Unesa) mengecam dibekukannya BEM FISIP Universitas Airlangga (Unair). Pembekuan itu buntut pengiriman karangan bunga bernada satir yang tertuju ke presiden dan wakil presiden Prabowo-Gibran.

Wakil Presiden BEM Universitas Negeri Surabaya (Unesa) Wika Sufyan Hidayat menyebut pembekuan itu sama halnya dengan praktir opresif ala orde baru.

“Pembekuan sepihak oleh Dekanat FISIP UNAIR ini cukup mempertontonkan bagaimana praktik opresif ala rezim orde baru berusaha dicoba untuk dilestarikan,” ujarnya, Senin (28/10/2024) pagi.

Menurut Sufyan, yang dilakan BEM FISIP Unair dengan mengirimkan karangan bunga satir kepada Prabowo Gibran merupakan bagian dari kebebasan berekspresi dalam bentuk kritik. Namun ia menyayangkan bila kritik dianggap sebagai pembangkangan.

Pembekuan BEM, lanjut Sufyan, tak ubahnya seperti kebijakan orde baru tahun 1970an yakni Normalisasi Kebijakan Kampus/Badan Koordinasi Kemahasiswaan (NKK/BKK).

“Muruah mahasiswa dicoba untuk dikembalikan ke dalam kelas untuk melaksanakan perkuliahan semata dengan nalar kritis yang tereduksi,” ucapnya.

Segala tindakan opresif, kata Sufyan, tidak pernah mendapat pembenaran. Menurutnya, konstitusi di Indonesia telah mengakomodasi demokrasi sebagai suatu sistem yang konkret dijalankan dalam segala lapangan kehidupan, baik dalam konteks sehari-hari maupun dalam konteks bernegara.

“Sudah saatnya mahasiswa sebagai garda terdepan dalam penentu arah dalam berbangsa dan bernegara berhak menuangkan perspektif krtitisnya di segala aspek demi terwujudnya praktik berbangsa dan bernegara yang ideal,” tandasnya.

Exit mobile version